Hal-hal yang Jangan Dilakukan Saat Mengambil Makanan Prasmanan

Artikel

Kartika Sari Situmeang

Meski masih dalam suasana pandemi, rasanya acara kumpul bareng keluarga besar dalam rangka hari raya tetap susah untuk dilewatkan. Apalagi tahun ini lebaran Idul Adha jatuh di akhir minggu, jadi makin paslah waktunya untuk bercengkerama. Daripada berwisata ke tempat umum, lebih baik berkumpul saja di satu tempat yang relatif lebih aman, tentu dengan tetap menerapkan protokol standar ya, gaes.

Ngomong-ngomong soal kumpul keluarga, pastilah acaranya makan bersama. Biasanya menu disajikan dengan sistem prasmanan. Bebas ambil sendiri dan makan sepuasnya. Tapi bukan berarti bebas sesuka hati dan tidak memikirkan orang lain ya.

Saya yakin, hampir semua dari kita sebenarnya sudah tahu dan paham bagaimana etika makan prasmanan. Namun terkadang ketidakpedulian memang lebih mendominasi. Nah itu tuh yang nyebelin pake banget, contohnya seperti berikut ini:

Ambil makanan pakai sendok atau penjepit

Please gaes, ambillah makanan pakai penjepit atau sendok saji yang telah disediakan. Kalau semisal si penjepit hilang rimbanya, ambil sendok yang baru lagi deh. Janganlah kau nodai sepiring makanan itu dengan mengambil makanan langsung dengan tanganmu..

Ini bukan soal pandemi corona dan semua harus steril lho. Ibarat peribahasa, karena nila setitik rusak susu sebelanga, karena tanganmu yang nggak jelas status kebersihannya, satu piring jadi ternodai. Bayangkan kalau kamu melihat kejadian itu di depan mata, dijamin langsung ilfil.

Bayangin deh, makanan prasmanan itu dipegangin banyak orang. Bayangin dulu.

Kebersihan adalah hal yang utama

Mbok kalau pegang penjepit atau sendok saji itu pakai tangan yang bersih. Misal, kamu makan pakai tangan kanan, ya berarti pegang penjepitnya pakai tangan kiri yang bersih. Nggak susah kok. Pindahkan saja piringnya ke tangan kanan, tangan kirimu akan bebas bermanuver. Jangan tinggalkan noda dan minyak-minyak di penjepit yang bakal dipakai orang lainlah. Jorok tauk.

Baca Juga:  Milenials, Jangan Sampai Kita menjadi Generasi yang Krisis Etika Berkomentar

Jangan terlalu pilih-pilih

Pakai acara pilih-pilih makanan padahal banyak yang nungguin. Di bagian opor, ayam dibolak-balik cari potongan yang disuka. Di bagian sayur cap cay, yang dipilih cuma wortel dan basonya aja. Di bagian rendang, malah milih laosnya. Ribet kan.

Please, kamu nggak hidup sendirian di dunia antrian ini. Kalau lagi sepi mah, bebas. Mau milih sambil joget muter-maju-mundur akang gendang juga bisa.

Tapi kalau ada orang lain yang nunggu, ya sudahlah, ambil saja yang paling mudah. Kalau masih kurang cocok, ya nanti kan bisa ambil lagi, bebas mah kalau di prasmanan.

Jangan asal cocol sambel

Kalau ada sambal jangan langsung dicocol di tempatnya, woi. Mending kalau sekali nyocol langsung hap. Ini cuma digigit separuh, eh nyocol lagi. Duhai durjana, ya kan sambalnya jadi bekasnya kamu dong. Pen nangis liatnya.

Ambil dulu sambal secukupnya ke piring kamu, baru deh bebas dicocol berapa kali pun sesuka hati.

Dekatkan piring, biar nggak tumpah

Kalau sedang mengambil makanan, dekatkan dong piring ke piring saji. Biar gak tumpe-tumpe dan bikin berantakan di meja, bahkan jatuh ke lantai. Meski ada yang tugasnya sigap membersihkan, alangkah eloknya kalau kita bisa mencegahnya. Mungkin nggak ada untungnya buat jij, tapi juga nggak ada ruginya lho berbuat baik.

Ambil makanan secukupnya

Ini yang paling bikin gemes sih. Ambil makanan secukupnya yang kamu mampu habiskan. Jangan sampai membuang makanan, please. Bisa kan mengira-ngira kemampuan perutmu sendiri? Kalau misalnya pengen cobain semuanya dari mulai sayur dan lauk, lalu aneka kue manis dan es buah, ya berarti ambil porsi sedikit-sedikit saja. Biar bisa masuk itu semua yang mau dicobain.

Yang sering terjadi adalah, di awal semangat banget pengen cobain semuanya. Kalau perlu sekaligus ambil dua piring, piring kesatu buat makanan utama, piring kedua buat kue dan puding. Untuk minuman, ambil aneka jus, dan es buah. Alasan klisenya, malas antri-antri lagi.

Baca Juga:  Nggak Harus Nunggu Gila Untuk Datang Ke Psikolog

Kalau bisa menghabiskan sih nggak apa-apa banget ya, beneran. Malah senang atuh si tuan rumah kalau konsumsi habis dimakan, berarti pagelaran sukses berat.

Nah yang bikin sedih itu, makanan di piring cuma dicomot-comot saja buat tester. Gak suka, tinggal. Coba yang lain lagi. Gitu aja terus sampai semua selesai dicomot. Malahan yang lebih aneh lagi, karena sudah kenyang nyomot-nyomot, ada yang blas nggak disenggol. Ini ibarat di-ghosting kalau kata anak sekarang mah, sudah diambil tapi nggak diapa-apain, tanpa penjelasan.

Pas diberesin, dianggap makanan sisa dong, dan akhirnya dibuang. Sayang banget kan? Apa tega membuang-buang makanan begitu, sementara harusnya bisa dimakan sama orang lain? Kalau aku sih nggak tega, hiks…

Kalau mau sensitif sedikit, harusnya konsep prasmanan sudah meniadakan kegiatan buang-buang makanan lho. Karena kita sendiri yang ambil makanan yang akan kita makan. Kita yang tahu ukuran kita.

Berbeda dengan konsep piring terbang di daerah Jawa Tengah, misalnya. Karena sudah “dijatah” kita jadi nggak bisa menyesuaikan dengan kemampuan perut kita. Mau nggak dimakan, sungkan. Dihabisin juga nggak kuat.

So, yuk lebih peduli lagi. Kelihatannya hal-hal di atas remeh bin receh sih ya, tapi sekali lagi, berbuat kebaikan itu nggak ada ruginya, gaes.

BACA JUGA Berdamai dengan Corona Sama Saja Berdamai dengan Pemerintah Inkompeten atau tulisan Kartika Sari Situmeang lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
16


Komentar

Comments are closed.