Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Sisi Lain Jember Fashion Carnaval, Pagelaran Paling Bergengsi Sekaligus Jadi Penyumbang Sampah di Kabupaten Jember

Adhitiya Prasta Pratama oleh Adhitiya Prasta Pratama
6 Agustus 2024
A A
Sisi Lain Jember Fashion Carnaval, Pagelaran Paling Bergengsi Sekaligus Jadi Penyumbang Sampah di Kabupaten Jember

Sisi Lain Jember Fashion Carnaval, Pagelaran Paling Bergengsi Sekaligus Jadi Penyumbang Sampah di Kabupaten Jember (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jember Fashion Carnaval atau JFC menjadi acara tahunan yang giat digarap oleh Pemkab Jember. Tentunya acara ini menjadi atmosfer tersendiri bagi masyarakat Jember khususnya. Terutama kalau bicara soal kreativitas dan kebudayaannya, nggak bisa didebat. Sebab, JFC sudah terkenal sampai ke seluruh dunia.

Tahun ini saja, pagelaran Jember Fashion Carnaval sudah memasuki acara yang ke-22 sejak 2003 silam. Acara ini dilaksanakan pada 2 Agustus 2024 lalu. Pastinya, animo masyarakat dari dalam maupun luar Kabupaten Jember sangat antusias menyambutnya. Hal ini bagi saya lumrah karena Jember sudah didapuk jadi Kota Karnaval. Apalagi perayaannya mengundang beberapa figur publik terkemuka. Sebut saja Tiara Andini, Aurel Hermansyah, Bubah Alfian, hingga Raisa turut hadir sebagai bintang tamunya.

ADVERTISEMENT

Namun menurut saya, semakin meriah acara yang diselenggarakan, maka akan semakin banyak pula hal yang ditinggalkan. Bisa citra, ketenaran, kepopuleran, dan sebagainya. Saya di sini nggak bicara soal ketenaran dan keberhasilan acara itu. Sebab, keberhasilan itu sudah dicapai dari tahun ke tahun, karena sudah pasti meriah dan sudah pasti berhasil. Meski begitu, ada dampak lain yang paling kentara usai acara itu. Ya apalagi kalau bukan soal sampah.

Pagelaran Jember Fashion Carnaval nggak hanya meninggalkan kreativitas, tapi juga sampah

Seperti yang sudah saya bilang tadi, semakin meriah sebuah acara, akan semakin besar pula dampak yang dihasilkan. Tentu nggak bisa dimungkiri, JFC ini banyak meninggalkan kesan yang luar biasa bagi masyarakat Jember. Lantaran pada tahun ini, JFC mengusung tema Algorithm dengan tagline “Beyond the Binary Our Story”.

Mendengar temanya saya saja sudah menggelegar, bukan? Lha bagaimana tidak, tagline tersebut seolah menghipnotis siapa pun yang penasaran dengan pertunjukkan Jember Fashion Carnaval. Meskipun banyak penonton juga nggak memedulikan tagline itu, sih. Dan, memang benar. Dalam acara itu, ada biner yang menjadi kisah JFC selama bertahun-tahun ini, yakni kreativitas dan sampah.

Bicara soal kreativitas, tentu nggak perlu disinggung lagi. Tiap tahun, tiap periode, dan tiap pagelaran, JFC berhasil menyuguhkan berbagai macam kreativitas dalam fesyennya. Namun, lagi-lagi, di balik tampilan yang memukau itu, ada cerita yang tak pernah tersampaikan, yaitu sampah usai acaranya. Sebab, seusai pagelaran, terlihat jalanan yang dilewati oleh parade JFC dipenuhi dengan sampah berserakan. Hal ini tentu sangat memberikan kesan buruk bagi karnaval bertaraf internasional itu.

