Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Film

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq oleh Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
26 Januari 2026
A A
Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Share on FacebookShare on Twitter

Pengumuman Bayu Skak yang akan memproduksi film berbahasa Jawa Ngapak berjudul Landasan di Banyumas memunculkan dua perasaan sekaligus, yaitu bangga dan curiga. Bangga, karena Banyumas akhirnya mendapat panggung nasional lewat film. Curiga, karena sejarah panjang bahasa Ngapak di ruang publik Indonesia terlalu sering berakhir sebagai bahan lelucon.

Ngapak memang sering hadir di layar, tapi hampir selalu sebagai aksen komedi. Lucu, polos, ndeso. Jarang sekali diposisikan sebagai bahasa yang bisa membawa emosi serius, konflik manusiawi, atau refleksi sosial yang kompleks. Maka wajar jika kabar ini disambut dengan tepuk tangan yang disertai alis terangkat.

Ngapak dalam bayang-bayang stereotip lama

Selama bertahun-tahun, bahasa Ngapak dilekatkan pada satu fungsi utama, yaitu melucu. Wong Banyumas di televisi dan film kerap hadir sebagai karakter pendukung yang tugasnya mencairkan suasana. Ia jarang diberi kedalaman peran, apalagi kekuatan narasi. Masalahnya bukan pada komedi itu sendiri. Orang Banyumas juga tertawa, juga bercanda.

Masalahnya adalah penurunan. Ketika satu identitas budaya kedaerahan terus-menerus dipersempit menjadi satu sifat saja, di situlah martabat mulai tergerus pelan-pelan. Kekhawatiran inilah yang muncul ketika film Landasan diumumkan. Film ini diproduksi lewat SKAK Management dan MD Pictures, didukung pula oleh Direktur Perfilman Kementerian Ekonomi Kreatif serta Dinporabudpar Banyumas. Artinya, film ini bergerak dalam logika industri dan komersial.

Dan justru di titik itu kegelisahan muncul, apa yang akan dijual? Ceritanya, atau stereotipnya?

BACA JUGA: Penyakit Orang Ngapak yang Malu Menuturkan Bahasa Ngapak

Ketika industri bertemu identitas lokal

Industri film tidak bekerja di ruang kosong. Ia membutuhkan pasar, penonton, dan daya tarik instan. Stereotip, sayangnya, sering kali laku karena mudah dikenali. Tinggal memunculkan aksen, gestur tertentu, lalu tawa datang sendiri.

Kekhawatiran sebagian warga Banyumas bukan pada Bayu Skak sebagai individu, ia jelas punya rekam jejak kreatif dan keberanian mengusung bahasa daerah. Kekhawatirannya adalah pada kemungkinan Ngapak kembali dijadikan komoditas kelucuan, bukan sebagai bahasa yang setara dan utuh.

Baca Juga:

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

Nada sinis yang muncul bukan bentuk kebencian, melainkan refleksi dari pengalaman panjang, di mana terlalu sering ditertawakan dan terlalu jarang dipahami.

Film sebagai bentuk romantisme Banyumas

Namun film juga bisa bekerja sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, komika-komika dari Stand Up Comedy Indonesia justru berhasil membangun romantisme Banyumas dan Purwokerto secara konsisten. Mereka menyebutnya, merayakannya, dan menjadikannya konteks hidup, bukan sekedar bahan punchline.

Pelan-pelan, citra Banyumas ikut naik kelas. Ya, meskipun ironisnya, orang sering lebih mengenal Purwokerto ketimbang Banyumas itu sendiri.

Di titik ini, film punya potensi jauh lebih besar. Jika film Landasan digarap dengan baik dan bertanggung jawab, ia bisa lebih dari fungsi hiburan. Film bisa menjadi infrastruktur kultural, memperkenalkan Banyumas sebagai ruang hidup yang menarik untuk dikunjungi, dipelajari, bahkan ditinggali. Bukan hanya lucu, tapi manusiawi.

