Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Jangan Keburu Menyalahkan Aparat Desa sebagai Kambing Hitam Persoalan BLT

Udin Suchaini oleh Udin Suchaini
22 Juli 2020
A A
BLT ricuh mojok

BLT ricuh mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, saya membaca persoalan sekaligus gejolak tentang bantuan langsung tunai (BLT) dengan dana desa yang berakhir dengan kerusuhan. Persoalan ini terjadi dipicu oleh banyak hal yang tidak sederhana, namun sayangnya masalah ini dilimpahkan ke aparat desa.

Masa pandemi ini, semua aturan kebijakan BLT dibuat oleh pemerintah pusat, mulai dari penganggaran hingga mekanisme pencairan. Bahkan, pada tanggal 19 Mei diberlakukan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang Pengelolaan Dana Desa melalui PMK Nomor 50/PMK.07/2020. Sehingga dalam waktu sangat singkat, kepala desa didesak memperbarui data warga yang terdampak COVID-19 non penerima Program Keluarga Harapan (PKH), sebagai penerima bansos dari dana desa.

Saking mendesaknya kebijakan ini, membuat kepala desa semakin tersudut. Informasi pencairan BLT-Dana Desa sudah diketahui masyarakat, namun aturannya belum tersampaikan ke kepala desa. Dampaknya, di kanal media sosial tersaji keluhan kepala desa terkait tugas yang dibebankan pemerintah pusat. Amarah mereka sangat wajar, karena mereka yang akan menjadi bemper kebijakan. Terlebih pertanyaan warga tentang BLT, lambatnya pencairan, ketidakpuasan kebijakan ditimpakan ke aparat desa.

Persoalan ini muncul dari rentetan-rentetan kebijakan sebelumnya, tentang penanggulangan pandemi Covid-19. Pandemi ini memaksa pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan bersifat mendesak, tujuannya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Namun ternyata, skema pembatasan sosial berskala besar yang diambil, berdampak pada penambahan angka pengangguran. Mereka yang dirumahkan terpaksa pulang ke desa karena tidak punya cukup uang untuk bertahan di kota, jutaan orang ramai-ramai jatuh menjadi miskin. Buruh dan pengusaha kecil tiba-tiba kehilangan pekerjaan. Pedagang otomatis kehilangan pembeli, jatuh miskin pula dia. Semua berusaha kembali ke desa. Efeknya menyumbang peningkatan kemiskinan dan pengangguran di desa.

Okelah, pandemi telah terjadi, kebijakan telah digulirkan, dan dampak kebijakan telah kita rasakan. Sekarang, mari persoalannya kita kerucutkan.

Masyarakat yang terdampak Covid-19 dan memerlukan bantuan bisa lapor ke RT/RW atau Kepala Desa untuk didaftarkan sebagai penerima BLT-Dana Desa. Pertanyaannya apakah proses ini berjalan sesuai rencana kebijakan? Di sebagian wilayah mungkin iya, tapi di sebagian wilayah lain? Tidak berjalan.

Buktinya? mari kita berkaca pada kasus protes warga desa di beberapa daerah, dan yang paling parah di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Masalah BLT di daerah tersebut begitu parah dan menurut informasi yang beredar, mobil Wakapolres urun menjadi korban. Sayangnya, bukan hanya satu wilayah yang mengalami protes berbuntut kericuhan.

Kejadian yang sudah terjadi ini seharusnya bisa dimitigasi. Sumber persoalannya hanya satu, data penerima bantuan sosial (bansos) yang tidak termutakhirkan secara berkala. Bahkan di sejumlah kabupaten/kota masih menggunakan basis data terpadu (BDT) yang lama, tahun 2015. Kesinambungan data inilah yang menjadi persoalan. Karena, kesinambungan data penerima bansos ini sangat tergantung pengelolanya. Pertanyaannya apakah pengelola data di pemerintah daerah tidak melek data atau kebijakan terkait pemutakhiran data ini?

Baca Juga:

Kelas Menengah Indonesia Sedang OTW Menjadi Orang Miskin Baru: Gaji Habis Dipalak Pajak, Bansos Nggak Dapat, Hidup Cuma Jadi Tumbal Defisit Negara.

Pengalaman Saya Menjalani KKN Gaib, Sendirian Ngerjain Proker, Tau-tau Selesai

Kebijakan BLT-Dana desa tak akan berbuah amarah, apabila kesinambungan datanya sudah dilakukan dengan tepat dan benar. Jika pemutakhiran data tidak terlaksana, tentu saja kepala desa dan aparatnya yang akan dikorbankan, untuk merespons gejolak sosial yang muncul dari kebijakan penanganan Covid-19.

Supaya tidak terjadi masalah yang sama, mari sejenak memahami aturan data Bansos.

Data penerima bansos merupakan data berbasis individu yang bersumber dari data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Wali data bansos adalah Kementerian Sosial, pemutakhirannya telah disiapkan  melalui Peraturan Menteri Sosial No. 5/2019 yang dapat diusulkan dari desa melalui musyawarah. Artinya, pemerintah desa dapat mengusulkan penambahan jumlah warga miskin di desanya sebagai penerima bantuan sosial.

Data DTKS ini berisi daftar warga penerima kebijakan yang bersifat langsung seperti program sembako, program Keluarga Harapan, program Indonesia Pintar, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) penerima bantuan iuran. Permasalahannya adalah seberapa rutin data ini dimutakhirkan. Jika ada desa yang sama sekali tidak mengajukan perubahan, bahkan tidak ada imbauan atau pendampingan dari kabupaten/kota, dampaknya satu kabupaten/kota sama sekali tidak memutakhirkan datanya. Ujungnya bisa kita dibayangkan, daftar penduduk penerima bansos tahun 2015 yang digunakan.

