Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Pendidikan

Dua Tipe Murid yang Diingat Guru

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
29 Mei 2019
A A
tipe murid

tipe murid

Share on FacebookShare on Twitter

Memiliki orang tua seorang guru, membuat saya merasa beruntung. Bagaimana tidak, saya seringkali mendengar curhatan dari Ibu mengenai sekolah—dimulai dari lingkungan, kepala sekolah, dan yang pasti adalah kelakuan para muridnya. Awalnya saya yang tidak tahu tentang pendidikan secara internal—paling tidak kebijakan sekolah—sekarang menjadi tahu dan merasa tercerahkan.

Sudah biasa juga rasanya Ibu cerita tentang beberapa perilaku wali murid—khususnya, mereka yang suka menanyakan di akhir semester (dulu sempat menggunakan sistem caturwulan) ingin dapat bingkisan apa. Ada yang memang bertujuan untuk sekadar memberi kenang-kenangan dan ada juga yang berusaha mendapatkan hati Ibu agar anaknya bisa naik kelas.

Praktik seperti itu masih dilakukan oleh beberapa wali murid—sudah jelas Ibu menolak keras. Menurut Ibu, kalau memang tidak naik kelas—buat apa dipaksakan. Jika Ibu menaikan kelas murid dengan paksa, sedangkan standar minimal tidak terpenuhi dari segi nilai dan kehadiran—apalagi tidak masuk karena bolos—selanjutnya akan menjadi kebiasaan bagi murid juga walinya. Ibu berpendapat, pemahaman materi lebih penting dibanding hanya nilai.

Itulah kenapa, walau memiliki orang tua yang berprofesi sebagai guru, Ibu tidak pernah memaksa saya untuk mendapat nilai tinggi. Yang terpenting saya paham dengan apa yang dipelajari di sekolah. Toh, tiap anak punya kelebihan, kekurangan dan juga keunikan masing-masing.

Sewaktu SD, saya menjadi anak yang terlampau biasa. Baik dari segi pergaulan, maupun nilai yang didapat. Tercatat, hanya satu kali saya mendapat ranking tiga. Sampai akhirnya Ibu saya menyampaikan suatu wejangan yang bersumber dari sudut pandang pribadi Ibu.

“Guru itu akan ingat sama dua tipe murid—pertama murid yang pintar di kelas, kedua murid yang nakal”.

Pada poin itu, secara tidak langsung Ibu meminta saya untuk memilih, menjadi pintar atau menjadi murid yang nakal sehingga bisa dikenal guru—bahkan tidak menutup kemungkinan dikenal satu sekolah.

Saya menjalankan apa yang dikatakan Ibu. Semasa SMP adalah waktu di mana saya giat dalam belajar. Atas kerja keras yang saya lakukan, sampai lulus sekolah ranking yang didapat selalu empat besar. Bahkan rangking pertama sudah dirasakan. Sampai banyak guru yang mengenal, wejangan Ibu amat sangat tepat.

Baca Juga:

Diingat oleh Penjaga Kantin, Sebenar-benarnya Kebanggaan Seorang Alumnus

Jangan Dihujat Dulu, Ada Tujuan Positif dari Guru yang Ngambek Nggak Mau Ngajar Gara-gara Muridnya Melakukan Kesalahan

Setelah lulus SMP dan masuk SMA, semangat belajar saya memudar, seperti anak SMA kebanyakan, saya lebih suka main dan kumpul bersama teman, dibanding harus belajar. Motto saya selama SMA adalah, “Nggak perlu nilai bagus, yang penting bisa lulus”—tentu ini tidak layak ditiru.

Pada periode ini, saya menjadi murid biasa saja yang tidak dikenal oleh banyak guru. Banyak yang mengenal saya justru semua pedagang di kantin—karena di sela-sela jam pelajaran berlangsung, saya selalu menyempatkan diri izin ke kantin untuk membeli camilan.

Di masa kuliah—karena saya merasa belajar di jurusan yang saya minati—keinginan belajar pun kembali meningkat dan kembali berhasil “merebut” hati dosen dari nilai yang saya dapat. Ditambah saya sempat menjadi asisten laboratorium untuk kebutuhan praktikum selama dua tahun.

Ibu saya pun sampai dengan saat ini masih bercerita tentang siapa saja murid yang masih diingat—padahal anak tersebut sudah lulus belasan bahkan puluhan tahun lalu. Kriterianya masih sama, antara pintar dan nakal. Untuk murid yang nakal, akan lebih diingat oleh Ibu karena pastinya sempat berurusan langsung—kena teguran sampai dengan dihukum. hehe.

Kenakalannya beragam, ada yang kabur dari sekolah tanpa izin dari guru padahal di jam pertama (pagi)—ada. Ada yang suka buat onar di kelas—Ibu sedang mengajar, murid lelaki ada yang jalan-jalan di kelas sambil menggoda-goda anak perempuan—dan masih banyak kelakuan absurd lainnya namun masih dalam batas wajar.

Cara demokratis dari Ibu perihal penentuan bagaimana saya harus bersikap selama sekolah, membentuk karakter saya pada saat ini di dunia kerja. Menjadi orang baik, “nakal”, atau “pemberontak” itu merupakan pilihan masing-masing. Terpenting, tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukan baik kepada diri sendiri maupun orang lain.

Jika guru adalah pengalaman terbaik—dalam poin ini, Ibu menjadi sesuatu yang berharga dalam hidup meski seandainya tidak berprofesi sebagai guru sekalipun.

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2021 oleh

Tags: Guru dan MuridMasa SekolahMurid NakalTipe Murid
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang Suami, Ayah, dan Recruiter di suatu perusahaan.

ArtikelTerkait

Pengalaman Jadi Anak Pindahan dan Hal Sepele Aja Dipermasalahkan terminal mojok.co

Jika Kamu Ketua Kelas 3 SMA, Bersiaplah Menjadi Ketua Selamanya

13 November 2020
upacara bendera

Mengenang Kegiatan Upacara Bendera Pada Masa Sekolah

17 Juli 2019
Diingat oleh Penjaga Kantin, Sebenar-benarnya Kebanggaan Seorang Alumnus istirahat sekolah

Diingat oleh Penjaga Kantin, Sebenar-benarnya Kebanggaan Seorang Alumnus

31 Juli 2022
Jangan Dihujat Dulu, Ada Tujuan Positif dari Guru yang Ngambek Nggak Mau Ngajar Gara-gara Muridnya Melakukan Kesalahan terminal mojok

Jangan Dihujat Dulu, Ada Tujuan Positif dari Guru yang Ngambek Nggak Mau Ngajar Gara-gara Muridnya Melakukan Kesalahan

29 Juli 2021
tukang parkir

Saya Usul Supaya Profesi Tukang Parkir Jadi Pilihan Cita-Cita

11 Agustus 2019
kotak pensil

Menebak Kepribadian Pelajar Berdasarkan Isi Kotak Pensil

20 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

Pronosutan Kulon Progo, Tujuan Baru para Pelari dan Pencari Ketenangan

26 Januari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya Mojok.co

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

29 Januari 2026
8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Mengecewakan Pembeli (Danangtrihartanto - Wikimedia Commons)

8 Dosa Penjual Kue Pukis yang Sering Disepelekan Penjual dan Mengecewakan Pembeli

30 Januari 2026
4 Alasan Freezer Nugget Lebih Membingungkan daripada Kulkas Minuman di Indomaret

4 Alasan Freezer Nugget Lebih Membingungkan daripada Kulkas Minuman di Indomaret

26 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.