Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Gelaran Woodstock-nya Indonesia Itu Penghinaan Terhadap Ruh Woodstock

Iqbal AR oleh Iqbal AR
4 Oktober 2019
A A
Woodstock

Woodstock

Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini, saya agak terganggu dengan sebuah jargon dari sebuah rencana konser musik. Jargon tersebut adalah jargon “Woodsock-nya Indonesia” yang merujuk pada gelaran Konser Untuk Republik, yang rencananya akan digelar pada 18-20 Oktober 2019, di Bumi Perkemahan Buperta Cibubur, Jakarta Timur. Kabarnya, acara ini melibatkan lebih dari 60 musisi lintas genre, yang beberapa di antaranya datang ke Istana untuk bertemu Presiden beberapa hari lalu. Gelaran yang katanya punya tujuan untuk meredam perpecahan di masyarakat dan membuat masyarakat bersatu kembali ini menggunakan jargon ini dalam beberapa poster promonya yang nggak banget itu, setidaknya menurut saya.

Saya—dan mungkin beberapa orang—jelas terganggu dengan jargon tersebut. Gimana nggak terganggu, lha wong mencatut nama festival musik lain untuk sebuah festival musik yang berbeda saja sudah salah, apalagi mencatut nama Woodstock yang jelas punya ruh yang kuat. Saya nggak tahu pasti, siapa yang dengan entengnya mencatut di acara Konser Untuk Republik ini. Entah orang dalam, spontanitas dari “fans” di luar. Yang jelas, siapa pun yang mencatutnya, mereka nggak paham ruh dari Woodstock itu sendiri.

Saya memang bukan orang paling paham tentang seluk beluk Woodstock. Tapi, apa salahnya sih cari tahu dulu apa dan bagaimana Woodstock itu sendiri? Saya juga bukan orang yang paling paham tentang seluk beluk festival musik. Tapi, apa nggak ada cara yang lebih etis selain mencatut nama festival musik paling berpengaruh di dunia? Mbok ya yang tahu diri gitu lho, jangan asal mencatut nama festival lain yang jelas-jelas punya latar belakang, semangat, dan ruh yang berbeda. Ya meskipun tujuannya ada mirip-miripnya, lah.

Bicara soal Woodstock, terutama Woodstock ’69, ini adalah sebuah festival yang fenomenal. Selain sebagai surganya kaum hippies, hentakan Rock N Roll, dan tebaran bunga, cinta, dan ganja. Woodstock ’69 juga merupakan sebuah sikap kritis, dan sikap kontrakultur sebagai respon terhadap pemerintah Amerika Serikat saat itu. Michael Lang dkk, sebagai inisiator, berusaha membuat sebuah “ceremonial” yang merespon kebijakan-kebijakan militeristik pemerintah Amerika Serikat, termasuk Perang Vietnam, dengan slogan “Three Days of Peace and Music”.

Ruhnya sudah jelas. Woodstock ’69 yang digelar di ladang Max Yasgur di Bethel, pada 15 Agustus hingga 18 Agustus 1969, menentang adanya perang dan kebijakan militeristik melalui sebuah festival musik. Sehingga gelaran ini menciptakan sebuah generasi yang dinamakan generasi anti perang. Dalam gelarannya, Michael Lang dkk juga nggak bekerja sama dengan pemerintah atau buzzer-buzzernya. Paling ya cuma minta sedikit keamanan saja. Yang jelas, nggak ada sponsor dari pemerintah yang masuk ke Woodstock ’69.

Musisi yang diundang juga nggak main-main. Ada nama Janis Joplin, Grateful Dead, Santana, Jefferson Airplane, Joan Baez, hingga “sang dewa” Jimi Hendrix. Sebagian musisi di atas punya isu yang hampir serupa dalam perjalanan karirnya. Mereka menentang adanya kekerasan, penindasan, dan mencoba menyebarkan kedamaian melalui musik mereka. Selama gelaran Woodstock ’69, total ada sekitar 450 ribu orang yang hadir dan punya semangat yang sama. Woodstock ’69 juga bisa dibilang sebagai kejadian sejarah, sebuah leksikon kultural, yang nggak akan pernah terulang lagi.

