Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Niat Healing dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Cibiran Pesepeda Lain

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
27 Mei 2026
A A
Niat Cari Ketenangan dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Dicibir Pesepeda Lain Mojok.co

Niat Cari Ketenangan dengan Naik Sepeda Federal Warisan Bapak Berujung Kesal karena Dicibir Pesepeda Lain (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Sepeda federal dan outfit bersepeda saya dicibir pesepeda lain.

Pengendara sepeda semakin banyak di Jogja. Jujur, saya senang melihatnya. Di tengah kota yang makin macet dan penuh suara klakson, melihat pesepeda memberi ketenangan tersendiri. Ternyata masih ada ya orang-orang yang rela melambat dan bersabar di tengah dunia yang serba terburu-buru. 

ADVERTISEMENT

Sayangnya, semakin ramai dunia sepeda, semakin ramai juga manusia yang merasa dirinya panitia sah kehidupan orang lain. Dan, saya baru saja jadi korbannya. 

Baca juga Akhirnya Saya Tahu Alasan Orang Beli Sepeda Mahal Sampai Ratusan Juta: Gagal Finish, tetapi Setidaknya Gagal Secara Nyaman dan Bermartabat.

Pengalaman pahit naik sepeda Federal tua milik bapak

Saya punya sepeda Federal lama yang aslinya milik bapak.  Sepeda itu sudah tua. Cat aslinya kusam. Beberapa bagian berkarat. Lalu saya cat ulang pelan-pelan dengan uang seadanya. Tidak sempurna memang, kalau dilihat dari dekat masih ada bagian yang belang.

Walau bukan sepeda mahal atau paling keren, saya senang dengan sepeda Federal itu. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan ketika saya mengayuhnya. Saya tahu sepeda ini dahulu juga pernah menemani hari-hari baik saya entah untuk bekerja, belanja atau sekadar antar jemput saya waktu sewaktu kecil. 

Rupanya hal itu sulit ditangkap oleh pesepeda lain. Memang tidak wajib untuk memahami bagaimana saya meromantisasi sepeda Federal tua milik bapak. Namun, tidak benar rasanya kalau mereka kemudian melontarkan ejekan karena merasa paling tinggi kastanya di tongkrongan pesepada. 

Iya, bagi beberapa orang, sepeda bukan lagi alat transportasi, ia perlahan berubah jadi kelas sosial berjalan. 

Baca Juga:

Kita Terlalu Sibuk Milih Presiden dan DPR, hingga Lupa Ada yang Namanya DPD

Jalur Luna Maya, Rute Terbaik untuk Bersepeda di Kulon Progo

Saya tidak masalah kalau diejek atau ditegur karena melanggar lalu lintas atau tindak-tanduknya yang merugikan pengguna jalan. Namun, persoalannya saya diejek karena sepeda dan out fit saya seolah tidak pas di mata mereka. 

Aneh memang. Padahal ya sudah. Orang mau naik sepeda pakai jersey profesional kek, pakai kaus partai kek, pakai hoodie lusuh kek, itu urusan dia. Selama tertib lalu lintas dan tidak membahayakan pengguna jalan lain, kenapa ribut? 

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Baca juga Tren Sepeda, Asyik Gowes, Lupa Etika di Ruang Publik, Mending Rebahan Aja.

Outfit dikomentari

Fenomena mengejek pesepeda lain bukanlah budaya baru. Saya pun heran dengan kebiasaan itu. Seolah-olah untuk dianggap “pesepeda beneran”, seseorang harus lolos kurasi tongkrongan terlebih dahulu. Harus ngerti groupset, tahu merek luar negeri, hingga punya selera outfit tertentu. 

Apabila tidak memenuhi standar itu, pesepeda dianggap berbeda, norak. Saya kadang berpikir, mungkin hal macam ini terjadi karena kita terlalu sering menjadikan hobi sebagai identitas sosial, bukan lagi kesenangan pribadi.

 Akibatnya, semua berubah jadi kompetisi diam-diam. Bahkan, kegiatan sesederhana gowes pun sekarang terasa seperti audisi. Orang takut salah outfit. Takut salah merek hingga dibilang “nggak masuk”. Takut dianggap poser.

