Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Ironi Suporter Sepak Bola Yogyakarta: Dipaksa Membenci Tanpa Mengerti Esensi

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
8 September 2020
A A
suporter bola bandung dan yogyakarta pilih mana stasiun tugu mojok.co

suporter bola bandung dan yogyakarta pilih mana stasiun tugu mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah saya berkeliling dari Vietnam, Kamboja, sampai Thailand, tak ada tanah seindah Indonesia dalam masalah suporter untuk tim lokal. Mereka selalu bergairah. Seakan, tak ada hari tanpa mengibarkan panji-panji kedaerahan tim lokal mereka. Merah, biru, hijau, oranye, dan warna-warna lainnya, tak bisa menggeser beberapa tim besar Eropa, sebagai episentrum sepak bola dunia.

Thailand memang punya antusiasme tinggi masalah sepak bola. Namun, hal ini hanya terjadi untuk beberapa tim saja. Vietnam memang ramai, namun ramainya kurang lebih sama seperti anak SMA yang sedang suporteran di GOR, mendukung sekolah mereka. Kamboja apalagi, mereka hanya riuh kala timnasnya berlaga. Indonesia, sebaliknya. Tim lokal, timnas usia muda, timnas senior atau bahkan laga uji coba, selalu meriah. Utopia sepak bola tidak ada di Brazil, namun ada di negeri sendiri.

Di balik teriakan para suporter, ada noda yang tak kunjung hilang. Pemain kedua belas, tak jarang menjadi bumerang sendiri bagi eksistensi klub yang sedang bermain. Kadang, para suporter ini masih terjebak dalam ranah yang sudah mulai negara tetangga tinggalkan, yakni mengolah rivalitas. Dengan label negara yang selalu memiliki tensi dan gengsi, suporter kita masih kerap terjebak dalam hal yang sejatinya terjadi di masa pra-aksara, kala manusia mengumpulkan kerang di belakang gua persembunyiannya.

Kita ambil contoh kecilnya, di sebuah daerah di mana toleransi dan harmoni adalah kunci, yakni tanah Mataram. Terkhusus untuk Brajamusti, Slemania, BCS, dan Pasoepati. Derby Mataram yang penuh tensi tersaji begitu saja di layar kaca. Rivalitas yang ada tidak diolah dengan baik.

Saya memandang kebencian itu netral. Tidak melulu buruk, pun tidak bisa sepenuhnya dikatakan hal yang baik. Kebencian yang hadir tanpa dilandasi sebab, adalah kebencian yang bisa dibilang bodoh. Dari kebencian yang bodoh inilah korban demi korban selalu hadir. Bangku-bangku tribun, perlahan demi perlahan berubah menjadi pusara yang memberikan trauma.

Dari sifat benci ini, banyak luka yang rasanya terlampau berat untuk dikorek. Tiap mereka bersua, patokannya hanya dendam beberapa laga sebelumnya. Bahkan, kebencian yang mereka olah, hanya berlandaskan bisikan-bisikan generasi sebelumnya. Para generasi sebelumnya, hanya mengajarkan membenci, tanpa memberitahu mengapa mereka harus membenci.

Peran generasi sebelumnya amat besar dalam membentuk pola membenci ini. Tidak ada narasi pajang yang menjelaskan sejarah perselisihan kedua tim, menambah parah rasa benci tersebut. Kita bisa melihat Manchester United dan Liverpool. Kedua tim itu memang saling membenci, namun patokan mereka bukan hanya tindakan rasis Suarez kepada Evra, atau misi utama Sir Alex “Menendang Liverpool dari puncak hirarki sepakbola Inggris”. Kebencian mereka tidak datang dari beberapa pertandingan saja.

Persaingan abadi ini berdasarkan historis mereka yang panjang, beringan dengan industri kedua kota. Liverpool adalah kota pelabuhan, sedangkan Kota Manchester adalah kota industri. Keduanya, seakan saling melengkapi dan menghidupi. Manchester membutuhkan pelabuhan Liverpool, pun sebaliknya. Namun, semua berbalik menjadi rivalitas menakala Daniel Adamson membangun kanal untuk kapal berlabuh langsung di Manchester.

Baca Juga:

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

IKEA Ciputra World Surabaya, Tempat yang Cocok untuk Melepas Penat Tanpa Takut Melarat

Kebencian ini menjadi “baik” menengok rivalitas mereka dalam ranah sepak bola menjadi arah yang jelas. Kebencian mereka dilandasi esensi, muatan, sebab, akibat, historis dan alasan. Berbeda dengan kebencian yang terjadi kepada suporter tim lokal kita—tidak hanya tim-tim Mataram—mereka hanya memiliki benci, tanpa memikirkan esensi hingga alasan yang melandasi.

Pengalaman saya ketika SD pun membuat saya merinding jika mengingat. Anak-anak di kelas saya, yang baru saja menemukan indahnya sepak bola, suatu hari mereka nge-chants, “(nama tim rival) kelingan ora kowe, mbiyen neng (kota rival) aku mok bandem watu. Saiki kowe teko neng kotaku, tak beleh, tak dadike sengsu, asu”. Ya, anak SD sudah bisa-bisanya berkata “aku bunuh, aku jadikan tongseng asu (anjing)”. Ketika ditanya, kenapa mereka membenci? Jawabannya adalah generasi sebelumnya juga membenci.

