Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Cuma Haters yang Bilang Pemerintah Jember Nggak Paham Prioritas

Ahmad Deni Rofiqi oleh Ahmad Deni Rofiqi
7 Desember 2024
A A
Cuma Haters yang Bilang Pemerintah Jember Nggak Paham Prioritas Mojok.co

Cuma Haters yang Bilang Pemerintah Jember Nggak Paham Prioritas (wikipedia.org)

Share on FacebookShare on Twitter

Jember, kota ini punya cara sendiri buat bikin kita tersenyum dan menghela napas di saat yang bersamaan. Jember itu semacam paket all-in-one: hiburan, drama, dan tantangan hidup dalam satu tempat. Mungkin itulah daya tarik Jember, kita nggak pernah tahu apa yang bakal terjadi di tikungan selanjutnya.

Dalam sebuah catatan di buku Asal Usul, Mahbub Djunaidi menulis, “semua makhluk hidup mencintai kotanya. Rasanya bersedia berkelahi hingga mati kalau saja ada orang yang meremehkannya. Bukan saja kotanya yang kusenangi, melainkan administratornya.” 

Bila Mahbub mencintai kota dan administratornya, saya mencintai kota ini karena pemerintah daerahnya sangat mengenal kondisi sosial-kebudayaan warganya. Kamu tahu kan bunyi konstitusi negara kita bilang kalau negara berkewajiban memenuhi hak warganya mendapat pendidikan layak. Namun, pemerintah daerah Jember lebih paham warganya, sehingga tidak memprioritaskan hal itu. 

Fasilitas pendidikan buruk adalah metode belajar lain

Berdasarkan temuan Radar Jember, ada lebih dari 3.000 sekolah negeri dan swasta yang ada di Jember. Sebanyak 400 sekolah di antaranya dalam kondisi yang membutuhkan perbaikan. Ini dari segi infrastruktur. 

Pada 11 Agustus 2024, saya menulis opini berjudul Petak 56 dan Komitmen Pendidikan di Jember yang terbit di media Teliti.id. Di situ saya sampaikan, ada kawasan terpencil di tengah hutan yang berada di Dusun Sepuran, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember. Namanya saja  Petak 56, namun kawasan itu dihuni oleh sekitar 80-an orang dewasa.

Saya sudah dua kali ke sana. Saya berhasil memotret kenyataan tentang anak-anak SD yang setiap pagi harus berangkat lebih awal dibanding teman-teman yang lainnya. Mereka juga harus rela tidak ke sekolah ketika tak ada yang mengantar dan ketika cuaca buruk. Belum lagi ketika beberapa tahun lalu pandemi Covid-19 meneror setiap sektor kehidupan, kegiatan belajar anak-anak di Petak 56 lumpuh total.

Potret di atas menggambarkan pemerintah Jember punya metode ampuh untuk menggembleng warganya sedari dini. Dengan tembok sekolah yang bolong, atap yang nyaris ambruk, atau meja belajar yang sudah berumur lebih tua dari gurunya anak-anak SD bisa belajar hal baru. Iya, belajar tabah dan ikhlas dari alam. 

Kemarin saya sempat ngobrol dengan seorang guru honorer di pelosok Jember. Kami duduk di kursi plastik yang mirip kursi pernikahan hajatan tetangga. Guru ini bercerita tentang betapa susahnya kondisi sekolah mereka. Saat hujan turun, anak-anak lebih sibuk menghindari bocoran air dari atap ketimbang mendengarkan pelajaran matematika. Tapi tenang, katanya, anak-anak tetap punya semangat belajar tinggi! Masalah kecil seperti ruang kelas yang tergenang air saat hujan bukanlah penghalang. Malah, mungkin ini adalah bagian dari pelajaran praktek tentang “fisika kehidupan.”

Baca Juga:

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

Membayangkan Jalur KA Kalisat Jember-Bondowoso Aktif Kembali, Pasti Banyak Manfaatnya

Pemda Jember jelas paham prioritas

Saya sama sekali nggak setuju dengan anggapan infrastruktur pendidikan yang belum layak adalah potret gagalnya pemerintah daerah.  Dikira pemerintah Jember tidak serius mengurus warganya ya? Sekarang coba tengok prioritas pemda yang mulia dan penuh kreativitas itu. 

Pemerintah daerah lebih memilih menghamburkan uang rakyat untuk Jember Fashion Carnival daripada memperbaiki sekolah. Saya kira pemikiran mereka begini, “Buat apa sibuk membangun SD kalau kita bisa membangun SDM?” Oh, bukan, bukan SDM yang itu—maksudnya, warga yang super duper mumpuni dalam urusan fashion yang mendatangkan pundi-pundi rupiah yang banyak. Lebih prestisius, kan?

Tidak berhenti di situ, coba deh tengok anggaran daerah yang dialokasikan untuk hal-hal esensial. Eh ternyata malah lebih banyak dihabiskan buat subsidi bagi kegiatan “sosial” seperti konser dadakan di alun-alun kota atau renovasi jembatan semanggi yang entah mengapa sering terlihat lebih gemerlap daripada lampu jalan di kawasan permukiman. Bahkan, kabarnya biaya renovasi memakan angka yang fantastis demi sudut-sudut Jember yang lebih indah. 

