Merantau di Kota Malang selalu menjadi incaran para calon mahasiswa. Termasuk saya sendiri.
Minggu-minggu awal saat menetap di Kota Malang, rasa ingin tahu saya tentang kondisi lingkungan sekitar sangatlah besar. Maka, suatu pagi, saya dan seorang teman memutuskan untuk jalan-jalan, menelusuri tiap gang yang ada di sekitar.
Kami tidak ingin dijuluki sebagai manusia “nolep” karena tidak mengetahui ada apa saja di lingkungan sekitar Kota Malang. Dan tentu saja, berbekal pengetahuan yang sangat sedikit, kami tersesat.
Bukan rasa takut atau kebingungan yang kami rasakan saat itu. Justru rasa penasaran yang semakin membara. Saat itu kami membayangkan sedang berada di sebuah permainan labirin. Tanpa bantuan Google Maps, kami harus bisa mencari jalan sendiri.
Sesekali, kami menertawakan kebodohan ini. Terkadang merasa kesal dan resah saat mencium bau tidak sedap saat menelusuri labirin gang sempit.
Kondisi ini tak terhindarkan. Sebab, banyak masyarakat Kota Malang memanfaatkan lahan yang mereka punya untuk membangun kos-kosan. Bahkan, tak jarang dari mereka yang memaksa rumahnya sendiri menjadi kos.
Memang, sih, hitung-hitung menambah pemasukkan keuangan. Tapi mereka mengabaikan fungsi lahan terbuka hijau hanya untuk kepentingan ekonomi pribadi.
BACA JUGA: Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic
Ledakan urbanisasi Kota Malang
Sebagai kota pendidikan yang menampung berbagai mahasiswa dari berbagai daerah, setiap tahunnya, Kota Malang mengalami lonjakan urbanisasi. Selain untuk sekolah, banyak pendatang juga mencari pekerjaan.
Maka, kebutuhan tempat tinggal ini mendesak masyarakat di Kota Malang berlomba memaksakan lahan yang mereka punya. Demi memenuhi kebutuhan ekonomi pribadi mereka, fungsi lahan terbuka hijau tak pernah terpedulikan. Akibatnya, banyak rumah yang berdiri berdesakan sehingga menimbulkan rasa pengap.
Labirin gang sempit
Gang-gang ini bukan hanya jalan pintas. Namun, salah satu bukti betapa sesaknya Kota Malang dalam bernapas. Pancaran sinar UV dari mentari pagi yang seharusnya memberikan jutaan manfaat seakan enggan masuk ke dalam labirin di gang sempit. Aroma masakan tak hanya tersebar di satu rumah. Namun bisa menyebar ke berbagai rumah.
Lima rumah yang berhimpitan terasa seperti berada di satu rumah. Adanya peraturan mengenai pengemudi kendaraan yang diwajibkan turun saat akan memasuki labirin gang itu.
Banyak masyarakat Kota Malang yang harus berjalan keluar gang terlebih dahulu untuk menunggu penjemputan di pinggir jalan besar. Serta aroma drainase yang tersumbat oleh sampah menjadi aroma khas saat melewati gang-gang tersebut. Semua ini membuktikan betapa sesaknya kondisi lingkungan yang jarang tersorot oleh mata.
BACA JUGA: Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas
Hilangnya estetika Kota Malang
Di balik tembok-tembok minimalis kafe tersimpan beton-beton lembab yang berdiri berhimpitan. Kota Malang memang bisa menyajikan pemandangan indah. Namun, di balik itu, kamu akan terdiam ketika melihat kondisi masyarakat. Hanya berjarak beberapa meter dari wajah kota yang penuh estetika, terdapat sisi lain yang tersimpan.
Banyak rumah yang dulunya memiliki sedikit lahan sebagai daerah resapan air, kini hilang hanya karena memaksakan tempat tinggalnya sebagai sebuah kos-kosan. Tak hanya itu, kabel listrik yang semrawut menjadi keresahan banyak pihak.
Hilangnya estetika di Kota Malang bukan hanya permasalahan drainase atau kabel semrawut di sepanjang jalan. Akan tetapi, hilangnya Lahan Terbuka Hijau hanya karena ambisi ekonomi juga salah satunya.
Masyarakat yang harus membayar mahal kelak. Hilangnya fungsi lahan menyimpan bencana masa depan. Ah, tak perlu membayangkan masa depan karena “bencana” itu sudah terjadi. Salah satunya adalah banjir yang kerap terjadi ketika hujan turun.
Dulu, saya mengagumi keindahan Kota Malang. Namun kini, saya tahu kehidupan yang sebenarnya di balik estetika salah satu Kota Pendidikan ini. Dan estetika itu, nyatanya, sudah hilang.
Penulis: Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Kota Malang Itu Bukan Kota Slow Living, tapi Slow Motion
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
