Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Hal-hal Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
1 Juni 2021
A A
Hal yang Menyebalkan dari Kepanitiaan Hajatan di Kampung Saya terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Yang namanya WO (Wedding Organizer), kini bejibun jumlahnya. Mereka ada di mana-mana, baik kota maupun desa. Kita bisa memilih mau pakai yang seperti apa, bisa menyesuaikan dana. Tapi, di kampung saya tercinta, yang namanya WO masih rung usum, nggak kepakai. Kami masih memegang budaya gotong royong dan percaya dengan kinerja tetangga. Meski tetap saja, panitia hajatan kampung justru sering kali bikin naik darah. Karena terkadang, orang dekat justru lebih berbahaya.

Meski sudah memilih ketua panitia, tetap saja ada banyak kepala yang ikut bikin keputusan. Alhasil, para pemuda dan para anggota panitia kerap dibikin bingung mau ikut yang mana. Akhirnya terjadi perpecahan, ada yang ikut ketua yang resmi, ada yang memilih manut ketua wanna be. Tentu pihak tukang kompor sudah pasti ada. Para pemuda seperti kami ini yang jadi korban, yang itu nyuruh begini, yang itu nyuruh begitu, bikin pusing dan capek duluan.

Pemilihan ketua panitia hajatan kampung sendiri sebenarnya sudah bikin pusing. Mau pilih yang terpercaya, bisa bekerja dengan baik, berpengalaman, tahu mana yang baik dan benar-benar meringankan pekerjaan yang punya gawe, kadang kalah sama yang namanya rasa nggak enakan. Soalnya, selalu ada pihak yang merasa lebih mampu dan sering melakukan sabotase jika dirinya ra diuwongke atau dijadikan pemimpin. Sayangnya, nggak hanya ada satu pemuka masyarakat yang hobi jadi ketua, jadinya sabotase tetap sering terjadi. Kami para pemuda cuma bisa berusaha melindungi yang punya hajat dari civil war.

Setelah rapat usai, keputusan sudah diambil, tugas dibagi, jalannya acara sudah direncanakan dengan matang, tibalah saat eksekusi. Sudah pasti jaminan ambyar, apa lagi kalau bukan karena gerombolan sobat sakit hati dan iri dengki. Sosok yang sakit hati akan menggunakan teknik sabotase yang menjijikkan dan bikin yang punya rumah remuk redam. Tukang sabot sendiri sebenarnya ada dua macam, yang kecewa karena nggak dianggap dan yang iri dengki. Namanya juga tetangga, ya tho?

Mulai dari saat tenda dipasang. Si tukang sabot akan mengompori yang punya rumah di depan panitia yang lain. Mulai dari menyarankan tambah tenda, mengganti tenda yang lebih bagus, sampai minta diadakan live music alias dangdutan. Tentu panitia yang sudah kongkalikong dengan si tukang sabot langsung ngomong setuju. Tak jarang, karena malu dan gengsi, tentu saja yang punya hajat terpaksa menuruti. Saat tuan rumah bingung soal dana, si tukang sabot cuma ngomong, “Rezeki ada yang ngatur, percaya saja,” sembari senyum tersungging. Ujung-ujungnya dia kabur setelah acara usai, nggak mungkin doski minjemin, apalagi ngasih. Kasihan yang punya hajat, mumet.

Jika cara sabot semacam itu tak berhasil (biasanya karena tuan rumah tak peduli gengsi) para tetangga yang berbakat iri dengki dan punya naluri rasan-rasan tingkat tinggi dimanfaatkan. Mereka akan ngolo-olo atau menjelek-jelekkan hajatan itu. Kadang hanya lewat hoaks dan membesar-besarkan masalah kecil. Sayangnya, banyak yang percaya dan akhirnya nggak mau ikut rewang atau bantuin hajatan. Para sinom atau para pemuda pramusaji jadi nggak kompak. Tentu karena ada yang ikut gabung ke kubu tukang sabot dan tukang bikin hoaks. Saat acara berjalan, lebih banyak yang duduk ketimbang bantuin. Remuk redam.

