Jembatan Suramadu dibangun untuk tujuan pemerataan. Khususnya pemerataan antara Jawa dan Madura. Dengan adanya Suramadu, akses orang luar ke Madura bisa lebih mudah begitupun sebaliknya. Sehingga pertumbuhan ekonomi Madura dapat meningkat melalui berbagai cara, mulai dari kunjungan wisatawan luar Madura hingga investasi pembangunan di Madura.
Namun sejak 2009 sampai 2025, Madura tak kunjung menunjukkan geliat ekonomi yang tumbuh. Kenyataannya justru sebaliknya. Sektor ekonominya malah terlihat lesu dan mati segan hidup tak mampu. Secara kasat mata, hal ini bisa dilihat dari bagaimana kondisi lapak penjual jajanan dan oleh-oleh khas Madura di sepanjang Suramadu. Kumuh, sepi, dan tak terawat. Bahkan sudah banyak yang tumbang dan tutup permanen.
Mengapa ini terjadi? Saya melihat ada 3 sisi gelap Jembatan Suramadu bagian Madura, sehingga para wisawatan luar Madura, enggan berkunjung atau mengulangi kunjungannya ke Pulau Garam ini.
#1 Akses jalan hancur
Sebenarnya, dari sisi wisata, Madura nggak miskin-miskin amat. Misalnya yang paling menonjol, Bangkalan Madura punya wisata religi terkenal, yaitu wisata makam Syaikhona Kholil. Belum lagi dengan wisata kuliner seperi Bebek Sinjay, Bebek Rizki, dan Bebek Songkem. Enak-enak itu. Lebih-lebih Madura bagian timur seperti Pamekasan dan Sumenep juga menawarkan banyak wisata pantai yang indah.
Namun yang banyak dikeluhkan banyak orang sebagai wisatawan setelah berkunjung ke Madura adalah jalanan yang hancur. Jalanan Suramadunya memang mulus. Tapi jalan akses penghubung Suramadu ke daerah wisata nggak ada yang mulus.
Paling parah misalnya jalan akses dari Desa Sukolilo sebelah timur Jembatan Suramadu. Setelah berwisata ke Pantai Rindu yang ada di Kecamatan Labang, biasanya para wisatawan pulang menuju Suramadu melalui jalur akses Sukolilo sebelah Timur.
Sejak Jembatan Suramadu berdiri hingga hari ini, jalanan itu tidak pernah mulus. Bahkan disebut jalanan pun tidak layak. Lebih mirip rute belum jadi. Isinya hanya tanah ditambah bebatuan yang menonjol dan berpotensi merusak shockbreaker dan band motor/mobil. Apalagi kalau hujan, ambyar. Risiko terperosok bahkan terjungkal karena licin.
Ironisnya, di pintu masuk ada portal pemungutan sumbangan yang entah uangnya untuk apa. Sesulit itukah proposal untuk perbaikan akses jalan masuk menuju Jembatan Suramadu. Tolonglah, jangan muluk-muluk membangun hal besar tapi nggak bermanfaat seperti IKM (Industri Kecil Menengah). Mulai dari yang kecil dulu saja tapi manfaat besar, yaitu akses jalan dari Jembatan Suramadu ke lokasi-lokasi spesifik wisata di Madura.
Baca halaman selanjutnya: Pengendara ngawur yang bikin kapok…



















