Bertaruh nyawa di setiap lubang dan gelombang Jalur Jombang Nganjuk
Melewati jalur Jombang hingga Nganjuk saat ini bukan lagi soal efisiensi waktu, melainkan soal keselamatan nyawa. Saya sudah bosan melihat, mendengar, atau bahkan menyaksikan sendiri bagaimana pengendara roda dua jatuh terjerembab karena menghindari lubang yang tiba-tiba muncul di depan mata.
Jalur ini telah berubah menjadi momok yang menakutkan, terutama saat malam hari ketika penerangan jalan sangat minim dan lubang-lubang tersebut tersamarkan oleh kegelapan.
Ketidakpedulian ini bukan lagi sekadar masalah kelalaian administratif, melainkan sudah sampai pada tahap mengabaikan keselamatan warga negara. Setiap lubang yang dibiarkan menganga adalah jebakan maut bagi pengendara.
Kerusakan suspensi kendaraan mungkin bisa diperbaiki dengan uang di bengkel, tetapi bagaimana dengan nyawa yang melayang atau cacat fisik akibat kecelakaan? Sungguh sebuah ironi yang menjengkelkan di tengah narasi kemajuan infrastruktur yang selalu digembar-gemborkan di media sosial.
Baca juga Orang Jombang Malas Liburan ke Wonosalam, Lebih Memilih Plesir ke Malang.
Membunuh potensi wisata dan hajat hidup warlok
Dampak dari hancurnya jalur ini menjalar ke mana-mana. Termasuk, sektor ekonomi dan pariwisata. Sepanjang jalur Jombang hingga Nganjuk sebenarnya menyimpan banyak potensi wisata lokal yang menarik dan menghidupkan UMKM sekitar.
Akan tetapi, siapa orang waras yang sudi berwisata jika akses jalannya saja sudah seperti medan perang? Wisatawan dari luar daerah pasti berpikir dua kali untuk berkunjung, dan akhirnya memilih memutar arah atau mencari destinasi lain yang jalannya lebih manusiawi.
Kondisi ini secara tidak langsung perlahan membunuh hajat hidup rakyat sendiri. Warung-warung pinggir jalan sepi, pusat oleh-oleh lesu, dan pelaku ekonomi kreatif di sepanjang jalur ini hanya bisa gigit jari.
Kebijakan yang menganakemaskan tol dan menomorduakan jalan nasional ini jelas-jelas mencekik ekonomi warga lokal seperti saya. Sudah saatnya pemerintah berhenti menutup mata, turun dari mobil dinasnya yang empuk, dan segera membenahi jalur ini sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Keresahan-keresahan yang Saya Alami Selama Tinggal di Pinggir Jalan Provinsi.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