Data 2015 ini sudah sangat afkir, menyumbang persoalan yang besar sekali dampaknya pada pengambilan kebijakan. Sementara keadaan kahar ini (kejadian yang terjadi di luar kemampuan manusia dan tidak dapat dihindarkan), memperparah kecepatan perubahan kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Jika pemerintah daerah tidak cepat merespon dengan perubahan data DTKS, walhasil yang terjadi maka terjadilah. Segudang keluhan dan protes warga yang tidak puas dengan kebijakan telah dilimpahkan kepada ketua RT/RW dan Kepala Desa sebagai ujung tombak pemerintahan.

Jangan membayangkan bahwa kepala desa memiliki kemampuan yang sama dan mudah menyerap pengetahuan tentang kebijakan.

Banyak sekali kepala desa yang memiliki kemampuan terbatas. Coba kita kupas melalui data yang tersedia di Badan Pusat Statistik (BPS), publikasi Statistik Potensi Desa (Podes) 2018 memberi gambaran ada 11,096 kepala desa memiliki pendidikan di bawah SMA, ada yang bahkan tidak bersekolah, dan 45,440 kepala desa memiliki pendidikan SMA. Variasi pendidikan ini bisa kita jadikan cermin, bagaimana tingkat kesulitan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya BLT-Dana desa harus segera dicairkan.

Jadi, jangan sampai kita masalahkan saat kepala desa mengambil keputusan yang berbeda di luar aturan yang ada, untuk meredam gejolak sosial.

Respon kepala desa meredam gejolak sosial diantaranya dengan mengalihkan bantuan jika ada keluarga yang mendapat lebih dari satu jenis bantuan, tentu saja atas kesepakatan penerima. Selain itu ada juga keluarga yang telah mampu namun masih tercatat sebagai penerima bantuan dihimbau untuk dialihkan ke keluarga miskin lain yang belum tersentuh bantuan. Namun demikian, ada yang mau mengalihkan ada yang tetap kekeh berhak menerima. Dan terakhir BLT-Dana Desa dibagi rata dalam satu RT atau RW untuk meredam gejolak antar warga desa, namun cara ini bukan tanpa persoalan. Karena bantuan yang diterima pasti tidak sesuai jumlahnya.

Keadaan kahar, perubahan kebijakan yang sangat cepat memang diperlukan, namun perlu mengedepankan kemudahan. Jangan lempar tanggung jawab dan memperkeruh keadaan. Siapapun kita yang duduk di singgasana pencipta kebijakan, bisa saja dengan mudah mengatakan semua aturan sudah disediakan. Namun, bagaimana membuat kepala desa mudah paham, merupakan persoalan yang tidak sebentar untuk diselesaikan. Karena, kelancaran pelaksanaan kebijakan tergantung dari kebiasaan aparat desa dalam merespon sebuah kebijakan.

Ditengah dampak kebijakan penanggulangan Covid-19 yang telah merubah sosial ekonomi secara mendadak, jangan mendadak juga melempar tanggung jawab ke kepala desa dong! Kalau memang mendesak, kuatkan pendampingan. Jangan melempar kebijakan yang berpotensi menambah persoalan.

Tak mampu bijak? lambaikan tangan saja boss…

BACA JUGA Alasan Mengapa Politik Dinasti Banten Begitu Digemari Warganya atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2020 oleh

Tags: BLTpandemiricuh
Udin Suchaini

Udin Suchaini

Penulis merupakan Fungsional Statistisi salah satu ASN di BPS. Saat ini penulis melaksanakan tugas belajar di Pascasarjana Ilmu Ekonomi UI. Penulis bergelut pada pekerjaan yang terkait dengan potensi desa (Podes), sehingga fokus perhatian penulis tentang Sosial Ekonomi Desa dan perdesaan.

ArtikelTerkait

Nonton Hospital Playlist Adalah Cara Mengobati Rindu pada Hidup Tanpa Pandemi terminal mojok

Nonton ‘Hospital Playlist’ Adalah Cara Mengobati Rindu pada Hidup Tanpa Pandemi

12 Juli 2021
31 negara mencekal pelancong dari indonesia mojok

Kalau Pak Luhut Bilang Penanganan Pandemi Itu Terkendali, Terus Kenapa 31 Negara Mencekal Pelancong dari Indonesia?

14 Juli 2021
tetaplah bahagia meski hampir gila mojok

Tetaplah Bahagia, meski Hampir Gila

17 Juli 2021
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois

17 Mei 2020
Kumpulan ‘Mendadak Hobi’ di Tahun 2020 terminal mojok.co

Kumpulan ‘Mendadak Hobi’ di Tahun 2020

31 Desember 2020
orang sombong dalam islam hukuman virus corona pandemi menular mojok.co

Bersiap Menghadapi Orang Sombong yang Akan Muncul setelah Corona Mereda

30 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti Mojok.co

Rumah Lelang Memang Murah, tapi Banyak Risiko Tersembunyi yang Membuntuti

9 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026
Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering "Keseleo" Mojok.co

Dilema Punya Honda Mobilio: Nyaman Dikendarai dan Irit, tapi Kaki-Kaki Mobilnya Sering “Keseleo”

7 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”
  • “Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia
  • Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran
  • Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana
  • Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak
  • BPMP Sumsel Bangun Ekosistem Pendidikan Inklusif Melalui Festival Pendidikan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.