Lebih briliannya lagi, program Jember Siaga Bencana bukan bertujuan untuk mengatasi banjir, tapi lebih ke persiapan warga agar lebih tangguh menghadapi genangan air. Jadi kalau di Jakarta ada normalisasi sungai, di Jember ada normalisasi warga—agar terbiasa dengan kondisi alam yang serba penuh kejutan. 

Belum lagi soal transportasi. Kita boleh bangga dengan keberadaan bandara Notohadinegoro, tapi seberapa sering sih dipakai? Paling sepi seperti kuburan. Tapi tenang, pemerintah punya ide cemerlang lagi. “Kita bikin lebih banyak spot foto,” kata mereka. Tujuannya jelas, biar orang-orang bisa foto di sana, upload di Instagram, dan bilang, “Jember punya bandara modern.” Padahal, ya cuma buat foto-foto. Transportasi antar kota dan antar kecamatan? Ah, itu kan cuma butuh naik ojek atau nunggu angkot yang tak pernah datang tepat waktu. Romantis sekali, bukan?

Pemerintah ingin warganya tidak bosan

Kalian mungkin akan berpikir, kenapa pemerintah daerah seperti itu? Kenapa tidak fokus pada hal yang esensial? Jawabannya simpel saja, kalau semuanya sudah beres, hidup di Jember bakal terlalu membosankan. Tanpa sekolah yang hampir roboh, tanpa banjir musiman, Jember akan kehilangan ciri khasnya. Tidak ada lagi drama-drama kehidupan yang bisa dibagikan di media sosial, tidak ada lagi obrolan seru tentang “betapa absurdnya kota kita ini.”

Itu mengapa, mari kita berterima kasih pada pemerintah daerah yang begitu kreatif dan penuh inovasi dalam menghadirkan realita kehidupan. Berkat mereka, kita bisa belajar ilmu hidup di bangku sekolah yang sudah reyot. Kita juga tidak akan pernah bosan karena sehari-hari akan selalu menyiasati jalanan macet hingga banjir. Dijamin hidup penuh warna, di mana kita bisa tertawa dan menghela napas panjang, semuanya di waktu yang bersamaan. Jadi, kalau ada yang bilang pemerintah Jember tidak paham prioritas, mereka cuma haters yang nggak pernah hidup di Jember. 

Penulis: Ahmad Deni Rofiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Unpopular Opinion: Jember Daerah yang Cocok untuk Slow Living di Jawa Timur

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Desember 2024 oleh

Tags: Hatersjemberpemda jemberpemerintah jember
Ahmad Deni Rofiqi

Ahmad Deni Rofiqi

Koordinator Pendidikan Hukum dan Politik di Participation, Action and Research (PAR) Alternatif Indonesia. Menaruh perhatian atas isu-isu hukum, politik dan filsafat.

ArtikelTerkait

Kemacetan di Jember Bukan karena PKL, tapi karena Mahasiswa!

Kemacetan di Jember Bukan karena PKL, tapi karena Mahasiswa!

18 November 2023
50 Kosakata yang Sering Digunakan Masyarakat Madura Swasta dalam Interaksi Sehari-hari Terminal Mojok.co

50 Kosakata yang Sering Digunakan Masyarakat Madura Swasta dalam Interaksi Sehari-hari

17 Mei 2022
Jawa Timur Semakin Berisik karena Fenomena Adu Sound Horeg (Unsplash)

Jawa Timur Makin Berisik karena Adu Sound Horeg: Dikritik dan Dibenci, tapi Punya Andil Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

4 Agustus 2023
3 Hal yang Buat Saya Bangga Jadi Alumni Polije, Kampus Politeknik Satu-satunya di Jember yang Jarang Disorot

3 Hal yang Buat Saya Bangga Jadi Alumni Polije, Kampus Politeknik Satu-satunya di Jember yang Jarang Disorot

26 Juli 2025
Jember Terlalu Sibuk Karnaval Sampai Lupa Angka Stunting di Daerahnya Tertinggi Se-Jawa Timur  Mojok.co

Jember Terlalu Sibuk Karnaval Sampai Lupa Angka Stunting di Daerahnya Tertinggi Se-Jawa Timur 

8 Februari 2024
3 Peninggalan Jepang di Jember yang Jarang Diketahui terminal mojok.co

3 Peninggalan Jepang di Jember yang Jarang Diketahui

23 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

Harusnya Anak PNS Dapat UKT yang Standar, Bukan Paling Tinggi, sebab Tidak Semua PNS Kerja di Kementerian dan Pemda Sultan!

4 April 2026
5 Alasan Freelance Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di Tahun 2025

Dear Penipu Lowongan Freelance, yang Kami Butuhkan Itu Bayaran Nyata, Bukan Iming-iming Honor Besar dari Top-Up Biaya Deposit!

2 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina
  • Buka Bisnis di Desa Menggiurkan, Tapi Bukannya Slow Living Malah Dibayangi Sengsara karena Kebiasaan Warga
  • Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif
  • Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol
  • Hari-hari Penuh Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo Menuju Kebangkrutan: Sudah Melarat karena Tipisnya Keuntungan Kini Terancam Mati karena Kenaikan Harga Plastik
  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.