Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Guru Jangan Ngoyo Ingin Memintarkan Murid, Itu Masalah: Nasihat Kiai Maimun Zubair

Muhammad Adib Mawardi oleh Muhammad Adib Mawardi
7 Mei 2020
A A
sarjana pendidikan guru nasihat kiai mengajar Jangan Jadi Guru Kalau Baperan, kecuali Hatimu Sanggup Legawa PPG

guru nasihat kiai mengajar Jangan Jadi Guru Kalau Baperan, kecuali Hatimu Sanggup Legawa PPG

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah terlalu banyak guru atau pengajar yang merasa kecewa sebab telah mengeluarkan seluruh peluh dan kemampuannya untuk mengajar peserta didik, ingin mencerdaskan murid, tapi usahanya terbentur kondisi kemampuan masing-masing siswa yang begitu beragam. Di antara siswa yang mereka dampingi, ada yang terberkati dengan memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga dapat mengonsumsi materi pelajaran begitu lahap. Ada pula yang biasa-biasa saja kemampuan bernalarnya. Dan tidak jarang di antara para murid itu merupakan kelompok yang sering membuat pengajarnya geleng-geleng kepala sebab kemampuan berpikir mereka dianggap terlalu selow.

Untuk meredakan gelisah para guru yang merasa terbebani oleh tuntutan mengajar dan mencerdaskan anak bangsa ini patutlah kiranya mereka merenungi kembali wejangan Almarhum K.H. Maimun Zubair kepada para santri beliau. Suatu ketika K.H. Maimun pernah berwasiat, “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar, (sehingga) ikhlasnya jadi hilang. Yang penting (kamu) niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar (itu ada) pada (kehendak) Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”

Terus terang, bagi saya penjelasan beliau ini begitu meresap dan menyejukkan di tengah gerahnya para guru yang terbebani tugas untuk memintarkan para murid. Sebab dengan memahami arti terlucutinya tanggung jawab untuk memintarkan para murid, setidaknya para guru akan lebih rileks dalam mengajar sehingga mereka akan tampil all out untuk menunjukkan potensi terbaik yang mereka miliki.

Kemampuan terbaik dari para pendidik akan mudah timbul manakala mereka mengajar dengan suasana yang cair dan rileks. Sebagai contohnya, para guru dapat meneladani Gus Baha’, murid kinasih Kiau Maimun sendiri, yang dikenal mampu menerangkan materi-materi berbobot dengan penyajian yang ringan dan mudah diterima oleh siapa saja. Sebab di samping beliau paham betul dengan isi materi, beliau juga mampu membawakannya dengan penuh santai dengan tidak lupa menyelipkan humor-humor segar.

Setelah mengkaji pesan Mbah Mun—panggilan akrab beliau—ini apa lantas guru akan begitu santai dan semaunya sendiri dalam mengajar? Tentu saja tidak demikian, sebab para guru tetap harus berperan untuk menampilkan kemampuan terbaiknya dalam mendidik dan mendampingi para murid. Mereka tetap akan melakukan proses mentransfer ilmu, merangsang nalar berpikir murid, mengarahkan kemampuan murid, serta mendampingi mereka dengan penuh ketelatenan dan keteladanan baik ketika berada di kelas maupun di luar kelas.

***

Melalui pendekatan yang lain, suatu ketika Cak Nun pernah memberikan penjelasan kepada seluruh Jamaah Ma’iyyah tentang analogi seorang dokter. Beliau memaparkan, seseorang yang menjalani profesi sebagai seorang dokter itu sebaiknya tidak usah bercita-cita untuk mengobati orang lain atau ingin menjadikan orang lain sehat.

Menurut Cak Nun, seorang dokter yang berkeinginan mengobati orang lain itu boleh-boleh saja, namun sebaiknya hal itu tidak dijadikan sebagai tujuan yang utama. Apalagi mereka bertujuan ingin menyehatkan orang lain dengan jumlah yang sebanyak-banyaknya, sebaiknya hal itu tidak perlu dilakukan. Mengapa bisa demikian? Sebab manakala hal tersebut mereka lakukan, dikhawatirkan akan mengarahkan mereka pada sebuah pemikiran, jika hanya ada segelintir orang yang sakit atau ingin berobat, mereka akan menciptakan keadaan bagaimana caranya supaya lebih banyak lagi orang yang butuh sehat melalui jasanya. Dan jika ternyata masih saja sedikit orang yang butuh pengobatan, mereka akan berusaha menakut-nakuti orang lain dengan memvonis (seolah-olah orang lain itu sedang) sakit sehingga butuh mereka obati.

