Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan Sampai Program Kreativitas Mahasiswa Menjadi Program Korupsi Mahasiswa

Hepi Nuriyawan oleh Hepi Nuriyawan
12 Agustus 2020
A A
program kreativitas mahasiswa mojok

program kreativitas mahasiswa mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Hampir semua mahasiswa mengenal dengan istilah “Proposal PKM”. Ya, program kreativitas mahasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia lewat Dana Pendidikan Tinggi (Dikti) yang bertujuan untuk mengasah seberapa jauh kontribusi mahasiswa melalui hasil kreativitasnya masing-masing untuk keberlangsungan hajat masyarakat Indonesia.

Namanya juga PKM, program kreativitas mahasiswa, jelas harus murni dari buah pikiran setiap mahasiswa. Dikerjakan dengan kelompok beranggotakan 3-6 mahasiswa, dengan bimbingan seorang dosen yang dimintai pertolongan. Jika beruntung, setiap kelompok akan mendapatkan Dana Hibah Dikti maksimal Rp. 12.500.00,-. Bahkan, jika dianggap layak sesuai standar yang ditentukan oleh Dikti, maka bisa diikutsertakan dalam kejuaraan PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) yang dilaksanakan di universitas yang berbeda-beda tiap tahunnya.

Cuma masalahnya, banyak sekali kicauan dari beberapa mahasiswa tentang program kreativitas mahasiswa ini yang sering kali dipelesetkan dengan istilah “Program Korupsi Mahasiswa”. Bukan rahasia umum sebenarnya untuk istilah pelesetan ini. Bener kok ada praktik koruptif di dalamnya.

Misalnya saja pada saat pembuatan proposal. Semua harga bahan yang tercantum akan digelembungkan. Entah cuma ratusan ribu atau berkali-kali lipat. Belum lagi bahan-bahan yang sebenarnya tidak diperlukan dalam kriteria penelitian atau lainnya, dimasukan ke dalam unit barang dan jasa. Jadi, istilah bekennya adalah terjadi penggelembungan dana.

“Semua itu dilakukan agar dana yang cair bisa menyentuh angka maksimal (Rp. 12.500.000,-).” Sebuah alasan sangat klasik bagi para mahasiswa yang punya pengalaman menyusun Proposal PKM tersebut. Saya sendiri pernah mendapat saran dari kakak tingkat untuk digelembungkan dananya. Sebagai junior yang tidak tahu apa-apa tentu saja tidak bisa menolak sarannya. Hehe.

Dari penyusunan proposal saja sudah “dilatih” untuk membuat proyek yang cukup koruptif. Bagaimana dengan yang lainnya?

Penunjukkan dosen yang tidak sesuai dengan bidangnya bisa dikatakan sebagai cikal-bakal PKM yang koruptif. Misalnya jenis Program kreativitas mahasiswa yang dipilih adalah Penelitian Eksakta, alias masih berbau-bau MIPA. Tapi, yang dipilih menjadi dosen pembimbing justru dosen hukum. Coba hubungkan keterkaitan ilmu hukum dengan penelitian MIPA? Nggak ada nyambung-nyambungnya.

Alasan pemilihan dosen pembimbing PKM yang paling banyak, “Dosennya enak ditemui sama enak diajak bimbingan.” Kesalahan penunjukkan dosen pembimbing yang tidak masuk sesuai bidangnya tentu akan menimbulkan beberapa hal. Seperti tidak tahu bagaimana cara membimbing mahasiswanya, sampai cara mengawasi mahasiswa di tingkat awal yang sangat kurang. Semua cukup dengan kalimat, “Ya, bagus bagus. Lanjutkan saja.”, tanpa melihat eksistensi program yang akan dijalankan.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

Tentu saja ini menjadi angin segar bagi mahasiswa yang cukup mata duitan. Lah aman kok. Dosen sudah setuju. Tinggal dinilai layak didanai atau tidak. Syukur kalau tidak didanai. Nah kalau diterima oleh Dikti? Berapa juta uang negara yang mungkin tidak terserap 100% untuk biaya menjalankan program? Itu baru satu kelompok.

Jika dinilai layak untuk didanai, langkah selanjutnya adalah melanjutkan program untuk dijalankan. Kalau penelitian eksakta MIPA, bisa lanjut ranah laboratorium. Kewirausahaan bisa lanjut mencicil barang-barang untuk dagangannya. Nah disinilah praktik korupsinya mulai berjalan.

Ada yang melaksanakan penelitian hanya sekedar formalitas belaka. Ada juga hanya untuk patut-patut saja dengan adanya dokumentasi. Untuk pembelian bahan jelas ada, tapi tidak digunakan sebagaimana mestinya. Atau tidak dibelikan sebanyak apa yang ada di rancangan penelitian.

Hal ini bermuara pada jumlah dana yang tidak didanai sepenuhnya. Mungkin 70%, 80%, atau 90%. Bagi yang mendapat “jackpot” tentu bisa didanai 100%. Tapi hal ini bukanlah suatu alasan untuk mengerjakan proyek sendiri secara asal-asalan. Proyek yang didanai oleh pemerintah secara “penuh” itu sudah cukup membuat kita harus lebih-lebih bersyukur.

Setelah berjalan proyek, tentu ada semacam “Monitoring dan Evaluasi (Monev)” dari pihak internal (Universitas) maupun eksternal (dikti). Keduanya berperan penting dalam keberlanjutan proyek yang sudah disetujui. Sudah sejauh mana proyek yang dijalankan. Kendala apa saja yang ditemui saat berjalannya proyek. Semua dibahas di sana.

