Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jangan Ngejek Orang yang Takut Jarum Suntik kalau Mereka Mau Vaksin sedangkan Kamu Nggak 

Yosi Prastiwi oleh Yosi Prastiwi
3 Februari 2021
A A
trypanophobia Jangan Ngejek Orang yang Takut Jarum Suntik kalau Mereka Mau Vaksin sedangkan Kamu Nggak  mojok.co

trypanophobia Jangan Ngejek Orang yang Takut Jarum Suntik kalau Mereka Mau Vaksin sedangkan Kamu Nggak  mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau ada segolongan masyarakat yang cenderung acuh dengan pro kontra kandungan dan program vaksin Covid-19 namun deg-degan berlebihan saat kejatah vaksin, trypanophobia adalah jawabannya, keadaan ketika seseorang takut jarum suntik.

Semasa sekolah dasar dulu, saya punya teman laki-laki. Sebut saja Kumbang, bukan nama sebenarnya. Badannya kurus kerempeng. Ia sering berulah di kelas. Sebab itu, ia kerap dimarahi guru karena dianggap mengganggu proses belajar mengajar.

Nah, waktu itu siswa kelas atas di sekolah saya mendapat jatah vaksin. Saya lupa vaksin apa yang diberikan. Kami pergi ke aula sekolah dan berbaris mengantre dengan jantung berdebar-debar dan kepo tingkat kecamatan.

Anak-anak perempuan mengomentari jas putih yang dikenakan dokter dari Puskemas. Mengungkapkan rasa takut jarum suntik sambil mengintip teman yang duluan disuntik. Tak lupa menggosipkan siapa-siapa saja yang menangis setelahnya.

Sementara anak laki-laki saling sesumbar. Mengaku sebagai abang jago. Tidak takut jarum suntik dan pantang menangis.

“Cemen. Masak cah lanang disuntik nangis.”

Harga diri anak laki-laki sekolah dasar dipancang kuat di tiang imunisasi. Jagoan boleh menang belakangan, tapi dilarang menangis. Begitulah stigma laki-laki di masyarakat kita. Sungguh pengasuhan anak laki-laki yang keliru.

Balik lagi ke antrean vaksin di sekolah. Tibalah waktunya si Kumbang disuntik. Alih-alih membuktikan sesumbarnya, dia memberontak. Beberapa guru berusaha memeganginya, tapi Kumbang berhasil lolos. Melarikan diri dari kami.

Baca Juga:

Ketimbang Cari Cara Pakai PeduliLindungi Tanpa HP, Kenapa Nggak Pakai e-KTP Aja?

Apakah Harus kayak Jerinx Dulu biar Cepat dan Mudah Dapat Vaksin?

Sampai vaksinasi selesai, Kumbang tidak berhasil ditemukan. Ia pulang sebelum jam sekolah usai. Masa itu, amat langka anak sekolah dasar berani kabur. Kumbang melompati dua hal sekaligus. Kabur dari sekolah dan kabur dari vaksin. Versi anak badung, perbuatannya disebut jagoan.

 

Ketakutan ekstrem pada tindakan medis yang melibatkan jarum suntik ini disebut trypanophobia. Tak selalu sama wujud fobianya. Ada yang histeris saat akan disuntik. Meronta dan melawan meski sadar tiada guna. Ada pula yang lemas tak berdaya. Jantungnya melemah dan timbul keringat dingin di kedua tangannya. Boro-boro kabur, nggak pingsan aja udah alhamdulillah.

Golongan ini barangkali tak ambil pusing saat masyarakat kita adu pro kontra program vaksin Covid-19. Penolakan mereka pada vaksin jauh dari idealis. Dibilang halu juga bukan. Sebab fobia itu nyata. Takut kadang tidak bisa didefinisikan secara ilmiah. Trypanophobia adalah salah satunya.

Nervous ala trypanophobia terhadap vaksin berbeda dengan mereka yang menolak vaksin secara logis. Atau dilogis-logiskan. Atau sebab alasan ras, agama, suku dan adat-istiadat lainnya.

