Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gombloh dan Revolusi Melankolik Lewat Musik

Irfantoni Listiyawan oleh Irfantoni Listiyawan
13 Agustus 2020
A A
Gombloh dan Revolusi Melankolik Lewat Musik MOJOK.CO

Gombloh dan Revolusi Melankolik Lewat Musik MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Surabaya adalah kota perjuangan di masa revolusi fisik dan mempertahankan kemerdekaan. Citra Kota Pahlawan yang melekat juga sebagai perlambang masyarakatnya yang penuh kegigihan dan empati tinggi meski terkesan ceplas-ceplos. Agaknya itu pula yang melekat pada diri Soedjarwoto alias Gombloh.

Musisi nyentrik asal Jombang yang mengadu nasib sejak kecil bersama keluarganya di kota metropolitan ini. Kisah hidupnya memang menarik untuk diikuti, namun sayang tak banyak referensi tentangnya. Hingga Guruh Dimas Nugraha yang juga penggemar berat sang musisi membukukan seluk beluk kehidupan Gombloh baik dari segi musikalitas, keseharian, hingga aksi sosial yang bisa dibilang nyeleneh dalam buku Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya.

Saat membaca buku ini, kita seolah terbawa ke suasana Surabaya era 70-80an di mana Gombloh mulai bergelut dengan seni hingga mengantarkannya ke puncak ketenaran. Semua terekam apik yang seolah mengingatkan kita semua jika menjadi seorang musisi tak hanya pintar menjual suara dan penampilan saja. Lebih dari itu, seorang musisi harus smart dan peka terhadap lingkungannya.

Selalu membumi dan impian dunia tanpa prostitusi

Gombloh memiliki cita-cita mulia. Bila dulu ada revolusi fisik menggunakan kekerasan, dirinya ingin mengubah lingkungannya dengan revolusi melankolik lewat musik. Salah satunya adalah impiannya terhadap dunia tanpa prostitusi.

Baginya, tentu ada alasan kuat mengapa PSK memilih terjun di dunia kelam tersebut. Tekanan hidup dan ekonomi di kampung adalah salah satunya. Gombloh pun tak segan-segan masuk area lokalisasi di Surabaya untuk membantu PSK di sana. Mulai dari membiayai pengobatan, membelikan pakaian dalam yang layak dari honor konser, dan sebagainya. Tujuannya, mereka dapat kembali ke “jalan yang benar”. Banyak lagu-lagu Gombloh terinspirasi dari kisah PSK yang ditemuinya.

Tak hanya itu, Gombloh juga akrab dengan siapa saja wong cilik di sekitarnya. Seperti tukang becak, penjual nasi, penjual kopi, hingga para pemulung. Sikap Gombloh memang membumi. Salah satunya ketika dia menginap di hotel bintang lima ketika konser di Jakarta.

Kawannya yang datang menyambanginya kaget karena Gombloh tak ada di kamar. Setelah dicari, Gombloh malah tidur di emperan dekat parkiran dengan berkemul sarung dan bantal. Saat ditanya, enteng saja dia menjawab, tak betah di kamar karena AC yang dingin bikin masuk angin. Dia lebih nyaman tidur di luar. Sungguh sikap yang jauh dari kesan glamor saat berada di puncak ketenaran!

Semangat patriotisme yang tercetus di sebuah toilet

Menyebut nama Gombloh, pasti yang tebersit adalah lagu Kebyar-Kebyar. Lagu bernuansa patriotis itu kerap diputar saat Agustusan tiba, di radio, televisi hingga perlombaan di kampung-kampung. Namun, siapa sangka inspirasi lagu itu muncul di tempat tak lazim. Toliet tempat rekaman.

Baca Juga:

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

Suatu hari, kawan Gombloh yakni Wisnu Padma sedang memainkan tuts piano dengan irama yang kelak menjadi nada pembuka lagu tersebut. Anak pedagang daging ayam itu pun berseloroh. “Wah cocok! Ngkok tak dadekno lagu utuh…(Cocok, nanti aku buat jadi lagu utuh!).”

Esoknya, bersama bandnya, Lemon Trees Ano ’69, Gombloh menggelar latihan dari inspirasi kemarin. Namun, dia tersadar belum ada lirik. Kebetulan saat itu dirinya sedang kebelet. Lalu dia ambil pensil dan kertas dan dibawanya ke kamar mandi. Tak seberapa lama, Gombloh menggelegar.

“Indonesia, merah darahku…putih tulangku, bersatu dalam semangatmu.” Lalu, kembali suaranya menggema “Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku. Andaikan matahari terbit dari barat, kau tetap Indonesiaku. Tak sebilah pedang yang tajam, dapat palingkan daku darimu!”

Saat ditanya kawannya, Gombloh mengaku mendapat ilham ketika buang air besar. Sebagian dari mereka pun yakin lagu itu bakal jadi ngetop, dan itu terbukti sampai saat ini setelah tiga dekade lebih kepergian almarhum.

Firasat aneh menjelang kepergian sang musisi

Gombloh menghadap Sang Khalik pada tanggal 9 Januari 1988 karena penyakit yang dideritanya. Kepergian Gombloh tidak hanya menyisakan kesedihan bagi masyarakat Surabaya bahkan Indonesia. Beberapa hari sebelum meninggal, dia merasakan firasat-firasat aneh. Mulai dari ingin beli sirup, hingga meracau di studio rekaman.