Baca Juga:

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

Fakta tentang Guru yang Terjadi di Lapangan, tapi Tak Pernah Dibahas oleh Fakultas Pendidikan

Alangkah baiknya seorang dokter itu memiliki tujuan utama untuk membantu orang lain supaya berusaha sehat dengan cara mereka sendiri. Sebab, setiap orang sejatinya adalah “dokter utama” untuk diri mereka sendiri. Setiap orang adalah pihak yang paling tahu tentang kondisi dirinya. Paling bisa merasakan berapa banyak porsi makan yang ideal untuk diri mereka. Mereka mengerti kapan seharusnya berhenti makan, kapan seharusnya bekerja, kapan waktunya tubuh mereka harus diistirahatkan, dan seterusnya. Mereka akan mengetahui itu semuanya tanpa harus menunggu kabar atau instruksi dari orang lain. Sebab hal tersebut merupakan sebuah keniscayaan dari insting mereka sebagai makhluk hidup, kecuali mereka adalah orang yang israf (melampaui batas).

Jadi, keberadaan petugas medis atau lembaga kesehatan yang hendak mengobati orang lain itu sebenarnya adalah “penolong kedua” yang akan membantu dokter utama manakala sudah tidak sanggup lagi untuk merawat dan mengobati diri mereka sendiri.

Melalui analogi Cak Nun tentang dokter di atas, kita pun dapat membawanya pada konteks pendidikan. Sebenarnya para guru pun merupakan “pembantu’ bagi orang lain yang mereka sebut sebagai peserta didik itu. Tugas para pembantu pendidikan ini tidak lain adalah mengarahkan orang lain supaya dapat menggali kecerdasan dan potensi mereka sendiri, yang tentu bentuknya tidak sama pada setiap orang.

Di antara peserta didik yang mereka dampingi, ada yang memiliki keahlian menalar dengan baik, ada yang punya keahlian di bidang interaksi sosial yang mumpuni, ada yang memiliki potensi di bidang fisik. Dan di antara mereka ada yang teranugerahi dengan memiliki ketiga jenis keahlian tersebut.

Jenis-jenis potensi murid inilah yang seharusnya mampu diungkap oleh seorang pendidik sehingga para murid akan semakin merasa percaya diri dengan mengenali kemampuan diri mereka dan berhasrat untuk terus mengembangkannya.

Idzan, biarkan saja para murid itu terus berkreasi, mengeksplorasi kemampuan mereka sampai pada titik yang mungkin mereka tidak akan sanggup lagi untuk mengembangkannya. Dan pada kondisi inilah seorang guru, pengajar, dosen, pemandu, tutor berkesempatan untuk terus memberikan arahan, bimbingan, dan motivasi pada mereka sehingga semangat mereka dalam mengembangkan potensi diri senantiasa terpelihara.

Bentuk pendidikan yang membebaskan para pengajar dan murid ini tentu lebih efektif dibandingkan situasi pembelajaran yang menuntut para peserta didik untuk sekadar taqlid (mengikuti) materi yang bersumber dari para pengajar. Sehingga indikator berhasil tidaknya seorang murid hanya diukur dari kemampuan mereka dalam menalar materi, sebagai dampak dari cara pengajar yang menempatkan dirinya sebagai satu-satunya figur sentral dalam proses pembelajaran.

Selanjutnya, jika mengacu pada analogi dokter yang berambisi untuk menyembuhkan sebanyak mungkin pasien di atas, mungkin saja kondisi itu juga akan dialami oleh para pengajar yang terlalu berhasrat untuk memintarkan sebanyak-banyaknya siswa. Yang mana konsekuensi dari tindakan mereka itu akan melahirkan pemaksaan dan tindakan menakut-nakuti orang lain agar bergabung dalam sistem pembelajaran versi mereka.

Dalam skala yang lebih luas, efek domino yang bisa saja muncul dari para pengajar dan para pembuat kebijakan di bidang pendidikan yang terlalu otoritatif dalam memaksa orang-orang untuk memakai sistem pendidikan mereka yang kurang berhasil itu. Hasilnya nanti adalah sistem pembelajaran terbaru yang diklaim sebagai metode terideal untuk menilai kepandaian seseorang. Misalnya. paket pembelajaran yang outputnya berupa  ijazah, sertifikat, bukti pelatihan, dan berbagai dokumen lainnya.

Mungkin saja para penyelenggara pendidikan itu telah lupa bahwa sebagian kegiatan belajar ternyata dapat diperoleh melalui proses yang otodidak, tanpa harus mengikuti sistem yang mereka bentuk, dan apalagi harus memiliki embel-embel tanda keahlian itu. Dan kabar baiknya, potensi para pembelajar otodidak ini akan terus meningkat pesat seiring bertambahnya penyedia dan pengguna akun-akun video pelatihan dan pembelajaran online di internet, YouTube, maupun media sosial yang lain.