Saya tentu nggak asal bicara. Sebab kemarin, saya mendapat laporan dari media sosial tentang betapa penuhnya jalanan Jember pasca Jember Fashion Carnaval. Ada sampah plastik, kresek, hingga bungkus makanan cepat saji tercecer di sepanjang jalan. Batin saya, kok bisa, ya? Apa iya parade karnaval yang sudah diakui dunia itu masih berkutat dengan masalah sampah? Maksud saya, apa nggak ada tindakan preventifnya?

Setahu saya, dalam pagelaran JFC tahun ini sudah diklaim bahwa 30 persen bahan kostumnya terbuat dari sampah daur ulang. Lha ini juga makin lucu, to, menurut saya. Bisa-bisanya ada pertunjukan yang kostumnya pakai konsep sampah daur ulang, tapi acaranya malah menghasilkan sampah-sampah yang berserakan. Ya jelas ra mashok!

Baca Juga:

Sebagai Warga Jember, Saya Sudah (Amat) Muak dengan Warna Pink!

Keindahan Pantai Nanggelan Jember Hanya Bisa Dinikmati oleh Mereka yang Rela Repot, Wisatawan Manja Minggir Dulu

Kurangnya kesadaran warga Jember soal sampah

Pemkab Jember sebenarnya sudah menyediakan 215 personel kebersihan atau pasukan hijau. Akan tetapi, hasilnya sudah bisa ditebak, nggak begitu berpengaruh. Ratusan personel kebersihan juga tampak kewalahan dengan sampah-sampah yang berserakan. Saya jadi mikir, jangan-jangan, Pemkab Jember lebih memilih tindakan penanganan sampah setelah JFC ketimbang sebelum pagelaran JFC.

Namun, saya juga nggak bisa menyalahkan Pemkab Jember soal ini sepenuhnya. Tentu analisis saya ini bisa saja benar dan bisa saja keliru. Sebab, saya yakin Pemkab juga sudah mengantisipasi masalah ini jauh-jauh hari dan secara matang. Ya, walaupun tiap tahun masalah sampah ini masih tetap sama, sih. Lha bagaimana, Jember Fashion Carnaval usai, sampah-sampahnya banyak yang nggak terurai.

Di satu sisi, para penonton yang datang juga masih minim kesadaran akan kebersihan sampah itu. Buktinya pengalaman saya tahun lalu, ketika JFC diselenggarakan, saya melihat dengan mata kepala sendiri kalau banyak penonton yang dengan enaknya membuang sampah bekas minuman secara sembarangan. Saya pikir apa yang dilakukan itu hanya oleh satu orang, lha ternyata oleh banyak orang.

Minimnya kesadaran dari penonton ini tentu juga menjadi salah satu biangnya masalah sampah ini. Para penonton mungkin juga lupa kalau dalam setiap pagelaran, kebersihan juga menjadi nilai utama. Maksud saya, kalau pagelarannya masih bertaraf lokal, maka bisa sajalah hal-hal soal sampah ini terlena. Lha ini wes bertaraf internasional, lho. Jember Fashion Carnaval ini disorot dunia, Bos!

Masih ada harapan, tapi…

Saya tentu juga nggak bisa menggeneralisasi tingkat kesadaran penonton Jember Fashion Carnaval secara umum. Sebab, bisa-bisa saya digebuki para penonton yang nggak terima dengan pernyataan saya tadi. Ya, mungkin nggak semua, tapi banyak. Meski begitu, jujur masih ada kok masyarakat yang memang sadar dengan masalah sampah ini.

Saya bisa buktikan kalau ada beberapa masyarakat atau komunitas yang akhirnya bergerak menyelesaikan masalah ini. Menurut laporan, ada tujuh komunitas yang andil dalam menangani masalah ini. Misalnya, seperti kelompok Musyawarah Antar Gereja (MAG) dan siswa-siswi Jember yang beberapa waktu terlihat membersihkan sampah yang ada di sekitar jalanan pagelaran itu.