Rasa takut jarum suntik umumnya memang dialami anak-anak. Tak peduli meski pak Ganjar Pranowo bilang disuntik itu rasanya seperti gigitan semut. Perbuatan menyuntikkan jarum tajam ke jaringan bawah kulit secara sengaja cukup menakutkan. Belum termasuk darah yang keluar. Sak crit sih tapi namanya juga takut. Ditambah efek ngilu dan bengkak pada bagian yang disuntik sesudahnya. Wajar dong anak-anak takut.

Apalagi macam generasi saya. Autoparno melihat jejak-jejak suntikan pada lengan orang tua yang terpampang nyata. Kedua orang tua saya, memiliki bekas suntikan segede gaban meskipun mereka tidak menderita keloid. Mblaret seperti luka sebab disiksa.

Pemandangan melihat bopeng suntikan pada lengan orang tua, pengalaman traumatik, serta informasi hoaks bisa membangun persepsi keliru. Salah satunya menyebabkan anak kecil takut berlebihan pada jarum suntik. Mungkin itu yang dialami Kumbang.

Namun, tidak hanya anak kecil yang mengalami trypanophobia. Remaja dan orang dewasa dapat mengalaminya juga. Seperti kabar yang viral di media sosial belum lama ini. Beredar video 39 detik berisi rekaman pria dewasa yang berteriak histeris sebelum disuntik vaksin Sinovac. Ia meronta dan berusaha melepaskan diri. Matanya melotot ke arah jarum suntik. Awaludin Rahim namanya.

Pria ini adalah kepala puskesmas di Bone Bolango, kabupaten Gorontalo. Kepada media, ia mengaku berteriak sebab fobianya terhadap jarum suntik. Ia mengalami pengalaman trauma dan takut jarum suntik di masa kecil. Ia histeris bukan sebab persoalan vaksin yang merugikan. Ia takut merasakan rasa sakit akibat disuntik lagi.

Tidak semua trypanophobia suuzan dengan kandungan vaksin made in China ini. BPOM menyebutkan Sinovac tidak mengandung bahan non halal. Asrorun Niam, ketua MUI menyebutkan vaksin ini halal dan suci. Meski tentu saja tidak menyucikan.

Trypanophobia juga tidak merasa perlu susah payah menghitung efikasi Sinovac. Tingkat kemanjuran vaksin ini saat tahap uji klinis sudah melampaui syarat WHO, yaitu 50 persen. Sinovac aman di angka 65,3%. Meskipun, beberapa sumber mengatakan, hasilnya bisa berbeda pada tiap negara. Bukan ini alasannya.

Trypanophobia juga tidak ambil pusing dengan perbandingan vaksin Sinovac dengan Pfizer dan Moderna. Hampir semua vaksin memiliki efek bawaan termasuk Sinovac. Vaksin itu semacam paket lengkap menyuntikkan virus mati berikut KIPInya atau kejadian ikutan pascaimunisasi. Tentu saja efek ringan seperti demam, nyeri, ngilu pada bekas suntikan. Kalau efeknya berat dan banyak, tidak mungkin program ini dijalankan pemerintah. Gila apa pemerintah menghabisi warganya sendiri? 

Awaludin sebagai individu dengan fobia jarum suntik, memberanikan diri disuntik demi mendapatkan manfaat vaksin. Sebagai warga negara yang bekerja di instansi medis, ia ingin memperlihatkan pada masyarakat bahwa vaksin ini aman. Pendek kata kesadaran bervaksin sudah merasuki seorang trypanopobhia.

Kalau yang fobia saja sanggup divaksin, apa kabar tim enggan vaksin? Misal mereka yang menolak sebab tidak percaya dengan keamanan kandungan vaksin. Golongan kontra ini mungkin perlu menyusun ulang alasan mereka secara haqiqi. Sebab alasan logis dan halu sudah tertolak.

