Jika Seorang Wibu Diberi Kesempatan Bikin Iklan Sirup Marjan – Terminal Mojok

Jika Seorang Wibu Diberi Kesempatan Bikin Iklan Sirup Marjan

Artikel

Gusti Aditya

Kalau .Feast memulai lagunya dengan, “Bawa pesan ini ke persekutuanmu, tempat ibadah terbakar lagi”, maka bulan Ramadan dimulai dengan, “Bawa iklan Marjan ke karang tarunamu, lomba takbiran dimulai lagi.” Ya, untuk menyambut bulan suci bagi para muslim di seluruh penjuru bumi. Selayaknya sebuah kultur yang berjalan ajeg, iklan Marjan selalu hadir dengan sebuah definisi sempurna dari sebuah iklan, yakni menyampaikan maksud isi dan pesan kepada terget pasarnya.

Tidak main-main, dilansir dari Tirto, pada tahun 2017, Marjan jadi iklan yang tersering muncul dengan 1.256 iklan. Hal ini menjadi mengherankan karena maksimal slot iklan yang dipasang merek besar per minggu hanya 800-900 slot iklan. Jika ayah ibu kita terngiang-ngiang betapa menyeramkan film Penghianatan PKI, bisa jadi kita beberapa tahun lagi selalu terngiang-ngiang iklan Marjan di dalam kepala. Hingga muncul film-film yang mengisahkan betapa traumatisnya kita terhadap iklan Marjan. Misalnya muncul film SENYAP: The Look of Syrup. Bercanda sayang~

Hegemoni ini sebenarnya sudah berlangsung dari tahun 2003, tapi iklan ini hadir secara kontinu dan dibagi menjadi beberapa part sampai hari kemenangan tiba sejak tahun 2013. Kisahnya pun menarik untuk disimak (((walau sebagian ada yang maksa dan nggak pas))). Mulai dari mengangkat aspek kedaerahan seperti karapan sapi, sampai cerita rakyat seperti Timun Mas. Terbaru, dimulai pada pertengahan Maret ini, Marjan hadir dengan mengangkat tema payung Cerita Rakyat Jawa Barat, Purbararang.

Lalu saya pun masuk ke dalam sebuah pusaran waktu. Bagaimana seumpama Ramadan tahun 2021 saya diberi kesempatan untuk menukangi iklan sakral yang satu ini? Berbekal dari olok-olok Mas Jimi, admin Twitter Mojok yang memberi saya gelar Wibu akut, maka dengan berbekal ke-wibu-an saya yang tiba-tiba mendarah daging ini, begini jadinya.

#Bagian Satu: Tayang dari H-Satu Bulan Sebelum Puasa

Suatu masa, hidup seorang raja bajak laut yang sudah menjelajahi ribuan pulau di muka bumi ini. Dalam suatu babak kehidupan, ia ditahan oleh pikiran dan ide-idenya telah mati karena kebanyakan menulis di Terminal Mojok.

Pesaing terdekat, Seto Wicaksono si raja cabe pun geram dan meninggalkan tempat eksekusi itu dengan penuh dendam. Katanya, “Segitu saja kamu sudah nyerah? Ah, ternyata bukan hanya rindunya Dilan yang berat, tapi kirim naskah ke Terminal Mojok juga. Berani-beraninya dia menyerah begitu saja dan meninggalkan naskah-naskahku sendiri tersiksa dari campakan Cik Prim selaku redaktur.”

Sebelum eksekusi itu dimulai, raja lautan tersebut mengatakan bahwa ia menyimpan suatu harta karun yang niscaya, nilainya lebih tinggi dari gaji Seto Wicaksono si raja cabe selama menulis di Terminal Mojok.

Ia berkata sembari menyeringai menyeramkan, “Harta karunku? Carilah! Kelak, jika kau menemukannya, maka menulis di Terminal Mojok adalah sebuah kebiasaan.”

Baca Juga:  Menjadi Mulut Asbak Adalah Cara Saya Mentertawakan Kisruh Antar Penikmat Rokok

Scene beralih ke sebuah desa kecil bernama Mojokgakure, ada anak kecil yang bernama Narto yang dikucilkan karena dalam tubuhnya ada jinchuriki ekor sembilan yang dapat menghancurkan seluruh desa. Dia adalah anak yang semangat, saking semangatnya ia selalu menulis dan mengirim untuk Terminal Mojok walau hasil karyanya semua ditolak. Katanya, ditolak adalah jalan ninjaku! Suatu saat, tulisanku pasti lolos!

Suatu saat, dia bertemu dengan seorang tua renta aneh berambut emas. Ia bercerita, ia adalah superhero terkenal pada masanya. “Aku adalah All Min!” katanya dan Narto sangat terkejut. Ternyata, All Min yang selama ini ia cintai adalah seorang pria tua yang kurus kering. All Min pun memberi segenap kekuatannya untuk Narto dengan cara memberikan cairan sirup berwarna merah.

Narto meminumnya, “NA…NANI!! Minuman apa ini? Enak sekali!!!11!!”

All Min pun tersenyum. Ia mengatakan, “Kelak, kamu akan menemukan jawabannya. Carilah sendiri!”

Tiba-tiba saja, segenap kekuatan yang dinamakan quirk itu berpindah ke  tubuh Narto. “Dengan kemampuan saya yang baru ini, saya bisa gunakan untuk masuk ke Terminal Mojok!! PLUS ULTRA!!!” katanya sambil menunjuk ke atas.

