Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Insecure dan Overthinking di Usia 20an

Mita Berliana oleh Mita Berliana
19 Maret 2020
A A
Insecure dan Overthinking

Insecure dan Overthinking di Usia 20an

Share on FacebookShare on Twitter

Umur kamu sudah masuk angka 20an? Kamu sudah pernah pergi ke mana saja? Sudah punya pencapaian apa saja? Gimana pendidikan, karier dan cita-citamu? Sudah berapa puluh buku yang kamu baca? Pertanyaan-pertanyaan ini selalu sukses bikin insecure dan overthinking ketika melihat kenyataan bahwa kita masih gini-gini aja di usia 20an. Boro-boro punya karier bagus dan pergi traveling ke sana ke mari, nggak sakit punggung gara-gara kebanyakan rebahan aja udah syukur.

Sebentar-sebentar, apa saya sudah masuk ke dalam quarter life crisis?

Setiap saya berdiskusi dengan teman yang seumuran, kami sama-sama sepakat bahwa di umur 20an ini kami mudah sekali insecure dan overthinking—yang ujung-ujungnya adalah perasaan “merasa gagal dan tidak berguna”.

Ketika mendengar bahwa teman merasakan hal yang sama, di satu sisi saya lega karena bukan hanya saya saja yang berpikir demikian. Di sisi lain, saya merasa ditampar kenyataan bahwa seiring bertambahnya usia, bertambah pula tekanan-tekanan yang akan kami hadapi. Jadi pengin berkata kasar, berat sekali ya quarter life crisis itu? Mana fasenya berjalan cukup lama. Katanya bisa sampai umur 30 tahun kita akan merasakan perasaan insecure dan overthinking ini.

Konon perasaan insecure dan overthinking ini bisa dihilangkan jika kita tahu goals alias tujuan hidup kita. Betul ~ satu-satunya obat dari perasaan ini adalah kita tahu apa tujuan hidup kita: untuk apa kita di sini; kita mau ke mana; apa yang kita inginkan; dan pertanyaan 5W+1H lainnya.

Yang jadi masalah, untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini, tidak cukup dengan begadang dalam satu malam. Banyak sekali pertimbangan dan perasaan-perasaan tidak nyaman yang harus kita hadapi.

Selain mengenai kebimbangan akan tujuan hidup, memasuki usia 20an pelan-pelan kita menyadari bahwa lingkar pertemanan akan menyempit. Mungkin kita tetap bersoasialisasi dengan semua orang, welcome dengan orang-orang baru, tetap ramah pada orang sekitar, tapi kita akan tahu dan terseleksi secara alami, siapa yang selalu ada disaat kita benar-benar butuh atau siapa yang selalu menyempatkan hadir pada segala situasi di hidup kita, poinnya bukan tentang prioritas, tapi siapa yang benar-benar menganggapmu ada di kehidupannya. Bukan yang sekadar kadang datang, kadang pergi.

Ukurannya bukan lagi siapa yang lebih lama atau paling lama bersamamu, tapi siapa yang memedulikanmu. Misalnya, kamu ngekos, ngontrak. Kalau tidak sekamar berdua, pasti di sisi kamarmu ada orang, entah mbak-mas kos, atau siapa pun yang satu hunian denganmu. Mereka adalah orang yang lama bersamamu walaupun berbatas tembok-pintu itu. Kamu dekat dengan mereka, tapi bisa saja mereka tidak peduli denganmu.

Baca Juga:

Yeom Mi Jeong ‘My Liberation Notes’ Adalah Kita yang Ada dalam Fase Quarter Life Crisis

Quarter Life Crisis Datang saat Sudah Jadi Orang Tua

Mereka tidak tahu uangmu tinggal berapa, tidak tahu kamu sudah makan atau belum, tidak tahu apa kegelisahanmu. Iya, benar mereka tidak tahu karena kamu tidak menceritakannya. Tapi, kenapa kamu tidak menceritakannya? Pasti ada ketakutan lain, kegelisahan lain, atau mungkin rasa sungkan karena emosi yang belum terikat.