Sudah untung negara memfasilitasi program vaksinasi Covid-19 ini. Gratis, meski jumlahnya masih sangat terbatas. Pejabat dan tenaga medis jadi prioritas. Artis dan presiden sudah mengendorse keampuhan vaksin ini. Buktinya, Raffi Ahmad baik-baik saja meski berpesta setelah divaksin. Beda kondisinya dengan bupati Sleman, Sri Purnomo yang berstatus OTG pascavaksin Sinovac tahap pertama. Pakar berpendapat, vaksin perlu waktu membentuk kekebalan di dalam tubuh. Bukan simsalabim main sulap. Bukan pula setelah divaksin seseorang otomatis terhindar dari Covid-19.

Tinggal kita yang rakyat jelata dan bukan siapa-siapa menunggu program vaksin selanjutnya. Barangkali efektif dan ada perpanjangan kuota gratis. Masa iya herd immunity yang digadang secara nasional cukup dengan 3 juta vaksin gratis saja.

Tapi, jika ada yang menolak vaksin sebab tak percaya dengan kandungan vaksin sebab gratisan, boleh saja mereka menunggu vaksin Covid-19 versi berbayar. Para marketer bilang, ada harga ada rupa. Asal jangan protes aja,

“Ta-tapi, vaksinnya kok mbayar. Ini kan demi kepentingan nasional.”

Jadi, kamu maunya apa Bambang? Dikasih gratis nggak percaya. Disuruh bayar protes soal harga. Fix, kamu bukan trypanophobia yang takut jarum suntik, tapi duitphobia!

Photo by Polina Zimmerman via Pexels.com

BACA JUGA Saya Disuntik Vaksin Covid-19 dan Nggak Jadi Buaya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Januari 2022 oleh

Tags: penjaskesvaksinvaksin covid-19
Yosi Prastiwi

Yosi Prastiwi

Mantan antivaksin garis lemah.

ArtikelTerkait

Oknum Ngaku 'Nakes' Cabul Tambah Alasan Bikin Percaya Pandemi Ini Ditunggangi terminal mojok.co

Oknum Ngaku ‘Nakes’ Cabul Tambah Alasan Bikin Percaya Pandemi Ini Ditunggangi

10 Juli 2021
Kondisi-kondisi Ngehek yang Jadi Penyebab Susah Tidur terminal mojok.co

Kondisi-kondisi Ngehek yang Jadi Penyebab Susah Tidur

14 Januari 2021
Membandingkan Tiga Merek Sabun Cuci Tangan Harga Sepuluh Ribuan, Mana yang Terbaik? terminal mojok.co

Membandingkan Tiga Merek Sabun Cuci Tangan Harga Sepuluh Ribuan, Mana yang Terbaik?

26 November 2020
Artikel Balasan_ Vaksinasi Berdasarkan Domisili KTP Itu karena Nakes Terbatas, bukan Dipersulit, Bro! terminal mojok

Artikel Balasan: Vaksinasi Berdasarkan Domisili KTP Itu karena Nakes Terbatas, bukan Dipersulit, Bro!

26 Juni 2021
vaksinasi vaksin berbayar covid-19 Hoaks Vaksin Mengandung Virus Itu Wagunya Sampai Ubun-ubun terminal mojok.co

Testimoni Sebulan Setelah Disuntik Vaksin Covid-19

13 Februari 2021
Panduan Singkat Sebelum Memutuskan Membeli Whey Protein terminal mojok

Panduan Singkat Sebelum Memutuskan Membeli Whey Protein

19 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

21 Februari 2026
Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah (Wikimedia Commons)

Saya Menemukan Ketenangan Bersama Muhammadiyah

24 Februari 2026
Mobil Matic Dibilang Gampang Rusak, padahal Itu Gara-gara Cara Pakai yang Salah!

Mobil Matic Dibilang Gampang Rusak, padahal Itu Gara-gara Cara Pakai yang Salah!

22 Februari 2026
Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang Mojok.co

Gen Z Ogah Naik Jabatan, Mending Jadi Pekerja Biasa Aja, tapi Punya Hidup Lebih Tenang

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria
  • Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental
  • Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros
  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.