Dari sini, permusuhan terlihat amat kerdil. Kita hanya meneropong beberapa laga, beberapa kerusuhan, tanpa mau mengkaji lebih dalam dan lebih jauh dari itu. Dampaknya, generasi ke generasi, mereka akan terus membenci tanpa alasan.

Lalu, pertanyaannya, mengapa suporter tim-tim di wilayah Mataram ini bisa saling sikut, terutama PSIM dan PSS? Padahal, secara geografis, kedua wilayah ini tidak memiliki sejarah panjang rivalitas apapun, tidak semengerikan Liverpool dan Manchester atau Barcelona dan Madrid.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Febriana Muryanto yang berjudul “Faktor Penyebab Konflik Slemania dan Brajamusti dalam Persepakbolaan di Daerah Istimewa Yogyakarta”, yang dikutip dari Kumparan, perselisihan ini terjadi pada tahun 2001, saat itu, suporter PSIM diusir oleh Slemania. Saling lempar benda-benda keras pun tak terelakkan.

Kembali mengutip dari Kumparan, dalam artikel “PSS vs PSIM: Derby Istimewa di Tanah Mataram”, Sirajudin Hasbi mengatakan prestasi berbeda yang dicatatkan kedua tim pada tahun yang sama merupakan benih di masa yang baru. Keberhasilan PSS mencuatkan kecemburuan suporter PSIM. Status PSIM sebagai barometer sepak bola dan representasi DIY perlahan diambil alih oleh PSS.

Saya setuju dengan kata-kata bahwa sepak bola tidak hanya 90 menit saja. Bahkan, sebelum dan setelah 90 menit adalah hal yang lebih seksi. Namun, kita tidak bisa membedakan persaingan sepak bola dan realitas. Sebenci-bencinya Liverpool dan Manchester United, mereka bersatu saat skuat MU meregang nyawa di Munich. Mereka bisa membedakan kapan mereka harus bermusuhan, dan kapan mereka bergandeng tangan.

Melihat beberapa kejadian setelahnya, tidak ada yang bisa dibenahi dari “generasi yang dicekoki oleh kebencian” seperti kita. Rasa benci yang diwariskan, kini sudah mengakar dengan kuat.

Masalahnya hanya satu hal, kita harus merawat generasi berikutnya. Tinggalkan sebuah cerita dengan kenyataan yang ada. Jangan ceritakan hanya dari satu sudut pandang saja, namun menyeluruh dari mana akar permusuhan ini berasal. Hulu dan hilir, warisi semuanya, kelak generasi baru ini akan memiliki sifat “benci yang lebih bermartabat”, mengolahnya dengan perasaan, bisa paham kapan harus membenci dan kapan harus mengerti esensi. Ketimbang kita yang sudah kalah sejak awal, “membenci dengan membabi-buta”, dengan cara yang amat salah.

BACA JUGA 4 Langkah yang Bisa Ditempuh Giring agar Mulus Menjadi Capres dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2020 oleh

Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Mempertanyakan Kebiasaan Peluk Bantal Guling Orang Indonesia Saat Tidur Terminal mojok

Desain Interior Ruang Rapat Paripurna MPR/DPR RI Bikin Gagal Fokus, Pantes Anggotanya Sering Tidur

17 Agustus 2021
Sebagai Anak Tengah, Saya Muak pada Glorifikasi Sulung dan Bungsu terminal mojok.co

Kalau Jakarta Punya PSBB, Ayah Protektif Punya PABB: Pembatasan Asmara Berskala Besar

15 April 2020
Ketindihan: 3 Macam Sleep Paralysis yang Saya Alami 10 Tahun Terakhir Terminal Mojok

Ketindihan: 3 Macam Sleep Paralysis yang Saya Alami 10 Tahun Terakhir

7 Desember 2020
Jogja dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Diguyur Hujan Sekali, Banjirnya Berkali-kali

Jogja dan Masalah Banjir yang Tak Kunjung Usai: Diguyur Hujan Sekali, Banjirnya Berkali-kali

24 Mei 2025
Aparat Penegak Hukum Harusnya Cinta Damai, Bukan Memukul Rakyat yang Sedang Aksi!

Aparat Penegak Hukum Harusnya Cinta Damai, Bukan Memukul Rakyat yang Sedang Aksi!

27 Agustus 2024
Membaca Salah Satu Buku yang Dibaca Suga BTS, 'Reinventing Your Life' terminal mojok.co

Membaca Salah Satu Buku yang Dibaca Suga BTS, ‘Reinventing Your Life’

10 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

LCGC Bukan Lagi Mobil Murah, Mending Beli Motor Baru (Unsplash)

Tidak Bisa Lagi Disebut Mobil Murah, Nggak Heran Jika Pasar LCGC Semakin Kecil dan Calon Pembeli Jadi Takut untuk Membeli

25 April 2026
Bandung Setelah Lebaran Jadi Surga Wisatawan, tapi Mimpi Buruk Warlok Mojok.co semarang

4 Hal yang Lumrah di Bandung tapi Tampak Aneh di Mata Orang Semarang

30 April 2026
3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung, Iri kepada Kota Bandung Mojok.co

3 Hal yang Membuat Warga Kabupaten Bandung Iri pada Kota Bandung

27 April 2026
Temanggung yang Terkenal Nyaman Malah Bikin Orang Jombang Nggak Betah Mojok.co

Temanggung yang Terkenal Nyaman Bisa Bikin Orang Jombang Nggak Betah

30 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026
Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

Fakta Nikahan Orang Madura, Resepsi Bertabur Uang tapi Akhirnya Jadi Masalah

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet
  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.