Nah, kalau kita tarik maju ke depan, dalam kasuk Konser Untuk Republik yang “mencatut” nama Woodstock, jelas kelihatan banget bedanya. Pertama, Woodstock ’69 nggak ada ikut campur dari pemerintah, atau negara. Beda dengan Konser Untuk Republik yang dibilang “Woodstock-nya Indonesia”, yang kalau ditelusuri, jelas ada banyak tangan negara yang masuk di situ. Kedua, mengenai isu anti perang dan militeristik yang dilawan melalui Woodstock ’69. Kalau Konser Untuk Republik, ini malah nggak jelas. Ketiga dan yang paling jelas, nggak ada satu pun penampil di Woodstock ’69 yang sowan ke Gedung Putih. Beda dengan musisi sini yang sowan dulu ke Istana.

Nggak cuma sowan ke Istana, musisi yang terlibat juga aneh menurut saya. Salah satunya ada Siksakubur dan Laze, yang dulu dikenal cukup progresif, sekarang malah melunak. Kikan eks Cokelat yang paling juga nyanyi “Bendera” dan NTRL yang paling anthemnya “Garuda Di Dadaku” lagi. Bosan.

Baca Juga:

Menolak Falsafah ‘Ra Srawung Rabimu Suwung’

Bentuk Istana Negara Baru yang Pas Itu Bukan Garuda Raksasa, tapi Mobil Pickup Suzuki

Jadi, nggak perlulah menodai ruh Woodstock dengan mencatut namanya untuk sebuah festival yang nggak nyambung seperti “Konser Untuk Republik” ini. Penghinaan terhadap ruh Woodstock itu namanya. Mending nonton dulu aja film Taking Woodstock atau dokumenternya Woodstock. Biar ngerti! (*)

BACA JUGA “Konser Untuk Republik” Itu Solusi Omong Kosong atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Oktober 2019 oleh

Tags: Istana Negarakonser untuk republikmusisi istanaperpecahansiksakuburwoodstock
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

gus dur

Belajar dari Kolor Perdamaian Gus Dur

31 Mei 2019
suzuki pickup istana negara mojok

Bentuk Istana Negara Baru yang Pas Itu Bukan Garuda Raksasa, tapi Mobil Pickup Suzuki

1 April 2021
metalheads

Siksakubur Jadi ‘Musisi Istana’: Metalheads Kecewa

1 Oktober 2019
daftar tamu undangan pernikahan ra srawung rabimu suwung seserahan adik nikah duluan gagal nikah dekorator pernikahan playlist resepsi pernikahan mojok

Menolak Falsafah ‘Ra Srawung Rabimu Suwung’

6 Juli 2021
mas didi kempot

Dari Istana Negara Hingga Senayan: Mas Didi Kempot, Tolong Buat Lagu dari Tempat-Tempat Ini, Dong!

10 Oktober 2019
Album Baru Band Itu Pasti Mengecewakan, Nggak Usah Terlalu Berharap Makanya terminal mojok.co

“Konser Untuk Republik” Itu Solusi Omong Kosong

2 Oktober 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

Stasiun Slawi, Rute Tersepi yang (Masih) Menyimpan Kenangan Manis

15 Januari 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Sidoarjo Bukan Sekadar “Kota Lumpur”, Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

14 Januari 2026
Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

Menerima Takdir di Jurusan Keperawatan, Jurusan Paling Realistis bagi Mahasiswa yang Gagal Masuk Kedokteran karena Biaya

14 Januari 2026
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

Kasta Nescafe Kaleng di Indomaret dari yang Berkelas sampai yang Mending Nggak Usah Ada

19 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026
  • Lupakan Alphard yang Manja, Mobil Terbaik Emak-Emak Petarung Adalah Daihatsu Sigra: Muat Sekampung, Iritnya Nggak Ngotak, dan Barokah Dunia Akhirat
  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.