Mungkin ada orang yang jaraknya 2 kilometeran denganmu, namun ia begitu mencemaskanmu begitu mengetahui dirimu tidak baik-baik saja, kemudian kalian saling menyempatkan diri di tengah kesibukan masing-masing untuk bertemu walau beberapa menit dengan alasan mengajak ngopi, pergi ke suatu tempat, atau dengan dalih mengantarkan makanan saling berbagi cerita tentang kawan dan peristiwa yang lagi “in” padahal sebenarnya ingin memastikan betul bahwa kamu baik-baik saja dan tetap tangguh dengan apa yang semesta bebankan padamu. Bukan tentang menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, tapi siapa orang yang benar-benar saling menalikan emosi dan saling berada dalam lingkaran sosial masing-masing.

Belum lagi, jika kamu perempuan. Memasuki umur 20an tentu ada tuntutan yang terselip, biasanya sih akan dikode, “udah ada calon belum?”, “kapan nikah?” atau saat menggendong anak kecil, “udah cocok loh.” Bahkan “sekolah mulu, nikahnya kapan? Cewe sekolahnya nggak usah tinggi-tinggi, nanti juga larinya ke dapur.”

Kalau laki-laki sudah beda urusan, tidak melihat usianya berapa asal sudah lulus sekolah dan ada pekerjaan barulah tuntutan masyarakat yang “itu” muncul. Beda sekali dengan perempuan yang serasa diikat ketakutan disebut, “perawan tua” atau “kalo nggak cepet nikah, nanti nggak laku-laku loh.” Mau tidak peduli dengan omongan orang sekitar ini nanti dicap anti sosial, mau peduli dengan omongan orang sekitar ini pusing sendiri.

Kalau sudah begitu satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan saya adalah: “Ini hidup saya, semua yang terjadi harus dalam kontrol dan kendali saya.”

BACA JUGA Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Good Looking atau tulisan Mita Berliana lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2020 oleh

Tags: Quarter Life Crisisusia 20an
Mita Berliana

Mita Berliana

Anak pangan tapi jarang makan. Hobi nulis dan tidur. Bisa kenalan lewat ig @berliana_mita.

ArtikelTerkait

Krisis Eksistensial

Untuk Siapapun yang Sedang Mengalami Krisis Eksistensial: Please Seek Help!

1 Oktober 2019
Yeom Mi Jeong My Liberation Notes Adalah Kita yang Ada dalam Fase Quarter Life Crisis Terminal Mojok

Yeom Mi Jeong ‘My Liberation Notes’ Adalah Kita yang Ada dalam Fase Quarter Life Crisis

24 April 2022
kapan kawin

Lebih Baik Bertanya ‘Kapan Turun Hujan?’ Daripada ‘Kapan Kawin?’

16 Oktober 2019
quarter life crisis mojok

5 Cara Meringankan Beban Quarter Life Crisis

19 Juli 2020
Tidak Semua Orang Tua Ideal, Banyak yang Justru Menuntut Pamrih dari Anak terminal mojok.co

Quarter Life Crisis Datang saat Sudah Jadi Orang Tua

17 Agustus 2020
bahagia walau tidak berguna, Quarter Life Crisis: Kenapa Kita Sangat Peduli Terhadap Angka

Quarter Life Crisis dan Alasan Kenapa Kita Sangat Peduli Terhadap Angka (Khususnya Gaji)

27 November 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

6 Alasan Perantauan seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo Mojok.co

6 Alasan Sederhana yang Membuat Perantau seperti Saya Begitu Mudah Jatuh Cinta pada Solo

12 Januari 2026
Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA Mojok.co

Bus Efisiensi Penyelamat Warga Purwokerto yang Ingin “Terbang” dari Bandara YIA

9 Januari 2026
Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

Coach Jualan di Shopee untuk Rakyat Jelata yang Gajinya Nggak Seberapa tapi Keinginannya Nggak Kira-kira

12 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

Bakmi Krinjing, Kuliner Kulon Progo yang Kalah Pamor dari Bakmi Jawa tapi Sayang Dilewatkan Begitu Saja

14 Januari 2026
Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

Perkampungan Pinggir Kali Code Jogja Nggak Sekumuh yang Dibayangkan Orang-orang meski Nggak Rapi

14 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 
  • Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya
  • Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis
  • Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota
  • Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.