Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Jadi Latar Twenty Five Twenty One, Seperti Apa Korea Saat Krisis 1997?

Febri Indriani oleh Febri Indriani
20 Februari 2022
A A
Jadi Latar Twenty Five Twenty One, Seperti Apa Korea Saat Krisis 1997 Terminal Mojok

Jadi Latar Twenty Five Twenty One, Seperti Apa Korea Saat Krisis 1997 (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Penikmat drama Korea sepertinya nggak akan pernah kehabisan bahan tontonan menarik. Akhir pekan lalu, Twenty Five Twenty One yang merupakan drama comeback Kim Tae Ri dan Nam Joo Hyuk menayangkan episode perdananya. Drama Korea ini mengisahkan pertemuan atlet anggar berusia 18 tahun bernama Na Hee Do dengan seorang pekerja paruh waktu berusia 22 tahun bernama Back Yi Jin. Keduanya pertama kali bertemu kala Back Yi Jin yang sedang mengantar koran salah lempar dan mengenai patung di halaman rumah Na Hee Do. Tingkah laku kedua tokoh yang seperti kucing dan anjing tersebut menjadi pemancing tawa penonton.

Mengambil latar tahun 1998, Twenty Five Twenty One menampilkan latar Korea Selatan yang tengah terpuruk pascakrisis moneter yang kemudian dikenal sebagai IMF Crisis 1997. Beberapa adegan dalam drama ini menunjukkan apa yang terjadi di Korea Selatan ketika krisis ekonomi menerpa, dan tentunya memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap perkembangan karakter dan cerita. Lantas, seperti apa Korea Selatan di masa IMF Crisis 1997?

#1 Banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan

Hal ini ditampilkan melalui karakter Back Yi Jin. Sebelum menjadi pekerja paruh waktu yang bekerja di rental komik dan pengantar koran, Yi Jin adalah putra konglomerat kaya raya yang sedang kuliah jurusan Teknik di Universitas Yonsei. Kehidupan mewahnya berubah drastis ketika perusahaan sang ayah mengalami kebangkrutan.

Pada masa ini, sektor perbankan dibebani oleh kredit-kredit bermasalah lantaran perusahaan-perusahaan besar tengah mengekspansi usaha mereka. Jumlah utang yang terus membesar seiring nilai mata uang won terjun bebas dan kegagalan untuk membayar utang tersebut membuat banyak perusahaan akhirnya mengalami kebangkrutan.

Dalam drama, ditampilkan adegan Yi Jin memasuki rumah yang telah disita untuk melunasi utang ayahnya. Keluarganya pun tercerai-berai dan Yi Jin masih dikejar-kejar oleh mantan rekan bisnis ayahnya yang juga mengalami krisis finansial.

Kebangkrutan perusahaan ayah Yi Jin juga berdampak kepada atlet anggar Ko Yu Rim karena ia jadi kehilangan sponsor utamanya. Selain mengalami kebangkrutan, beberapa perusahaan mengalami pengambilalihan dalam menjaga kelangsungan usaha mereka. Hal ini ditampilkan dalam adegan ketika Hee Do sedang berlari melewati kota dan ada pengumuman pengambilalihan bank.

#2 Banyak pegawai dipecat dan kesulitan mendapatkan pekerjaan

Sebagai dampak bangkrutnya perusahaan, banyak pegawai yang kehilangan pekerjaan mereka. Istilah IMF yang diplesetkan menjadi “I’M Fired” menunjukkan betapa besar dampak IMF Crisis ini terhadap jumlah orang yang dipecat. Lapangan pekerjaan yang semakin sedikit dan berbanding terbalik dengan jumlah pengangguran yang meningkat membuat orang-orang kala itu sulit mendapatkan pekerjaan.  Belum lagi para pelajar dan mahasiswa yang terpaksa membantu perekonomian keluarga juga ikut dalam golongan mereka yang mencari pekerjaan.

Hal ini ditampilkan ketika Yi Jin melamar pekerjaan untuk menjadi cleaning service di sebuah penginapan. Ketika pemilik penginapan berkata bahwa penampilannya terlalu bagus hanya untuk menjadi cleaning service, Yi Jin mengatakan bahwa yang penting ia memiliki pekerjaan dan bisa mendapatkan penghasilan. Sebuah ironi juga ditampilkan bahwa orang-orang dengan riwayat cemerlang justru ditolak ketika melamar kerja dengan alasan overqualified.