Kebetulan guna mencari data untuk tulisan ini, saya lewat dari Jalan Sultan Agung hingga Jalan Gajah Mada seusai acara Jember Fashion Carnaval. Memang di sana terlihat banyak masyarakat, komunitas, dan pasukan hijau membersihkan lautan sampah tadi. Mereka bahu-membahu mengembalikan wajah Jember yang bersih tanpa sampah itu.

Namun, yang jadi perhatian saya selain kesadaran dari beberapa masyarakat itu adalah bagaimana masalah ini bisa dievaluasi. Pasalnya, kalau masalah sampah yang hadir selepas acara JFC ini masih berlanjut hingga beberapa tahun ke depan, maka hal-hal seperti ini, lautan sampah, akan terus begitu-begitu saja.

Maksud saya, seharusnya Pemkab Jember dan penyelenggara acara bukan hanya mengevaluasi bagaimana Jember Fashion Carnaval pada tahun depan bisa tambah meriah. Tapi juga mengevaluasi masalah sampah yang menyebalkan sekaligus mengkhawatirkan ini. Jika evaluasi yang dihasilkan hanya sebatas bagaimana JFC bisa meriah, maka ya siap-siap saja, JFC yang akan datang hanya akan jadi produsen sampah (lagi). Dan, citra jember Kota Karnaval akan jadi citra yang buruk.

Penulis: Adhitiya Prasta Pratama
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kampung Kreatif Jember Fashion Carnival, Dulu Digadang-gadang, Kini Mulai Menghilang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Agustus 2024 oleh

Tags: jemberJember Fashion CarnavalKabupaten Jember
Adhitiya Prasta Pratama

Adhitiya Prasta Pratama

Seorang mahasiswa yang hobi baca apa aja di depannya.

ArtikelTerkait

50 Kosakata yang Sering Digunakan Masyarakat Madura Swasta dalam Interaksi Sehari-hari Terminal Mojok.co

50 Kosakata yang Sering Digunakan Masyarakat Madura Swasta dalam Interaksi Sehari-hari

17 Mei 2022
Jalan Mastrip: Jalan Paling Problematik di Jember, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya

Jalan Mastrip: Jalan Paling Problematik di Jember, Hanya Orang Sabar yang Sanggup Melewatinya

6 November 2023
Cara Cerdas Naik Bus Jurusan Surabaya-Jember supaya Terhindar dari Bus Rongsokan Tarif Mahal Mojok.co

Siasat Naik Bus Jurusan Surabaya-Jember supaya Nyaman dan Bebas Tarif Mahal

3 Januari 2025
Roxy Square Jember, Mal Sejuta Umat Pada Zamannya yang Pamornya Kian Tenggelam Mojok.co

Roxy Square Jember, Mal Sejuta Umat Pada Zamannya yang Kini Pamornya Kian Tenggelam

16 Januari 2024
Alun-Alun Jember Habiskan Dana Puluhan Miliar untuk Pembangunan, Sayang Fasilitasnya Memprihatinkan

Alun-Alun Jember Habiskan Dana Puluhan Miliar untuk Pembangunan, Sayang Fasilitasnya (Tetap) Memprihatinkan

19 April 2025
Wisata Jember Nestapa di Puncak Rembangan Arjasa (Unsplash)

Nestapa Wisata Jember: Puncak Rembangan di Kecamatan Arjasa Butuh Perhatian dan Pengelolaan Maksimal

31 Juli 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
TransJatim Dibenci, tapi Ia Penyelamat Mahasiswa Surabaya (Wikimedia Commons)

Ugal-ugalan Sopir TransJatim Menyelamatkan Masa Depan Mahasiswa Mojokerto yang Kuliah di Surabaya

22 Juni 2026
Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026
Jalanan Surabaya yang "Liar" Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas Mojok

Jalanan Surabaya yang “Liar” Bikin Jiper Pengendara Tertib, Terlalu Banyak Pemotor yang Melanggar Lalu Lintas

24 Juni 2026
Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

26 Juni 2026
Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

23 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.