5 Alasan Masuk Akal Masakan Keasinan selain Ingin Cepat Menikah

Artikel

Avatar

Masakan keasinan adalah fase yang sering dilewati orang yang sedang belajar masak. Rata-rata hal tersebut terjadi saat memasak masakan untuk orang-orang tercinta, seperti orang tua, pacar, atau teman-temannya.

Masalahnya, setiap ada masakan yang keasinan pasti akan beredar rumor, “Duh keasinan niih. Pasti udah kebelet banget pingin nikah tuh. Hahahaha.” Entah dari mana tuduhan itu sumbernya. Tentu tuduhan tak bertanggung jawab itu bisa menyebar begitu cepat dari seantero keluarga sampai ke grup whatsapp.

Ada mitos kalau masakan keasinan itu karena terlalu membayangkan orang tercinta saat memasak, jadi khilaf dalam penggunaan garam. Ada juga yang menyatakan bahwa keasinan adalah tanda protes sang anak cewek kepada orang tuanya karena belum diijinkan menikah.

Akan tetapi, sampai saat ini belum ada penjelasan konkret nan ilmiah dari mitos tersebut. Ada beberapa alasan yang lebih masuk akal terkait masakan keasinan tidak melulu soal kebelet ingin menikah.

Grogi karena baru belajar masak

Grogi adalah alasan mainstream penyebab masakan keasinan bagi kaum cewek yang baru belajar masak. Mereka masih meraba-raba bagaimana rasanya garam, bagaimana komposisinya, dan lain-lain. Terkesan kurang pede untuk menjalani salah satu kegiatan wajib bagi seorang perempuan. Apalagi masak untuk mamas tercinta, jauh lebih grogi daripada groginya bertemu artis korea.

Tapi jujur saja, alasan tersebut kurang valid kalau dipakai.

Padahal di tutorial masak sudah diberikan panduan kalau bahan-bahan yang dimasak segini, maka garamnya segini. Kalaupun tutorial tidak mempan, kan masih ada lidah untuk merasakan. Atau minta tolong orang lain seperti bapak, ibu, kakak, atau adik untuk mencicipinya. “Asinnya sudah pas belum?”. Usahakan mereka yang mencicipi berperilaku jujur dan adil. Kadang sering menjebak dengan kata “Mantap. Udah Pas. Maknyus!” Tapi setelah di hidangkan, ternyata asinnya luar biasa, mengalahkan es teh manis.

Tidak bisa membedakan sendok makan dan sendok teh

Coba ada tidak yang sampai sekarang masih belum tahu bedanya apa sendok makan dan sendok teh?. Karena faktanya masih ada cewek yang sudah cukup umur untuk bisa memasak, tapi tidak tahu wujud dua macam sendok tersebut. Cewek tersebut adalah temanku sendiri.

Baca Juga:  Laporan Praktikum kok Masih Aja Tulis Tangan, sih?

Sebut saja Rina (nama samaran). Pernah suatu waktu saya bertiga membantu dia masak di rumahnya. Kami memasak masakan yang belum pernah dimasak. Akhirnya kita melihat resep masakan di internet. Saat mencapai step “Masukan satu sendok teh garam”, dengan pedenya Rina mengambil sendok berukuran besar dan mengambil garam penuh sesendok. Spontan salah satu dari kami setengah teriak, “Rinaaa, itu satu sendok makan atuh. Nanti asin banget!”. Sontak Rina kaget sambil menyingkirkan barang yang nyaris membuat rusak masakan kami.

“Aku udah biasa bikin teh ya pakai sendok itu kok.” Jawab Rina dengan polosnya. Dikiranya sendok teh sama saja dengan sendok makan.

Gini yah, Fyi, sendok makan itu biasa yang dipakai buat makan. Ukurannya besar. Nah kalau sendok teh itu ukurannya kecil. Biasanya sebagai takaran standar pembuatan teh. Walau sama-sama bisa bikin teh, secara nama, bentuk, dan fungsi beda. Ingat yah?

Susah membedakan antara garam dan gula

Masakan keasinan sering terjadi karena factor ini. Biasanya karena bentuk toples yang sama, tapi tidak dikasih label nama. Sering terjadi bagi yang jarang sekali pergi ke dapur. Niat ambil gula, ternyata garam. Begitu pula sebaliknya.

Sebelum memulai masak, cek dulu dengan cara cicipi sedikit. Nggak akan mati kok walau mencicipi seujung kuku. Kecuali kalau kamu mencicipi asam siandia. Bisa-bisa mulut yang malah berbusa.

Alangkah baiknya kalau sebelum masak kasihlah label nama biar nggak tertukar. Hitung-hitung membantu anggota keluarga lain dari bahaya hipertensi akibat salah pilih toples garam.

Ingin merasakan asinnya kehidupan

Khusus yang hidupnya selalu diwarnai oleh kata-kata manis sang pujangga buaya, “kamu kok manis banget sih?”, “diih cantik banget kaya bidadari keseleo!”, “Aku sayang kamu selamanya.” Pasti akan terasa bosan dengan rasa manis.

Baca Juga:  Dear Ria Ricis: Jika Mau Pergi, Pergi Saja. Tak Usah Pamit Apalagi Balik Lagi, Please!

Ini cocok untuk yang hidupnya sudah terlalu banyak merasakan hal-hal manis. Sekali-kali lah merasakan sensasi asinnya hidup. Kalau terlalu manis nanti ujung-ujungnya diabetes. Mahal kalau berobat.

Apalagi orang tua jaman dulu sering bercerita, “Bapak sudah ngalamin asam manis asin pahitnya kehidupan, hingga jadi seperti ini (sukses-red).” Barangkali, dengan merasakan asinnya hidup dari kebanyakan garam sudah mengantongi dua syarat menuju sukses hidup. Dua syarat lainnya segera menyusul.

Emang suka rasa asin dari lahir

Ini mungkin kasus paling langka di dunia. Saat ibundanya mengandung, sang ibu malah ngidam garam. Entah diemut dengan jari layaknya gulali, atau dengan masakan yang keasinan.

Setelah lahir, anaknya menjadi kebal dengan segala jenis keasinan. Lidahnya pun sudah di-setting tanpa ada pupil asin. Perlu banyak kandungan garam untuk bisa mengaktifkan syaraf-syaraf pengecap rasa asin.

Akhirnya kebawa juga saat memasak. Tanpa memperhatikan takaran, penting asal masuk garamnya. Bisa saja takaran cuma satu sendok teh, dibuat 2 sendok makan. Namanya juga kebal asin kok.

Kegiatan ini hanya dilakukan oleh profesional. Jangan lakukan tanpa pendampingan orang tua dan kekasih. Bisa-bisa kamu malah yang kena darah tinggi.

Agar terhindar dari musibah masakan keasinan, alangkah baiknya sebelum memasak diawali dengan niat tulus dan ikhlas. Setelah niat, fokuskan konsentrasi ke masakan, jangan fokus ke bayangan wajah doi.

Semua itu demi menjaga marwah dan wibawa seorang cewek, agar terhindar dari tuduhan “Ingin segera menikah”. Selamat belajar memasak, hindarilah keasinan.

BACA JUGA Hal-hal yang Jangan Dilakukan Saat Mengambil Makanan Prasmanan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.