Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Gerakan Warga Menambal Jalan di Lamongan Cerminan Betapa Muak Warga terhadap Pemerintah

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
18 Februari 2025
A A
Gerakan Warga Menambal Jalan Lamongan Cerminan Betapa Muak Warga terhadap Pemerintah Mojok.co

Gerakan Warga Menambal Jalan Lamongan Cerminan Betapa Muak Warga terhadap Pemerintah (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Coba kalian tanya orang Lamongan soal jalanan di tempat tinggal mereka. Kebanyakan pasti meresponnya dengan jelek hingga jelek banget. Kondisi jalan yang bobrok itu sudah menelan banyak korban, saya salah satunya. Sialnya, saya tidak bisa menuntut siapapun atas kecelakaan di jalan bobrok itu. Saya hanya bisa misuh-misuh di dalam hati sambil menuntun motor ke bengkel terdekat dan “menghamburkan” banyak uang di sana. 

Saya yakin keresahan ini tidak saya rasakan sendiri. Itu mengapa saya sering melihat berita seruan warga Lamongan menambal jalan secara mandiri dan kolektif. Mereka sudah bosan dengan kondisi jalan Lamongan, di sisi lain sudah lelah berharap pada pemerintah. 

Warga lelah menunggu pemerintah memperbaiki jalan rusak Lamongan

Saya tidak tahu bagaimana awal gerakan ini dimulai di Lamongan. Saya hanya tahu, warga langsung ramai-ramai urunan membeli material dan mulai menambal jalan. Mereka menyingsingkan lengan baju dan bahu membahu menambal lubang. Bukan hanya sekali, aksi semacam ini juga terjadi di beberapa tempat seperti Paciran, Sekaran, dan Sugio.

Gerakan ini murni dari warga dan untuk warga. Tidak ada sponsor maupun dukungan dari politisi manaun.  “Sebenarnya, bukan rela sih, tapi lebih ke sudah tidak berharap lagi pada pemerintah begitu kira-kira yang disampaikan warga sekitar,” begitu kurang lebih kata warga yang pernah saya jumpai. Saya yang mendengarnya cukup gemetar. Memang perlu diakui, jalan berlubang di Lamongan adalah sebuah masalah klasik yang tidak segera menemui titik terang. 

Aksi ini bisa terjadi karena masyarakat sudah kehilangan harapan pada pemerintah daerah yang terlalu lama menunda perbaikan. Berkali-kali pengajuan dilakukan, tapi hasilnya nihil. Sementara itu, jalan berlubang tetap mengancam keselamatan.

Gerakan ini mengingatkan saya dengan kisah Pak Gufron yang sempat viral beberapa waktu lalu. Dua tahun lalu, ada tukang becak di Lamongan nekat menambal jalan seorang diri. Bukan karena cari perhatian atau minta pujian, tapi karena anaknya sering lewat situ pas berangkat dan pulang kerja. Dia khawatir kalau anaknya jatuh, apalagi pas malam atau hujan. Modalnya? Hanya sebuah palu, batu, pasir, dan sebotol solar yang dibeli sendiri dari hasil narik becak. Duh, saya benar-benar terenyuh. Andai saja pejabat kita merasa rakyat seperti anaknya sendiri ya. 

Perhatian pemerintah yang masih minim

Perlu diakui bahwa kesadaran pemerintah Lamongan terhadap persoalan jalan berlubang masih minim. Padahal, persoalan ini sudah lama ada dan benar-benar ada di depan mata. Bukannya segera turun tangan, mereka malah terkesan menutup mata. Tidak ada respons cepat, tidak ada anggaran yang jelas.Bahkan, ketika gerakan warga menambal jalan ini mulai masif, belum ada tanda-tanda pemerintah ingin ikut andil. 

Saya sungguh geleng-geleng kepala melihat fenomena yang terjadi di Lamongan ini. Saya jadi kepikiran, kalau warga serba bisa sendiri seperti persoalan jalan raya di Lamongan, bisa nggak sih kita hidup mandiri saja tanpa negara? Dalam sebuah guyonan khas media sosial X ( dahulu Twitter), Fery Irwandi pernah mengatakan begini “Nanti kita rebut kembali negaranya!” Saya tidak paham apakah itu guyonan atau kritik yang dibalut jokes politik. Tapi, ungkapan tersebut sedikit-banyak menyulut semangat untuk melakukan perbaikan secara mandiri.

Baca Juga:

Nasi Muduk, Kuliner Nikmat yang Tak Pernah Masuk Brosur Kuliner Lamongan, padahal Berani Bersaing dengan Soto dan Pecel Lele!

4 Rekomendasi Motor untuk Menghadapi Banjir Lamongan yang Tak Kunjung Surut

Baiklah, merebut kembali negara ini mungkin terdengar sulit, tapi kalau mengambil jalan raya? Kemungkinan besar bisa dicoba. Saya membayangkan, nanti setelah jalan diperbaiki, ada tulisan, “Jalan ini boleh dilewati siapa saja kecuali pejabat”. Dan, himbauan tersebut bukan cuma dituliskan, melainkan juga dilakukan. Ada semacam sweeping. Pokoknya kalau plat nomornya diketahui nomor pejabat, alihkan saja. Suruh memutar. Sebab, jalan sudah diambil alih warga. 

Yah, saya tidak tahu apa yang akan terjadi esok, saya hanya berharap pemerintah daerah ini sadar diri deh. Sebelum jalanan benar-benar diambil alih oleh rakyatnya sendiri.

Penulis: M. Afiqul Adib
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 3 Jalan di Sleman yang Makin Berbahaya ketika Musim Hujan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2025 oleh

Tags: jalanjalan berlubangjalan lamonganlamongan
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Tahu Campur, Kuliner Nikmat Asal Lamongan yang Kalah Tenar dari Soto Terminal Mojok

Tahu Campur, Kuliner Nikmat Asal Lamongan yang Kalah Tenar dari Soto

15 Oktober 2022
Sematang Borang, Kecamatan Paling Menyedihkan di Palembang

Sematang Borang, Kecamatan Paling Menyedihkan di Palembang

13 November 2025
Romantisnya Rute Jogja-Purworejo-Kebumen yang Penuh Jalan Berlubang Sana-sini terminal mojok.co Lumajang

Keadaan JLT Lumajang yang Memprihatinkan: Pesona Alamnya sih Indah, tapi Lubang Jalannya Bikin Celaka

5 Juli 2023
3 Ciri Warung Pecel Lele Asli Lamongan terminal mojok

3 Ciri Warung Pecel Lele Asli Lamongan

14 Juni 2021
Jalan Pucuk-Blimbing, Jalan Paling Berbahaya di Lamongan yang Rawan Kecelakaan Tunggal

Jalan Pucuk-Blimbing, Jalan Paling Berbahaya di Lamongan yang Rawan Kecelakaan Tunggal

9 Maret 2024
Seandainya Ada Trans Jatim Lamongan Tuban, Banyak Warga akan Terbantu Mojok.co

Seandainya Ada Trans Jatim Lamongan–Tuban, Banyak Warga akan Terbantu

24 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

Saya Kira Jadi PPPK Bikin Hidup Tenang, Ternyata Cuma Ganti Kecemasan yang Lain

2 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.