Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
23 Februari 2026
A A
Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!
Share on FacebookShare on Twitter

Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Apa yang bisa kita kerjakan di tingkat mendasar? Ya, menabung.

Perang masih terjadi di berbagai kawasan. Harga pangan naik turun tanpa bisa ditebak. Krisis energi datang bergelombang. Perubahan iklim membuat musim tak lagi bisa dipercaya. Teknologi berkembang cepat, tetapi justru menghadirkan ketidakpastian baru: pekerjaan hilang, profesi berubah, ekonomi global mudah terguncang oleh satu keputusan politik atau satu konflik regional.

Kita hidup di zaman ketika masa depan terasa semakin pendek jaraknya. Dulu orang bisa merencanakan hidup sepuluh atau dua puluh tahun ke depan dengan relatif tenang. Hari ini, banyak orang bahkan sulit memastikan keadaan enam bulan mendatang. Dunia bergerak cepat, tetapi rasa aman justru menipis.

Dalam situasi seperti ini, satu kebiasaan lama kembali menemukan relevansinya: menabung.

Menabung bukan soal menjadi kaya. Menabung adalah soal bertahan hidup dengan martabat. Ia adalah cara manusia membeli waktu ketika keadaan tiba-tiba berubah. Tabungan memberi ruang bernapas saat pekerjaan terganggu, kesehatan menurun, atau ekonomi memburuk. Ia bukan simbol kesuksesan, melainkan tanda kewaspadaan.

Pepatah lama kita sebenarnya sudah mengingatkan jauh sebelum istilah financial planning dikenal luas: jangan besar pasak daripada tiang. Artinya sederhana, hidup harus ditopang kemampuan nyata, bukan keinginan sesaat. Pepatah lain mengatakan, sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit. Ini bukan sekadar nasihat hemat, tetapi pelajaran tentang kesabaran ekonomi: masa depan dibangun dari konsistensi kecil yang diulang setiap hari.

Sering kali kita mengira kebiasaan menabung adalah konsep modern yang datang bersama bank, kartu debit, atau aplikasi keuangan digital. Padahal sejarah berkata lain.

Jauh sebelum bank berdiri di kota-kota kolonial, masyarakat Nusantara telah mengenal praktik menabung dalam berbagai bentuk. Petani menyimpan padi di lumbung desa sebagai cadangan paceklik. Keluarga menyimpan emas dan pusaka untuk menghadapi masa sulit. Ternak dipelihara bukan hanya untuk konsumsi, tetapi sebagai tabungan hidup. Tradisi arisan menjadi mekanisme simpan-pinjam sosial yang memastikan setiap anggota komunitas memiliki giliran mendapatkan cadangan ekonomi.

Baca Juga:

Jurusan Ekonomi Menyelamatkan Saya dari Jurusan Kedokteran yang seperti Robot

Setelah Saya Belajar Ekonomi Makro, Saya Baru Tahu bahwa Ternyata Belanja Sama Pentingnya dengan Menabung

Dengan kata lain, nenek moyang kita sudah memahami satu hal mendasar: masa depan selalu mengandung risiko.

Menabung bagi masyarakat Nusantara bukanlah tindakan individualistis, melainkan bagian dari kebijaksanaan kolektif. Ia lahir dari pengalaman panjang menghadapi gagal panen, bencana alam, dan ketidakpastian hidup. Menabung berarti menjaga keseimbangan agar keluarga tetap berdiri ketika keadaan berubah.

Karena itu, kita sebenarnya tidak perlu merasa harus mengimpor filosofi menabung dari luar negeri. Dunia modern sering memperkenalkan berbagai konsep manajemen keuangan dari Barat atau Jepang, lengkap dengan istilah asing dan metode yang tampak canggih. Semua itu boleh dipelajari, tetapi esensinya bukan sesuatu yang baru bagi kita.