Bersepeda di Jogja jadi nggak asyik

Satu hal yang bikin saya sedih. Jalanan di Jogja sebenarnya cukup ramah pesepeda dan asyik untuk ditelusuri. Gang-gang kecilnya enak dilalui. Saat cuaca sedang bagus-bagusnya, matahari pagi dan sore bersinar dengan begitu indah. 

Sayang, kombinasi hal-hal asyik itu rusak ketika manusia mulai merasa perlu menentukan mana gaya bersepeda yang “layak”. Padahal, bukankah sepeda seharusnya dijalani dengan seru, membebaskan manusia dari gengsi, bukan malah melahirkan gengsi baru. Dan, lucunya lagi, banyak orang yang sekarang sok paling “skena sepeda” itu dulunya mungkin juga baru belajar beberapa tahun lalu. 

Saya menulis ini bukan karena sakit hati semata. Oke, mungkin sedikit. Saya juga manusia. Diejek soal outfit tentu bikin gondok. Apalagi saya memang cuma pakai pakaian seadanya. Kaus saya kadang memang lusuh, sandal saya pun tidak matching dengan sepeda. 

Akan tetapi, apakah itu membuat saya lebih buruk sebagai pesepeda? Tidak. Dan orang-orang yang bajunya lebih mahal juga belum tentu lebih memahami etika jalan raya. 

Jadi, tolonglah, normalisasi membiarkan orang menikmati hobinya dengan caranya sendiri.  Tidak semua orang ingin jadi ikon skena. Tidak semua orang ingin terlihat keren. Ada yang cuma ingin bersepeda tanpa dihakimi

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Susahnya Bersepeda di Jogja, Kota Pendidikan yang Harusnya Ramah Sepeda.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2026 oleh

Tags: federalgowespesepedasepedasepedar federal
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

tren sepeda MOJOK.CO

Sepeda dan Bike to Work Tidak Akan Pernah Menjadi Gaya Hidup di Indonesia

12 Agustus 2020
Jalur Luna Maya, Rute Terbaik untuk Bersepeda di Kulon Progo

Jalur Luna Maya, Rute Terbaik untuk Bersepeda di Kulon Progo

16 Desember 2023
tren sepeda MOJOK.CO

Tren Sepeda, Asyik Gowes, Lupa Etika di Ruang Publik, Mending Rebahan Aja

29 Juni 2020
gowes

Musim Gowes sih Boleh Aja, tapi Jangan Menuh-Menuhin Jalan Juga kali!

9 Juni 2020
Katanya Solo Kota Nyaman Bersepeda, Nyatanya Bersepeda di Sini Horor Juga

Katanya Solo Kota Nyaman Bersepeda, Nyatanya Bersepeda di Sini Horor Juga

22 Juni 2023
Pengendara Mobil Menerobos Lampu Hijau Itu Jelas Salah, Hidup Pesepeda Kaya!

Pengendara Mobil Menerobos Lampu Hijau Itu Jelas Salah, Hidup Pesepeda Kaya!

11 November 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, "Hello" Jauh Lebih Penting daripada "Open Your Book"

Menjadi Tutor Bahasa Inggris untuk Anak TK dan SD Membuat Saya Sadar, “Hello” Jauh Lebih Penting daripada “Open Your Book”

7 Juli 2026
Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot Mojok.co

Honda Win Memang Bikin Repot, tapi Sejak Kapan Motor Tua Punya Kewajiban Memanjakan Pemiliknya?

6 Juli 2026
Sidang Skripsi Mahasiswa UNY: Ribetnya Mirip Hajatan, Pantas Saja Disebut “Kondangan Akademik” Mojok.co

Sidang Skripsi Itu Hal yang Gampang, yang Lebih Susah Itu Mengurus Berkas Penjajakan dan Yudisium

5 Juli 2026
5 Aturan Tidak tertulis AYCE yang Sebaiknya Ditulis Saja karena Banyak Pembeli Norak dan Nggak Peka Mojok.co

5 aturan tidak tertulis All You Can Eat yang sebaiknya ditulis saja karena banyak pembeli norak dan nggak peka

9 Juli 2026
Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

Nasib Stasiun Karawang: Terasing di Rel Sendiri, Kalah Mentereng dari Stasiun Cikarang

8 Juli 2026
Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

Harga Makanan di Surabaya Lebih Murah dari Banyuwangi: Untung bagi Pembeli, tapi Derita bagi Penjualnya

11 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.