Walhasil, manakala sistem pendidikan yang “memaksa” orang lain untuk pandai itu nyatanya dianggap tidak lagi relevan sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan, para penyelenggaranya dengan mudahnya berapologi, zaman sudah berubah dan itulah yang harus diikuti oleh para pembelajar. Entah dengan cara mereka ikut berubah mengiringi tuntutan zaman atau mereka kembali belajar ke bangku sekolah dengan sistem pendidikan yang baru. Begitu seterusnya, dan entah sampai kapan akan berlangsung.

Di sini, lagi-lagi peserta didik tentu berpotensi akan menjadi korban. Sebab hilanglah sudah waktu, biaya, dan kecakapan yang seharusnya dapat mereka gunakan untuk menghadapi perubahan zaman itu.

Mungkin saja kejadiannya tidak akan sedemikian peliknya jika sejak awal para peserta didik sudah terlatih dan terbimbing untuk menghadapi tantangan perubahan zaman dengan bermodalkan kemampuan mereka sendiri. Mereka tidak dipaksa untuk terus menyerap satu-satunya logika kecerdasan para pengajar sebagai sistem yang harus selalu dipatuhi oleh para murid, sehingga mengabaikan potensi terbaik mereka untuk mencerdaskan dan mengembangkan diri.

Dan berdasarkan dua pendekatan di atas atau menurut perspektif pembaca sendiri, kiranya pembaca telah mampu menjawab dan menyimpulkan, masih perlukah seorang pengajar berniat untuk mencerdaskan para murid?

BACA JUGA Tips untuk Menghadapi Aksi Pedagang Emas yang Culas dan tulisan Muhammad Adib Mawardi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2020 oleh

Tags: BelajarCak NunguruGus Baha'kh maimun zubairmuridulama
Muhammad Adib Mawardi

Muhammad Adib Mawardi

Pedagang yang suka nulis.

ArtikelTerkait

5 Rekomendasi Situs Belajar Excel Gratis dari Nol sampai Mahir. Pekerja Kantoran Wajib Tahu!

5 Rekomendasi Situs Belajar Excel Gratis dari Nol sampai Mahir. Pekerja Kantoran Wajib Tahu!

23 November 2023
ketakutan

Tentang Belajar dan Ketakutan-Ketakutan Kita

15 Mei 2019
4 Peraturan Aneh di Sekolah dan Panduan Memahaminya terminal mojok

4 Peraturan Sekolah yang Terdengar Ngadi-ngadi dan Panduan Memahaminya

24 Agustus 2021
hal lucu yang tak sengaja guru lihat saat kelas daring pjj wabah corona mojok.co

4 Pemandangan yang Tak Sengaja Guru Lihat saat PJJ

2 September 2020
Ironi Profesi Guru: Mengajar Anak Orang Sampai Pintar, tapi Anak Sendiri Nggak Diperhatikan Mojok.co

Ironi Profesi Guru: Mengajar Anak Orang Sampai Pintar, tapi Anak Sendiri Nggak Diperhatikan

17 Mei 2024
Sisi Gelap Jadi Guru Swasta yang Gajinya Tidak Seberapa Mojok.co

Sisi Gelap Jadi Guru Swasta yang Gajinya Tidak Seberapa

11 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
Orang Wonogiri Layak Dinobatkan sebagai Orang Paling Bakoh Se-Jawa Tengah Mojok.co jogja

Saya Orang Wonogiri, Kerja di Jogja. Kalau Bisa Memilih Hidup di Mana, Tanpa Pikir Panjang Saya Akan Pilih Jogja

24 April 2026
Pemkab Bangkalan Madura Hanya Omong Kosong Mau Bikin Kabupaten Ini Layak Anak, Nggak Layak Sama Sekali! sumenep, pamekasan

Menerka Alasan Bangkalan akan Terus Berada di Bawah Sumenep dan Pamekasan, padahal Kawasannya Masuk Kota Metropolitan

28 April 2026
Banyumas yang Semakin Maju Bikin Warga Cilacap Iri

Guyonan “Banyumas Ditinggal Ngangenin, Ditunggoni Ra Sugih-sugih” Adalah Fakta Buruk yang Dipaksa Lucu

27 April 2026
Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan Mojok.co

Orang Jawa Timur Kaget dengan Soto Bening di Jogja, tapi Lama-Lama Bisa Menerima dan Doyan

25 April 2026
Gaji ke-13 PNS: Tradisi Musiman yang Dirayakan dengan Sepatu Baru dan Kecemasan Baru

4 Tempat Ngutang Favorit PNS untuk Kebutuhan Hidup dan Membuat Diri Mereka Terlihat Kaya

25 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka
  • Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau
  • Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido
  • Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman
  • Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.