Akan selalu ada pihak yang memang niat membantu, pun pihak yang berniat merusak acara. Yang paling bahaya adalah saat ada panitia yang punya tugas krusial malah mangkir karena termakan bujuk rayu si tukang sabot, atau justru memang keinginan dia sendiri. Yang begini ini yang biasanya sering terjadi. Dan biasanya justru panitia jenis ini datang dari circle keluarga yang punya hajat sendiri. Musuh dalam selimut. Eng, ing, eng banget nggak, tuh.

Panitia hajatan yang seharusnya meringankan pekerjaan yang punya gawe, malah sering kali bikin tambah pusing dan menimbulkan masalah selepas acara selesai. Sindir menyindir dan rasan-rasan antartetangga perihal hajatan itu akan terus berjalan, sepanjang hayat, mirip konflik pilihan lurah. Panitia yang niat kerja, disusupi para pengikut tukang sabot, yang akhirnya membuat kepanitiaan hancur dan nggak bisa kerja dengan baik. Hajatan yang seharusnya dijadikan sebagai lahan gotong royong, hanya dijadikan lahan gontok-gontokan tak penting.

Baca Juga:

Saya Tidak Antisosial, Saya Cuma Takut Ikut Rewang dan Pulang Dicap Nggak Bisa Apa-apa

Realitas Pahit di Balik Hajatan: Meriah di Depan, Menumpuk Utang dan Derita di Belakang

Kepentingan pribadi akhirnya memang mengalahkan kepentingan bersama. Hajatan tetangga hancur dan para tukang sabot tinggal lempar batu sembunyi tangan. Tapi, yang paling penting, semoga saja pepatah pemerintah adalah cerminan rakyatnya, tak benar adanya. Jika rakyat yang ngawur saat jadi panitia hajatan di kampung adalah cerminan dari pemerintahnya yang ngawur saat punya hajat besar, yaitu hajat sebuah negara, bisa dibayangkan jika hajat sebesar dan sepenting itu, dipegang oleh penyelenggara yang egois, yang mementingkan diri sendiri dan kelompoknya saja. Ajur mumur!

Sumber Gambar: YouTube Co2 Palabuhanratu

BACA JUGA Gelar Hajatan Itu Nggak Wajib, Buat Apa Dipaksakan? atau tulisan Bayu Kharisma Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 November 2021 oleh

Tags: HajatankepanitiaanNusantara Terminalrewang
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

ogan ilir radiator springs mojok

Ogan Ilir, Kabupaten Kecil yang (Akan) Bernasib Sama seperti Radiator Springs

3 Juni 2021
Alun-alun Purwokerto Adalah Bukti Pembangunan yang Konsisten dan Berkelanjutan terminal mojok

Alun-alun Purwokerto Adalah Bukti Pembangunan yang Konsisten dan Berkelanjutan

29 Juli 2021
Electone Hajatan Pernikahan yang Bawain Lagu Galau Itu Merusak Momen Bahagia. Ingat, Kalian Disewa Empunya Hajat, Bukan Mantannya Pengantin!

Electone Hajatan Pernikahan yang Bawain Lagu Galau Itu Merusak Momen Bahagia. Ingat, Kalian Disewa Empunya Hajat, Bukan Mantannya Pengantin!

3 Juli 2024
Mengapresiasi Kota Depok sebagai Kota yang Menyenangkan untuk Disinggahi terminal mojok.co

Mengapresiasi Kota Depok sebagai Kota yang Menyenangkan untuk Disinggahi

11 Juni 2021
cara menghitung tamu undangan di nganjuk

Begini Cara Warga Nganjuk Menghitung Tamu Hajatan

20 Oktober 2021
Kalau Nggak Punya Halaman, Jangan Parkir Mobil dan Bikin Hajatan di Jalan Umum!

Kalau Nggak Punya Halaman, Jangan Parkir Mobil dan Bikin Hajatan di Jalan Umum!

12 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Toyota Hiace, Mobil Toyota yang Nyamannya kayak Bawa LCGC (Unsplash)

Derita Pemilik Hiace, Kerap Menghadapi “Seni” Menawar Harga yang Melampaui Batas Nalar

8 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Umur 30 Cuma Punya Honda Supra X 125 Kepala Geter: Dihina tapi Jadi Motor Tangguh buat Bahagiakan Ortu, Ketimbang Bermotor Mahal Hasil Jadi Beban
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living
  • Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup
  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.