Budaya kita sudah mengenalnya sejak lama. Orang Jawa mengenal sikap eman-eman, rasa sayang membuang sesuatu sia-sia. Masyarakat desa memahami pentingnya cadangan pangan. Pepatah-pepatah lokal mengajarkan pengendalian diri jauh sebelum teori ekonomi perilaku muncul di universitas modern. Bahkan praktik gotong royong sendiri merupakan bentuk tabungan sosial: menyimpan kebaikan hari ini untuk pertolongan di masa depan.

Masalahnya hari ini bukan karena kita tidak tahu cara menabung, melainkan karena kita terlalu mudah menemukan alasan untuk tidak melakukannya.

Gaji kurang. Harga mahal. Hidup ingin dinikmati sekarang. Diskon terlalu menggoda. Gaya hidup dianggap sebagai kebutuhan, bukan pilihan. Konsumsi menjadi identitas, sementara menabung terasa seperti menunda kebahagiaan.

Padahal justru sebaliknya. Menabung bukan menunda hidup bahagia. Menabung adalah cara memastikan hidup tetap berjalan ketika keadaan tidak ramah. Menabung bukan tindakan pesimis, melainkan bentuk optimisme yang realistis, yakin bahwa masa depan layak dipersiapkan.

Di dunia yang semakin tidak pasti, menabung adalah tindakan sederhana namun radikal: memilih stabilitas di tengah godaan instan. Tidak perlu menunggu kaya untuk mulai menabung. Tidak perlu jumlah besar. Yang dibutuhkan hanya satu keputusan kecil yang diulang terus-menerus.

Sedikit demi sedikit. Lama-lama menjadi bukit. Percayalah. Dan mungkin inilah pelajaran paling penting dari sejarah panjang manusia, baik di Nusantara maupun di mana pun: peradaban bertahan bukan karena mereka paling kuat, tetapi karena mereka tahu cara menyimpan sesuatu untuk hari esok.

Jadi, tidak usah banyak alasan. Menabung itu penting. Kita saja yang terlalu overthinking.

Terakhir diperbarui pada 23 Februari 2026 oleh

Tags: ekonomiGaya Hiduphidup bahagiakonsumsiMenabungnusantara
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

7 Siasat Kelas Menengah agar Bisa Bertahan di 2025 Mojok.co

7 Siasat Kelas Menengah agar Bisa Bertahan di 2025

6 November 2024
Nyalahin Vendor Gara-gara Konsumsi Pelantikan KPPS yang Nggak Layak Memang Gampang, Bukan Begitu, KPU?

Nyalahin Vendor Gara-gara Konsumsi Pelantikan KPPS yang Nggak Layak Memang Gampang, Bukan Begitu, KPU?

29 Januari 2024
paylater, beli rumah

Paylater Bikin Susah Beli Rumah? Yang Benar Saja!

13 Februari 2023
Sisi Gelap Kanada, Negara yang Katanya Bersahabat

Sisi Gelap Kanada, Negara yang Katanya Bersahabat

18 Mei 2022
Nggak Habis Pikir Sama Orang yang Tidak Menghabiskan Makanan Hajatan terminal mojok.co

Pertanyaan Makan sebagai Penanda Kelas Ekonomi dan Kadar Moral Seseorang

2 Mei 2020
7 Minuman Penjaga Stamina dari Penjuru Nusantara, Cocok Dinikmati di Musim Hujan Terminal Mojok

7 Minuman Penjaga Stamina dari Penjuru Nusantara, Cocok Dinikmati di Musim Hujan

14 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
Mobil Matic Dibilang Gampang Rusak, padahal Itu Gara-gara Cara Pakai yang Salah!

Mobil Matic Dibilang Gampang Rusak, padahal Itu Gara-gara Cara Pakai yang Salah!

22 Februari 2026
Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor Mojok.co

Alasan Vespa Matic Dibenci Tukang Servis Motor

23 Februari 2026
Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

Gak Usah Banyak Alasan: Menabung Itu Penting!

23 Februari 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

19 Februari 2026
Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri
  • Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup
  • Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”
  • Mekanisme dalam Beasiswa LPDP (Masih) Silang Sengkarut: Awardee Cemas Jadi WNI, Negara Punya PR yang Harus Diberesi
  • Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan
  • Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.