Ada satu kebohongan publik yang terus dipelihara di Jogja. Apalagi kalau bukan narasi bahwa kota ini adalah tanah suci bagi kaum berkantong cekak. Padahal, coba sesekali main ke daerah Seturan, Pogung, atau sepanjang Kaliurang bawah. Jangan harap ketemu keramahan harga. Yang ada justru deretan bangunan angkuh dengan barisan mobil necis yang berjejer rapi di halamannya. Itulah dia, monumen kapitalisme modern bernama kos eksklusif.
Di sinilah ironi itu dimulai. Jogja yang dulu dipuja karena kesederhanaannya, diam-diam bermutasi menjadi laboratorium properti yang keji. Tembok-tembok tinggi dan pagar menjulang tadi bukan cuma soal keamanan, tapi simbol validasi kalau kearifan lokal sudah kalah telak oleh kekuatan modal. Akhirnya, branding murah cuma jadi dongeng pengantar tidur yang kontras dengan realitas.
Ketika gerbang besi menjulang, saat itu pula budaya srawung Jogja menghilang
Dulu, kos-kosan di Jogja adalah tempat paling brutal sekaligus paling dirindukan buat belajar bersosialisasi. Mahasiswa rantau dipaksa kenal dan akrab dengan anak sebelah kamar. Alasannya sepele, antara harus antre mandi atau sekadar pinjam korek api.
Sekarang, kos eksklusif hadir memutus rantai silaturahmi itu lewat fasilitas kamar mandi dalam dan jasa layanan antar yang mengirim makanan sampai ke depan daun pintu. Hasilnya, seseorang bisa mendekam bertahun-tahun di satu gedung tanpa tahu siapa nama manusia di balik tembok sebelahnya. Budaya srawung yang merupakan fondasi Jogja pun tumbang, digantikan oleh individualisme yang dingin.
BACA JUGA: Fenomena Kos LV di Jogja, Dicari karena Bebas Bawa Pacar
Lahirnya kasta sosial baru di tengah kampung Jogja
Kos eksklusif bukan sekadar tempat menaruh raga, melainkan representasi status sosial. Bangunan-bangunan ini sering kali berdiri mencolok dengan karakter modern minimalis di tengah pemukiman warga yang bersahaja. Gayanya tentu berbeda dari kebanyakan rumah di sekitarnya.
Seolah, arsitektur kos tersebut ingin mendeklarasikan jurang strata penghuninya di tengah masyarakat. Jelas, situasi ini menciptakan jarak psikologis yang lebar antara mahasiswa pendatang dan penduduk asli. Mahasiswa nggak lagi merasa sebagai bagian dari denyut nadi kampung, melainkan hanya sebagai tamu premium yang menyewa ruang privat tak tersentuh oleh sapaan warga.
Keramahan punya label harga yang harus dibayar per bulan
Ada pergeseran makna dalam kata ramah di ekosistem kos eksklusif. Di kos-kosan model lama, ibu kos adalah orang tua ke dua. Sosok yang kadang galak dan hobi mengomel, tapi peduli kalau ada anak kos yang sakit atau pulang lewat tengah malam.
Di kos eksklusif, keramahan dikelola secara korporat oleh manajemen profesional atau penjaga yang tugasnya cuma memastikan penyewa bayar tepat waktu. Hubungan emosional yang tulus digantikan oleh relasi transaksional yang kaku. Jogja yang katanya istimewa karena manusianya, kini mulai terasa biasa saja karena semuanya sudah dikemas dengan paket harga.
Tuan rumah yang terasing di tanah sendiri
Inilah puncak komedi getir yang terbentuk dari eksistensi kos eksklusif di Kota Gudeg. Pembangunan kos eksklusif sangat masif satu dasawarsa ini. Hampir di setiap sudut Jalan Kaliurang, Seturan, hingga Palagan, hunian mentereng tersebut ada. Sedihnya, kehadiran kos eksklusif ini turut memicu kenaikan harga tanah dan kebutuhan pokok di sekitarnya.
Warung kelontong warga yang dulu murah, pelan-pelan berubah jadi minimarket atau kafe estetik. Dalihnya, untuk menyesuaikan daya beli penghuni kos mewah tersebut. Warga lokal akhirnya terhimpit. Mereka tinggal di Jogja, tapi nggak lagi mampu membeli barang-barang di lingkungan mereka sendiri karena harganya sudah dipatok untuk standar anak kos sultan.
Mari jujur, Jogja memang sedang nggak baik-baik saja di bawah kepungan beton kos eksklusif. Silakan saja terus jualan rindu dan romantisasi. Tapi jangan lupakan, tembok-tembok tinggi tadi adalah bukti bahwa kehangatan yang dulu dibanggakan sebagai identitas Kota Pelajar, pelan-pelan sedang digeser oleh transaksi dingin yang kurang ajar.
Memilih kos mewah memang hak asasi setiap orang yang punya saldo rekening nggak berseri. Namun ketika sebuah kota mulai kehilangan ruang untuk mereka yang sederhana, di situlah keistimewaannya patut dipertanyakan. Jogja mungkin masih tetap istimewa. Akan tetapi, sayangnya, hari ini keistimewaan itu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sanggup membayar tagihan bulanan dengan angka nol super panjang.
Penulis: Paula Gianita Primasari
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bebas dan Nyaman, Kos Eksklusif Menjamur di Jogja, Kaum Mendang-mending Minggir Dulu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