#Bagian Dua: Tayang Selama Bulan Ramadan

Dari sebuah sirup berwarna merah itu, Narto semakin ndakik dalam menulis. Mulai dari tulisannya yang mewawancarai sebuah portal desa hingga menghitung pendapat Nyonya Tsunade selama bermain judi. Tulisannya itu diterima oleh redaktur Terminal Mojok. Mulai dari satu…dua…sepuluh…hingga puluhan. Hingga satu ketika, muncul kendala baru, yakni datangnya sebuah titan raksasa di Mojok Wall, gerbang paling luar Mojokgakure.

Lalu titan ini mengaum seperti ini:

“Tulisanmu sampah!!11!!1”

“Logikamu nggak mashook!!!”

Njelehi, nggak jelas!!!”

Kemlinthi… Bocah iki seng nulis artikel.”

“Mainmu kurang jauh!!!”

*Narator masuk lagi, scene berubah ke wajah galau Narto*

Narto pun menunduk lesu. Terlebih, mental menulis Narto yang sebelumnya lancar-lancar saja, kini menjadi tersendat karena titan berjenis ‘Titan Kolom Komentar Terminal Mojok’. Ternyata, titan ini adalah jenis titan paling ganas. Ia tidak menyerang fisik, tapi mental. Kolosal Titan dan Attack Titan nggak ada apa-apanya ketimbang titan ini.

Tiba-tiba ada bocah menggiring bola. Rambutnya seperti ombak Pantai Selatan. Ia mengatakan, “Maju Narto! Bola adalah teman!”

Narto pun menjawab, “Saya kan nggak sedang main bola, Tsu?”

Seorang bocah bernama Tsubasah ini pun tersenyum sambil memberikan minuman berwarna hijau kepada Narto. “Sudah, jangan banyak nanya. Minumlah!”

“Kan saya belum nanya, Tsu?”

Kemudian Tsubasa pun berlari bersama rekan satu timnya. “Ikuze minna!” katanya dengan penuh semangat.

Narto pun akhrnya meminum cairan berwarna hijau tersebut. Mendadak, kekuatannya seperti dirasuki oleh perasaan yang harus dimiliki oleh setiap penulis di Terminal Mojok, yakni keteguhan hati dalam membaca kolom komentar tulisannya.

Baca Juga:  5 Aktivitas yang Bisa Jadi Goals Kamu di Bulan Ramadan (Selain Tidur)

#Bagian Tiga: Tayang Pas Lebaran

Narto pun perlahan jenuh menulis. Ia sudah membahas apa pun dan memeras otaknya sedemikian rupa. Ia sudah membahas mengapa makan nasi itu enak, kalau saya berak dengan cara jongkok emangnya kenapa??!!? (ya nggak kenapa-kenapa, sih). Sampai-sampai ia membahas, kenapa manusia kalau ngomong harus mangap? Dengan bahasan ilmiah dan dimasukin unsur komedi padahal nggak lucu-lucu amat. Ia pun lelah. Dengan memasuki dunia issekai, ia bertemu dengan kakek kura-kura.

Kakek kura-kura mengatakan, “Aku harus mengumpulkan sembilan bola naga jika ingin mewujudkan mimpi. Kamu mah gampang, tinggal cari satu lagi ramuan yang bisa membuat kamu semangat untuk menulis.”

“Apa itu, Senpai?” kata Narto. “Apakah saya harus jadi shimigami dulu?”

“Baca semua tulisan raja cabe!” kata kakek kura-kura.

“HUAAAA,” Mak tratap Narto pun memunculkan Mode Jinchuriki. “Sa…saya harus baca 249 artikeeeeeeeeeellllll???”

“Hanya dirinya yang tahu ramuan terakhir yang diberi petunjuk oleh raja bajak laut.”

Yoshh!!11!!”

*Narator lagi* Narto pun mencari sosok raja cabe tersebut di kolom pencarian Terminal Mojok. Ia menemukan beberapa klu untuk memecahkan misteri raja bajak laut yang pensiun dari menulis di Terminal Mojok.

Ia menemukan ini, betapa tercengangnya dia. Ternyata menulis di Terminal Mojok itu harus memiliki beberapa sifat. Yakni; penasaran, kirim lebih dari satu biar peluang naskah yang tayang lebih besar, biar bisa dipamerin, harta, sarana untuk terus belajar, yah namanya juga coba-coba, dan pergi ke Raftel untuk menemukan jawaban raja bajak laut teman deket saya. (((Oke, yang terakhir sangat maksa biar ceritanya tetap runtut))).

Narto pun akhirnya sampai ke ujung dunia bernama Raftel. Di sana, ia melihat sebuah minuman berwarna biru. Tiba-tiba petasan muncul, semua tokoh mulai dari All Min hingga kakek kura-kura keluar dari balik tirai. “Yeayy, selamat Anda kena prank!!! Yeayy!”

“Jancuk!” kata Narto dengan begitu loss-nya. Ia pun minum air yang berwana biru itu. Lalu ia muntah-muntah.

Lalu muncul credit scene yang bertuliskan, “MARJAN—MINUMAN BERWARNA MERAH DAN HIJAU. WARNA LAIN? BIRU? PUTIH? UNGU? ADA!!! TAPI NGGAK ENAK!!! SOALNYA YANG MENGOLAH RIVAL KITA HEHEHE!”

BACA JUGA Mengapa Air Putih Kalah Pamor Dibanding Es Teh Manis? atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

---
20


Komentar

Comments are closed.