BACA JUGA: Memahami Bahasa Ngapak Utara dan Ngapak Selatan yang Kembar tapi Beda

Ngapak tidak harus selalu ditertawakan

Bahasa Ngapak sebenarnya punya kekuatan yang jarang disadari: lugas dan jujur. Ia tidak bertele-tele. Ia tidak sok halus. Dan justru di situlah potensinya sebagai poin cerita yang kuat. Ngapak tidak harus selalu jadi objek tawa. Ia bisa menjadi bahasa konflik, bahasa cinta, bahasa marah, bahasa kehilangan. Ia bisa membawa cerita tentang kelas, keluarga, dan perubahan sosial di Banyumas.

Tapi semua itu mensyaratkan satu hal penting, kesadaran kultural. Bukan sekadar “pakai Ngapak”, tapi memahami posisi Ngapak dalam sejarah ketimpangan representasi.

Sikap yang paling masuk akal mungkin bukan euforia berlebih, tapi juga bukan sinisme sejak awal. Film ini layak didukung, sekaligus diawasi. Dikritisi bukan karena benci, tapi karena peduli. Kalau film Landasan berhasil keluar dari jebakan stereotip, ia bisa menjadi tonggak penting bagi representasi Banyumas di layar lebar. Tapi kalau gagal, ia hanya akan mengulang siklus lama, di mana “Ngapak” hadir tapi lagi-lagi sebagai bahan tertawaan.

Pada akhirnya, pertanyaan utamanya bukan soal Bayu Skak atau filmnya semata. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap melihat Ngapak tumbuh sebagai identitas bermartabat di ruang publik nasional?

Mari kita beri ruang bagi kemungkinan baik. Tapi mari juga tetap kritis. Karena representasi bukan soal tampil atau tidak tampil, melainkan bagaimana ditampilkan. Agar Banyumas atau “Ngapak” tidak hanya hadir di layar, tetapi juga tumbuh dalam martabat.

Penulis: Akhmad Alhamdika Nafisarozaq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Istilah “Adoh Ratu Perek Watu”, Penyebab Orang Malu Menuturkan Bahasa Ngapak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2026 oleh

Tags: bahasa ngapakbanyumasBayu Skakstereotipe bahasa ngapak
Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Akhmad Alhamdika Nafisarozaq

Mahasiswa kabupaten yang sering pulang untuk mengamati rumah sendiri yang perlahan berubah.

ArtikelTerkait

Kemacetan Panjang di Pertigaan Ajibarang Banyumas Masih Jadi PR yang Belum Diselesaikan

Kemacetan Panjang di Pertigaan Ajibarang Banyumas Masih Jadi PR yang Belum Diselesaikan

20 April 2024
Lebih Beringas dengan Umpatan Khas Banyumas. Terminal Mulok #07 mojok.co/terminal

Lebih Beringas dengan Umpatan Khas Banyumas. Terminal Mulok #07

18 Maret 2021
Curug Cipendok Banyumas, Wisata Alam yang Menenangkan Pikiran Mojok.co

Curug Cipendok Banyumas, Wisata Alam yang Menenangkan Pikiran

31 Agustus 2024
Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini!

Banyumas Makin Sesak dan Mahal, Berhenti Mendambakan Slow Living di Sini!

15 Agustus 2025
Banyumas Layak Menjadi Tujuan Utama Study Tour Menggantikan Jogja

Banyumas Layak Menjadi Tujuan Utama Study Tour Menggantikan Jogja

5 Oktober 2023
Rekomendasi Restoran Keluarga di Kabupaten Banyumas dengan Pemandangan Serba Hijau

Rekomendasi Restoran Keluarga di Kabupaten Banyumas dengan Pemandangan Serba Hijau

18 Juni 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku Mojok.co

Tidak Melulu Soal Hantu, Punya Rumah Dekat Kuburan Jadi “Horor” karena Susah Laku

20 April 2026
6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi Mojok.co

6 Dosa Penjual Cilok yang Bikin Pembeli Kapok Jajan Lagi 

21 April 2026
Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak Mojok.co

Slow Living di Magelang Adalah Keputusan Orang Kota yang Paling Bijak

17 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan demi Bisa Sekolah (Unsplash)

Pengalaman Saya 3 Tahun “Menantang Maut” di Pacitan Hanya demi Bisa Berangkat Sekolah

19 April 2026
7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga Mojok.co

7 Mobil Bekas Harga Rp100 Juta-an yang Paling Masuk Akal Dimiliki sebagai Kendaraan Keluarga

16 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.