Baca Juga:

Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

#3 Rakyat Korea mengumpulkan emas untuk mendukung perekonomian negara

Pada akhir 1997, Korea Selatan menandatangani perjanjian dengan IMF untuk mengatasi krisis. Dalam rangka membayar utang kepada IMF, muncul sebuah kampanye oleh KBS1 pada awal tahun 1998 yang mengimbau warga Korea Selatan untuk mengumpulkan emas. Terdapat enam bank yang turut serta dalam kampanye ini untuk memfasilitasi warga yang ingin mengumpulkan emas mereka, yakni Housing Bank, Nonghyup Bank, Kookmin Bank, Korea Exchange Bank, Saemaeul Bank, dan Industrial Bank.

Dalam kurun waktu empat bulan sejak awal Januari hingga akhir April 1998, tercatat 3,5 juta orang berpartisipasi dalam kampanye ini. Jumlah yang nyaris menyamai seperempat populasi Korea Selatan itu berhasil mengumpulkan 225 ton emas senilai 2 miliar USD, melipatgandakan cadangan emas Bank Korea hingga lebih dari 10 kali lipat.

Dalam drama, kita bisa melihat ibu Na Hee Do yang merupakan pembawa berita menyiarkan hal ini dalam acaranya. Hal ini pula yang memicu konflik kecil antara Hee Do dengan sang ibu karena Hee Do mengira ibunya telah menjual cincin kawin untuk berpartisipasi dalam kampanye ini.

Ketiga hal di atas adalah sedikit dari latar krisis ekonomi 1997 yang ditampilkan dalam drama Twenty Five Twenty One. Kisah Hee Do dan Yi Jin yang baru berjalan tiga episode tentunya masih membuka ruang untuk menampilkan Korea Selatan di akhir 1990-an secara lebih mendalam. Terlebih lagi genre utama romance dan coming of age yang dibawa drama ini tentunya akan lebih memfokuskan pada kisah Hee Do, Yi Jin, dan tokoh-tokoh lainnya dalam mewujudkan impian mereka. Tertarik untuk nonton Twenty Five Twenty One?

Penulis: Febri Indriani
Editor: Intan Ekapratiwi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 20 Februari 2022 oleh

Tags: drama koreaKorea Selatankrisis ekonomiTwenty Five Twenty One
Febri Indriani

Febri Indriani

Penyuka drama slice of life dan coming of age.

ArtikelTerkait

10 Pasangan Bromance dengan Chemistry Terbaik di Jagat Drakor Terminal Mojok

10 Pasangan Bromance dengan Chemistry Terbaik di Jagat Drakor

14 September 2022
English Fever dan Goose Father, Fenomena Sosial di Korea Selatan yang Saling Berkaitan

English Fever dan Goose Father, Fenomena Sosial di Korea Selatan yang Saling Berkaitan

29 Januari 2022
5 Hal yang Bikin Saya Kecewa Setelah Menonton Serial Duty After School

5 Hal yang Bikin Saya Kecewa Setelah Menonton Serial Duty After School

15 April 2023
Bagaimana The Penthouse Menggambarkan Terciptanya Lingkaran Kekerasan Akibat Toxic Parenting terminal mojok

Bagaimana ‘The Penthouse’ Menggambarkan Terciptanya Lingkaran Kekerasan Akibat Toxic Parenting

7 April 2021
Perbedaan The King: Eternal Monarch di Drakor dengan Sunda Empire di Indonesia

Perbedaan The King: Eternal Monarch di Drakor dengan Sunda Empire di Indonesia

22 April 2020
Chungmuro, Hollywood-nya Korea yang Jadi Kiblat Dunia Perfilman Terminal Mojok

Chungmuro, Hollywood-nya Korea yang Jadi Kiblat Dunia Perfilman

25 Februari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Raya Prembun-Wadaslintang, Jalur Penghubung Kebumen-Wonosobo yang Keadaannya Menyedihkan dan Gelap Gulita! wonosobo

Wonosobo, Kota Asri yang Jalanannya Ngeri, kalau Nggak Berlubang, ya Remuk!

13 Maret 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

13 Maret 2026
Honda Stylo Motornya Orang Kaya Waras yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT dan Scoopy Mojok.co

Honda Stylo Motornya Orang Kaya yang Ogah Beli Vespa Matic Overprice, tapi Nggak Level kalau Cuma Naik BeAT atau Scoopy

13 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Bukan Buangan dari UNDIP: Kami Mahasiswa UNNES, Bukan Barang Retur! kampus di semarang

Ironi UNNES Semarang: Kampus Konservasi, tapi Kena Banjir Akibat Pembangunan yang Nggak Masuk Akal

18 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • 3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan
  • Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?
  • Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang
  • Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 
  • Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman
  • Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.