Jadi Orang Nggak Enakan Itu Berat, Kau Tak Akan Kuat, Biar Aku Saja – Terminal Mojok

Jadi Orang Nggak Enakan Itu Berat, Kau Tak Akan Kuat, Biar Aku Saja

Artikel

Avatar

Menjadi orang nggak enakan itu lebih banyak mudaratnya. Selain tersiksa secara batin, kita terlihat lemah di hadapan musuh. Saya menghadapi ketidakberdayaan itu sampai menginjak usia 20 tahun. Sekarang saya berusia 22 tahun dan rasanya baru dua tahun saya bisa benar-benar menikmati hidup.

Saya baru tahu betapa nggak enaknya menjadi orang nggak enakan. Prok prok prok~

Waktu TK, saya pernah diusilin teman perempuan. Dia mengolok-olok saya di depan kelas karena saya berrambut ikal. Saya mau balas mengoloknya, tapi dia terlalu sempurna, nggak ada celah yang bisa jadi bahan ejekan. Rambutnya lurus, kulitnya putih, wajahnya ideal, anak orang kaya lagi. Akhirnya, karena nggak punya ruang untuk meluapkan kekesalan, saya lari ke kelas dan menempelkan permen karet di bangkunya. Rasanya puas.

Alhasil saat dia duduk roknya ketempelan permen karet. Dia menangis dan mengadu pada Bu Guru. Satu kelas heboh mencari siapa pelakunya, saya ketakutan. Perasaan puas tadi berubah menjadi rasa bersalah yang berlebih. Saya langsung minta maaf dengannya di hadapan seisi kelas. Semuanya heboh dan menertawakan. Hari itu jadi momen paling memalukan.

Kejadian bodoh itu nyatanya nggak bikin saya kapok berulah. Memasuki masa SD saya tetap sering digodain sampai nangis. Lagi-lagi karena merasa nggak berdaya untuk speak up, saya mengadu pada Mama di rumah. Besoknya mama saya ke sekolah untuk ketemu sama si biang kerok. Saya pikir hari itu akan seru sekali karena mama saya yang suka ngomel pasti habis-habisan bikin dia jera. Nyatanya, Mama malah ngobrol banyak hal sama dia sambil ketawa-ketiwi tanpa ada sesi marah-marah.

Saat kelas 5 SD, saya jadi malu kalau sering mengadu masalah ke Mama, lebih tepatnya gengsi sama kawan-kawan. Sejak saat itu saya merasa saya harus bertanggung jawab dan berani mengatasi masalah sendiri. Pengaplikasian itu saya lakukan ketika lagi jajan pentol lalu teman saya mengusik. 

“Ciye Lia suka sama anak kelas sebelah.” Semua perhatian teralihkan pada saya. Dia tau kelemahan saya yang sering salting kalau digodain, yes, saya pemalu akut dan kuper parah!

Refleks saja saya lari ke kelas dan menumpahkan kuah pentol di atas meja teman saya yang usil tadi. Ternyata dia mengejar saya dan shock waktu mejanya sudah kebanjiran kuah. Matanya menatap tajam. “Heh! Bersihkan!” Teriaknya. Saya panik, mau nangis tapi malu. Akhirnya dengan buru-buru saya lap dan bersihkan kuah pentol yang saya tumpahkan sendiri.

“Hahaha….” Tawa panjang itu masih membekas di kepala. Saya kira alternatif melawan dengan cara menempel permen karet atau menyiram kuah pentol di bangkunya adalah jalan paling berani. Tapi kenapa malah jadi bumerang buat saya?  Bahkan tragedi konyol kayak gini selalu terulang sampai tingkat SMA.

“Mereka semua itu doyan ngebully kamu karena suka dengan responsmu. Cara kamu merespons itu loh cocok jadi sasaran empuk becandaan.” kata seorang teman baik.

Saya jadi buru-buru mengoreksi. Setiap kali ada serangan dan saya melakukan serangan balik, saya justru merasa nggak enakan dan takut musuh saya kenapa-kenapa. Lalu secara spontan saya akan meminta maaf dan berusaha memperbaiki segalanya. Pola ini terus berulang hingga membentuk karakter “nggak enakan” sebagai penghambat saya susah menentukan sikap dan ambil keputusan.

Apa iya ini yang dinamakan “people pleaser” ketika saya terus-menerus ingin membahagiakan orang lain lalu melupakan diri sendiri? Meletakkan perasaan orang lain sebagai prioritas itu melelahkan.

Pertanyaan rumit yang menggelisahkan itu pada akhirnya terpecahkan di umur 21 tahun. Tepatnya saat saya dihadapkan dengan dilema memilih pasangan hidup yang keduanya sama-sama baik.

Saya tahu hati saya ingin berlabuh dimana, tapi saya takut pilihan saya melukai yang tidak terpilih. Lalu struggle itu menghantarkan saya pada satu hal bahwa saya nggak bisa terus-menerus menjadi pahlawan untuk kebahagiaan orang lain. Itu bukan tanggung jawab saya.

Saya mulai sadar bahwa ada yang nggak beres dari kekonyolan saya sejak dulu. So, saya putuskan untuk belajar berhenti jadi orang nggak enakan. Kalau ada hal-hal yang mengganggu hak-hak saya, maka coba bicarakan baik-baik. Perlawanan yang elegan itu ya dengan komunikasi yang jelas dan terarah. Jangan menghindar apalagi sok melawan pakai kode awkward semacam menumpahkan kuah pentol, itu sama sekali nggak menyelesaikan resah. Malah menambah masalah. Jika memang mau numpahin kuah, ya sudah jangan tanggung-tanggung, apalagi sampai dibersihkan. Kalau kita dimarahin balik bilang saja itu pelampiasan kemarahan yang harus dia terima karena udah ganggu hidup kita. Tegas dan berpendirian, nggak usah plin-plan.

Jika kalian punya tanda-tanda “people pleaser” kayak saya, mendingan segera sadar dan berubah. Utamakan diri sendiri dan nggak usah terlalu risau dengan apa yang terjadi pada orang lain. Awalnya sulit, tapi kalau sudah dibiasakan semua akan baik-baik saja. Jadi orang nggak enakan selamanya justru bakal bikin menderita.

Photo by Andrea Piacquadio via Pexels.com

BACA JUGA Sebelum Bersedia untuk Tukar Kursi Kereta, Pastikan Dulu 3 Hal Ini dan tulisan Terminal Mojok lainnya.

Baca Juga:  Membayangkan Emile Durkheim dan Max Weber Berseteru Memperdebatkan Serial '13 Reasons Why'

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
32


Komentar

Comments are closed.