Yang menjadi persoalan, dosen yang mengevaluasi bukanlah dosen yang memiliki basic keilmuan seperti yang dimonevkan. Saya pernah mengalami hal tersebut ketika monev eksternal, yang jika ini lolos bisa lanjut PIMNAS. Saya dan teman-teman mengajukan proyek penelitian eksakta bidang kimia fisika. Akan tetapi, yang menjadi penguji adalah seorang dosen yang memiliki gelar S.Sn. Ada yang tahu gelar apakah itu? Iya benar, Sarjana Kesenian. Coba, apa nyambung? Jelas sama sekali tidak sinkron dengan penelitian kami. Apakah mungkin beliau juga memiliki peminatan terhadap ilmu IPA, khususnya Kimia Fisika? Saya pun tidak mengerti.

Hasilnya? Tentu saja kami mendapat apresiasi tinggi sekali dengan hasil penelitian yang bisa kami bilang “biasa aja”. “Bagus-bagus penelitiannya. Alur sampai hasilnya sudah jelas.” Sepatah kata dosen eksternal tersebut yang saya ingat saat monev eksternal saat itu. Beberapa minggu setelahnya, kami mendapat pengumuman bahwa kami terpilih menjadi salah satu kelompok yang lolos PIMNAS dan berhak mewakili Universitas kami di ajang perhelatan mahasiswa tertinggi di negeri tersebut. Ketua kelompok kami sampai heran, “Kok kaya gini bisa lolos PIMNAS ya hep?”. “Ah rejeki kita ini mah. Udah Disyukuri saja.” Jawabku yang cukup heran dan diselingi rasa syukur.

Privilege yang diterima banyak. Mulai dari insentif dari Dikti sampai ada uang saku dan bimbingan dari pihak universitas. Jumlahnya lupa, intinya banyak. Maklum, bagi mahasiswa yang memegang uang 200 ribu saja sudah dianggap “wah” kala itu. Tentu saja, keuntungan lain yang diperoleh adalah banyak kawan dari universitas lain yang bisa kita ajak kenalan.

Jumlah kelompok yang korup di program kreativitas mahasiswa ini tentu tidak semuanya. Tapi jumlahnya bisa saja lebih banyak dari yang dibayangkan. Apalagi praktik-praktik di atas sudah menjadi hal umum yang dilakukan. Jangan sampai perhelatan program kreativitas mahasiswa ini menjadi ajang melatih mahasiswa untuk menjadi orang-orang yang koruptif di zamannya. Penggelembungan dana sampai pemilihan pihak-pihak yang kurang kompeten di bidangnya.

Alangkah baiknya pengawasan sedari awal dari pemilihan dosen pembimbing dan penyusunan proposal harus dilakukan secara ketat. Minimal dari pihak universitas. Repot sedikit nggak masalah, yang penting ini menjadi tahap awal negeri yang bebas korupsi. Sehingga nanti terpilih kelompok-kelompok mahasiswa yang betul-betul berinovasi dan berkreasi demi pembangunan negeri ini. Syukur bisa menyejahterakan masyarakat Indonesia.

BACA JUGA Hal-hal yang Jangan Dilakukan Saat Mengambil Makanan Prasmanan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2020 oleh

Tags: KorupsiMahasiswaprogram kreativitas mahasiswa
Hepi Nuriyawan

Hepi Nuriyawan

Karyawan Swasta. Esais dari Purwokerto

ArtikelTerkait

Jasa Delivery Makanan Sekitar Kampus: Ide Bisnis Sederhana buat Mahasiswa, Bisa Cuan hingga 2 jutaan

Jasa Delivery Makanan Sekitar Kampus: Ide Bisnis Sederhana buat Mahasiswa, Bisa Cuan hingga 2 Jutaan

1 Februari 2025
3 Hal yang Membuat Mahasiswa Semarang Iri dengan Mahasiswa Jogja

3 Hal yang Membuat Mahasiswa Semarang Iri dengan Mahasiswa Jogja

4 April 2025
Bikin Plang, Proker KKN Primitif yang Paling Nggak Guna

Bikin Plang, Proker KKN Primitif yang Paling Nggak Guna

23 September 2022
Ormas Tukang Palak Hambat Investasi, Indonesia Rugi 135 Triliun (Pexels)

Ormas Oportunistik Tukang Palak Adalah Rayap Bagi Iklim Investasi Rugikan Indonesia Sampai 145 Triliun

11 Maret 2025
Mengapa Kebanyakan Penerima Beasiswa Kurang Mampu Bergaya Hidup Hedonis?

Mengapa Kebanyakan Penerima Beasiswa Kurang Mampu Bergaya Hidup Hedonis?

1 Februari 2020
Makan di Warteg Harusnya Menduduki Puncak Klasemen Rekomendasi Kuliner terminal mojok.co

Warteg: Romantisme dalam Sepiring Nasi dan Keakraban dengan Mbak Penjualnya

14 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

Setelah Tahu Gaji HSE, Saya Langsung Mengubur Mimpi Saya Jadi Dosen. Peduli Setan pada Ilmu Pengetahuan, Dompet Tebal Adalah Kunci!

28 Januari 2026
Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang (Foto milik Hammam Izzudin)

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

26 Januari 2026
Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

29 Januari 2026
Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

Universitas Terbuka (UT) Banyak Prestasinya Itu Bukan Kebetulan, tapi Memang Sistemnya yang Keren

31 Januari 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co

Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep

30 Januari 2026
Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto” Mojok.co

Dear Aktor Ibu Kota, Tidak Semua Dialog Bahasa Jawa Harus Berakhiran O seperti “Kulo Meminto”

25 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.