Firasat pertama ketika berada di rumahnya, Gombloh meminta sirup kepada istrinya saat badannya merasa pegal. Saat itu, di rumahnya memang hanya ada sisa sedikit sirup. Padahal, penyanyi berperawakan kurus ini lebih suka kopi dibanding sirup. Sontak, dia pun mengajak sang istri untuk membeli sirup keesokan harinya.

“Besok beli sirup yang banyak. Kamu harus sedia sirup, Wiek. Karena tidak lama lagi kita akan kedatangan banyak tamu!” Perkataan itu pun membuat Wiwiek, sang istri menjadi penuh heran. Keheranan Wiwiek semakin menjadi seolah menjadi sebuah firasat. Dan tiga hari kemudian, tamu yang dimaksud Gombloh itu tak lain adalah para pelayat yang menyambangi rumahnya di hari kematiannya.

Kedua, firasat aneh bagi Wiwiek adalah ketika Gombloh ingin dekorasi beringin tumbang untuk rumah barunya. Hanya ada satu seniman yang menyanggupi permintaan aneh itu. Ternyata, pohon beringin tumbang itu sarat akan makna sepeninggalnya. Sebab, sekuat-kuatnya pohon beringin pasti akan tumbang meskipun akarnya tetap menancap bumi. Ya, Gombloh memang telah pergi namun akar kemanusiaan lewat aksi nyata dan karyanya akan selalu menancap di bumi pertiwi.

Firasat ketiga, Gombloh ingin rekreasi di tempat yang tenang. Hal itu sempat dia katakan kepada Yetty Wijayani saat mengepang rambutnya. Dia berkata kepada kawannya yang akrab disapa Sumprit itu:

“Enak yo, iso rekreasi…aku saking sibukke konser sampek gak tau rekreasi blas. Tapi sakmarine shooting iki aku kate rekreasi nang panggon sing apik.” Saat itu, dirinya sibuk shooting video klip lagu Apel di TVRI bersama Titi Qadarsih. Selang beberapa hari, Gombloh pun pergi ke tempat yang indah menghadap Sang Kuasa.

Firasat keempatnya ini memang cukup aneh, terjadi saat Gombloh hendak shooting video klip Apel di Jakarta. Dia membawa pakaian putih lengkap sampai sepatunya. Kawannya yang bernama Pardi bertanya kepadanya “Lho, lho…kok tumben putih-putih?” Enteng Gombloh menjawab “Tahun bersih…” Rupanya dia ingin di tahun kepergiannya itu, menjadi tahun bersih, baik fisik dan rohaninya dengan perlambangan pakaian serba putih tadi.

Buku yang ditulis oleh pentolan band Sekaring Jagat (band yang membawakan lagu-lagu almarhum Gombloh) ini seolah memberikan angin segar bagi para penggemar Gombloh untuk bernostalgia terhadap revolusi melankoliknya. Begitu juga membuka pandangan generasi masa kini jika Indonesia pernah memiliki musisi yang penuh totalitas dalam berkarya, bersahaja, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Seperti kata Bung Karno, “Warisi apinya, bukan abunya!’ Kini sudah saatnya kita mewarisi api semangat yang pernah dinyalakan mendiang Soedjarwoto alias Gombloh baik itu melalui kreasi seni, budaya, dan sifat welas asihnya.

BACA JUGA Memaknai Pulang dalam Lagu ‘Mercusuar’ Milik Kunto Aji atau tulisan lainnya di Terminal Mojok.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 13 Agustus 2020 oleh

Tags: gomblohrevolusi musikSurabaya
Irfantoni Listiyawan

Irfantoni Listiyawan

Penikmat dan pembaca sejarah musik. Content writer di Teknoia Creative. Beberapa tulisannya dimuat di Koran Tempo, Detik.com, Haluan.co, Times Indonesia, dan Good News from Indonesia

ArtikelTerkait

Surabaya Nggak Nyaman di Mata Arek Suroboyo Sendiri eri cahyadi

2 Problem Mendesak di Surabaya yang Perlu Ditangani Eri Cahyadi ketika Terpilih Nanti

13 November 2024
Kereta Api Ambarawa Ekspres, Transportasi Terbaik dari Semarang ke Surabaya

Kereta Api Ambarawa Ekspres, Transportasi Terbaik dari Semarang ke Surabaya

17 Januari 2025
Jalan Tunjungan, Ikon Kota Surabaya yang Semakin Tidak Ramah Wisatawan

Jalan Tunjungan, Ikon Kota Surabaya yang Semakin Tidak Ramah Wisatawan

23 April 2024
Tambak Osowilangun: Jalur Transformer Surabaya-Gresik, Jadi Tempat Pengguna Motor Belajar Ikhlas

Tambak Osowilangun: Jalur Transformer Surabaya-Gresik, Jadi Tempat Pengguna Motor Belajar Ikhlas

15 Desember 2025
bahasa di wakatobi pelestarian lingkungan sepak bola bajo club wakatobi poasa-asa pohamba-hamba mojok

Wakatobi, Surabaya, dan Jogja: Mana yang Lebih Layak untuk Ditinggali?

29 November 2020
Saya Kapok Naik Bus Ekonomi Madura-Surabaya, Armada Bobrok dan Pelayanan Bintang Satu Mojok.co

Saya Kapok Naik Bus Ekonomi Madura-Surabaya, Armada Bobrok dan Pelayanan Bintang Satu

19 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.