Indigo Wannabe yang Muncul Saat Bencana Lama-lama Bikin Muak – Terminal Mojok

Indigo Wannabe yang Muncul Saat Bencana Lama-lama Bikin Muak

Uncategorized

Avatar

Di tiap bencana yang terjadi di Indonesia, pasti ada satu twit viral yang berisikan terawangan indigo wannabe yang menceritakan bencana tersebut dalam pandangan mistis. Mereka menceritakan keadaan korban atau kronologi kejadian dengan cerita-cerita yang biasa kau temui di cerita mistis murahan yang orang ceritakan berkali-kali.

Tiap kali melihat hal tersebut, alih-alih penasaran dan mendapat sudut pandang baru, saya justru marah. Pertama, air mata orang belum kering betul, jangan tambahi orang-orang tersebut dengan cerita tak masuk akalmu. Kedua, bisa jadi indigo wannabe tersebut sebenarnya hanyalah orang haus atensi. Mereka ingin viral dan dikenal cepat. Di negara yang penduduknya malas bayar BPJS namun dengan senang hati membeli ayam cemani sebagai sesajen dari dukun, cara paling cepat jadi viral ya berpura-pura jadi orang yang paham dunia mistis.

Mungkin kalian menganggap fenomena tersebut biasa saja. Toh, siapa tahu memang betulan bisa melihat dimensi lain. Tapi, bayangkan orang—yang entah indigo atau bukan—bilang bagaimana keadaan yang dilihat melalui terawangan tersebut ke keluarga korban. Bayangin betapa remuknya hati anggota keluarga yang ditimpa bencana.

Saya tidak percaya sama orang indigo. Saya percaya orang punya linuwih, saya percaya alam gaib—sebagaimana agama saya ajarkan. Tapi saya yakin satu hal: orang yang punya linuwih tidak akan iseng ngasih tau hal kayak gitu ke mereka.

Lagipula, siapa yang percaya orang asing yang tiba-tiba mendeskripsikan kejadian di dimensi—yang entah ada atau tidak—lewat sudut pandang mistis?

Saya nggak paham kenapa orang-orang brengsek macam itu muncul bak jamur letong setelah Idul Adha. Manusia bisa jahat, tapi setidaknya ada batas yang harus disepakati. Dan menunggangi kesedihan orang lain untuk menaikkan popularitas diri sendiri itu brengsek. Setara sama koruptor. Nggak juga sih, tapi intinya ndelogok.

Jika kalian mau melihat secara saksama, akan kalian temukan bahwa sebenarnya pola mereka itu amat sederhana. Yang diomongin so-called indigo di Twitter biasanya sama aja. Biasanya mereka bilang kalau di situ ada makhluk halus, bebas makhluknya apa, yang penting ada makhluk di situ. Dan tempat yang dimaksud biasanya memang terlihat angker. Makhluk halusnya pun sebenernya nggak jauh-jauh dari pocong dan kunti, setan paling banyak disebut di Indonesia, disumbang oleh film horor murahan. Tentu saja, kalau percaya omongan mereka yang polanya gitu aja, keliatan goblok saya.

Coba ada Hand-Slinging-Slasher, saya baru percaya.

Tapi, baru-baru ini, saya nemu setan baru yang muncul dari mulut so-called indigo. Kita sambut, Kraken.

Bangsat, Kraken, anjing. Tetanggaan sama Godzilla dong?

Betapa kurang ajar manusia yang ngirim kayak gituan ke keluarga korban, yang air matanya masih banjir, bahwa anggota keluarga mereka ditahan Kraken. Kan asu banget menungso ngono kui. Itu bagi saya udah menghina keluarga tersebut dan pantas untuk disuling silite.

Bagi saya, cerita para orang yang mengaku bisa melihat hal-hal tak kasat mata mulai kelewatan dan melanggar etika. Publik terus-terusan diminta membaca cerita-cerita bodoh tentang hantu yang bikin bencana atau kronologi kejadian yang didalangi kekuatan jin. Apa urgensinya cerita bahwa longsor di daerah A adalah hasil dari pergeseran dimensi Nyi Roro Kidul? Apa yang mau disampaikan dari ada tentakel yang memegangi kapal? Apalagi itu diceritakan ke keluarga korban, mbok ngabarine neng National Geographic.

Pertanyaan yang saya ajukan itu bukanlah ungkapan paitan sengit, namun sebuah usaha menyadarkan bahwa sejatinya kita keliru. Cerita horor tentang bencana tak memberikan apa-apa kecuali kegaduhan dan kebodohan yang mencederai nalar.

Bahwa cerita itu memang menarik dan out of the box, iya. Tapi, jika cerita mistis dijejalkan kepada khalayak umum alih-alih pengetahuan tentang mitigasi bencana, ya orang-orang akan konsisten dalam hal kebodohan.

**

Cerita mistis memang laku. Manusia diberkahi dengan rasa ingin tahu yang tinggi, dan hal tak terjangkau macam dunia mistis menarik banyak atensi. Konten hantu-hantu di YouTube dengan formula cerita seram plus musik seram murahan begitu laku, pengobatan dengan media mistis menjamur, adalah contoh bagaimana rasa haus akan pengetahuan tentang mistis memang tinggi.

Tapi, seharusnya ada garis jelas yang tak boleh dilewati. Empati perlu ditaruh di depan dan tak boleh didahului kepentingan lain. Tak seharusnya konten tentang arwah penasaran di daerah yang baru ditimpa bencana muncul. Tak seharusnya anggota keluarga yang ditimpa bencana ditanyai perkara firasat. Pun, tak perlu kau ceritakan tentang kejadian di dimensi lain.

Jujur saja, tidak ada yang butuh pendapat dan kronologi dari para indigo wannabe brengsek yang mengotori linimasa dan akal sehat. Simpan kekuatanmu untuk hal lain yang lebih berguna. Silakan gunakan pada judi bola, itu jauh lebih baik daripada masuk DM orang dan ngasih hal yang bikin orang makin sedih.

Atau diam saja, itu jauh lebih baik.

BACA JUGA Korupsi Bansos dan Dana Haji, Mana yang Lebih Bajingan? dan artikel Rizky Prasetya lainnya.

Baca Juga:  Selain Majalah Bobo, Tabloid Fantasi dan Majalah Mentari Adalah Bacaan Anak 90-an yang Wajib Dikenang
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
25


Komentar

Comments are closed.