Jagung Titi, Tuak Putih dan Wasiat Terakhir Mama – Terminal Mojok

Jagung Titi, Tuak Putih dan Wasiat Terakhir Mama

Artikel

Avatar

Yang namanya rindu tidak akan lekang termakan waktu. Rindu itu adalah berkat yang paling sulit dibahasakan dengan kata maupun dengan kalimat yang panjang. Menemukan kembali kerinduan itu hanya dengan satu cara yakni kembali. Dan, aku bersepakat pada diriku sendiri bahwa aku harus berjumpa dengan rindu itu.

Malam hampir larut kira-kira pukul 20.00 WITA. Dingin selalu berlomba-lomba untuk menempel pada tubuh. Saya dan keluarga masih mengelilingi tungku api—yang entah sampai kapan kami berpamitan untuk membaringkan tubuh di tempat tidur masing-masing. Jagung titi dan tuak putih selalu menyatu dalam wasiat Mama di sekeliling tungku api itu. Jagung titi yang dititi oleh Mama untuk dijual di Pasar Boru, sengaja kusimpan di lemari bagian atas untuk dimakan secara bersama-sama.

Kami mencintai jagung titi, karena menjadi ciri khas makan lokal Flores timur. Kami juga mencintai tuak putih karena kami dituntut untuk mencintai produk lokal. Malam itu benar-benar malam yang paling mengesankan dalam hidup saya. Mama memberanikan diri untuk mengungkapkan segala jenis perasaan yang telah tersimpan selama ini. Tabiat Mama memang demikian.

Orangtua mana pun selalu menginginkan yang terbaik buat anaknya. Meskipun, anak selalu memandang orangtua “ikut campur” dalam segala urusan. Toh, pada akhirnya anak pun sadar bahwa cinta orangtua melebihi apa yang dipikirkannya.

Demikian juga kau, bagaimanakah perasaanmu jika orangtuamu selalu masuk ke dalam urusan pribadimu? Bukankah hal itu mengganggu kebebasanmu? Kau akan menemukan betapa orangtua selalu “ada” disaat kau bersukaria bersama teman-temanmu pada acara ulang tahunnya. Kau pun mungkin merasa seperti “anak mami”—yang selalu dipanggil pulang  jika pekerjaan  rumah belum selesai. Ataukah, orangtua terlalu berani melarangmu jatuh cinta. Ah, orangtua selalu bikin kesal deh~

Tuak putih dalam gelas perlahan kuteguk, wasiat Mama semakin lama semakin jelas terdengar. “Anakku, jatuh cintalah pada orang yang tepat. Jangan biarkan masa mudamu dirampas oleh orang lain,” mama melangkah mendekatiku sembari mendekatkan badannya—hanya ingin memeluk tubuhku.

Baca Juga:  Orang Ngapak: Ketika Sebuah Logat Menyimpan Kenangan

Jatuh cinta memang mudah tapi mencintai dengan ketulusan adalah pekerjaan berat yang harus diperjuangkan. Menurut kebiasaan, mencintai seorang wanita berarti harus mencintai budayanya. Budaya yang saya maksudkan yaitu latar belakang wanita dan seluk-beluk keluarga serta masyarakatnya. Memang tidak semudah membalikan telapak tangan—demikian pepatah lama yang selalu disebut-sebut.

Mencintai dengan keberanian mengambil resiko dalam setiap tantangan yang datang menghadang.

Wasiat Mama malam itu di kampung yang cukup dingin, telah membuat saya berani mmelangkah dengan pasti. Wasiat itu kemudian ditulisanya dalam sepotong kertas yang berbunyi:

Anakku, pergilah ke dunia luas

Melihat dan melangkahlah  dengan pasti menyongsong masa depanmu

Akan ada jurang yang terjal, jalan yang penuh duri, kerikil tajam berdesak-desakan menghimpit jari kakimu. Janganlah engkau goyah.

Ketahuilah, di setiap jantungmu berdetak, di saat itulah aku menyebut namamu dalam doaku. Mimpimu saat ini seumpama bintang yang berhamburan di udara—yang belum tahu kapan akan menyatu.

Akan ada cinta yang datang berderet-deret, ingin mengajakmu berlari dari pikiranmu, enyahlah itu dari pikiranmu.

Sesungguhnya, mereka hanya memberimu cinta yang terucap di bibirnya, namun tidak memberimu masa depan.

Masa depan itu memang pantas untuk diperjuangakan.

Tengah malam pukul 12.00 WITA, setelah selesai membaca sepotong surat dari Mama. Hatiku ingin selalu berada di kampung, bersama Mama dalam wasiat terakhirnya. Jagung titi, tuak putih dan wasiat Mama selalu saya kenang.

Mama adalah wanita tangguh yang senantiasa  memberi wasiat bagi anak-anakknya. Hampir pagi, tapi pikiran saya tak menentu. Jagung titi telah habis, begitu pula tuak putih. Jagung titi yang selalu menjadi kebanggaan orang-orang di kampung selalu mempunyai kebiasaan untuk bikin rindu. Tuak putih yang selalu disajikan dengan ikan bakar yang diperoleh dari pantai menambah kenikmatan di kampung meskipun berbeda jauh dengan makanan khas orang-orang yang berdomisili di kota.

Baca Juga:  Selamat Datang di Malang, Kota Sejuta Kedai Kopi

Kerinduan untuk kembali menikmati jagung titi dan tuak putih serta  wasiat Mama selalu menggoda di saat mama menutup telepon. Wah, benar-benar suatu kerinduan yang tidak bisa dibeli oleh siapapun dan apapun.

 

---
2


Komentar

Comments are closed.