Drakor Memang Tidak Cocok dan Sulit Menghibur Penonton Indonesia – Terminal Mojok

Drakor Memang Tidak Cocok dan Sulit Menghibur Penonton Indonesia

Artikel

Avatar

Sejak pandemi yang nggak lelah-lelah pergi, drakor alias drama korea menjadi hal lazim yang ditonton banyak orang. Tidak memandang kasta sosial, yang penting punya gadget dan kuota yang memadai, berbagai judul sudah dapat dinikmati pemirsa di berbagai belahan dunia, termasuk penonton Indonesia.

Hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya yang seorang P3D (pencinta, penikmat, pengagum drakor). Belakangan ini beberapa stasiun televisi swasta ikut merayakan kegilaan penikmat drakor dengan menayangkan drakor sebagai tayangan wajib setiap hari. Harapan merdeka dari sinetron-sinetron Indonesia yang bertema “itu-itu mulu” merekah bak mentari terbit di pagi hari.

Sayangnya harapan tetaplah harapan. Asumsi saya bahwa drakor yang ditayangkan di stasiun TV Indonesia dapat menjadi bahan ajar bagi para pemirsanya malah salah kaprah. Lah, kok bisa? Berikut saya memaparkan alasan-alasan bahwa drakor nggak cocok dan nggak bisa dipaksakan untuk penonton Indonesia.

Tayangan drakor tidak relatable dengan kehidupan orang tua.

Betapa menggembirakan ketika saya membayangkan, sudah nonton drakor gratis nggak memerlukan kuota, ditonton di layar televisi lagi. Sayangnya, bayangan itu pupus dilahap kenyataan tatkala ibu saya bingung dan malah nggeremeng (ngomel-ngomel) nggak karuan waktu saya ajak nonton drakor. Blio memilih merebut remote TV yang saya pegang, lalu memindah tayangan ke channel kesukaan beliau.

Kata blio, “Sudah pagi-sore kerja iku capek malah diajak nonton yang mikir-mikir.” Duarrr. Kalimat mak jleb itu menampar saya dengan fakta.

Sebab saya seorang P3D, saya menyanggah perkataan ibu saya, “ Lah, Buk masak tontonan jenengan sinetron terus diulang-ulang lagi kayaknya ndek wingi judul e yo sama.”

Balas ibu saya, “Ya rapopo to, Le, nonton judul seng sama, daripada wajahe sama kabeh, mundak bingung Ibuk.” Jlebbb. Weshhh lebih baik “nggeh” saja daripada menjadi Malin Kundang series 2020. Dari percakapan saya dan ibu saya di atas dapat disimpulkan bahwa drakor memang nggak sesuai dengan kehidupan orang tua. Sebab, orang tua saya yang sibuk kerja pagi hingga sore hiburan terbaiknya ya tontonan yang ringan seperti sinetron, kisah selebriti, dkk. Toh, menurut saya orang tua nggak terlalu butuh bahan ajar untuk dijadikan tontonan, mereka membutuhkan hiburan untuk menghilangkan lelah dan penat.

Menampilkan drakor yang hanya viral pada masanya

Alasan kedua yang mendukung saya untuk mengatakan “tidak” pada penayangan drakor di TV Indonesia ya ini. Coba lihat dan telusuri drama-drama yang tayang di Indonesia, sebagian besar stasiun televisi Indonesia menayangkan drakor yang viral-viral saja alias mempunyai rating tinggi di Korea Selatan. Misalnya The Word of the Married yang sempat ramai dan memperoleh rating penayangan tertinggi pada 2020, Encounter, Sky Castle, School 2017, Descendant of the Sun, dan sebagainya.

Suatu kelaziman jika stasiun TV Indonesia menayangkan drama yang mempunyai rating tinggi. Hal itu tak lain dan tak bukan supaya stasiun TV Indonesia juga mendapat rating tak kalah tinggi selama penayangan. Sayangnya upaya itu nggak berhasil diterapkan untuk penonton Indonesia yang terlanjur cerdas. Namanya juga viral, pastinya pemirsa drakor lebih memilih menjadi tim on going dan nonton di gawai sampai ending. Lalu setelahnya? Ya sudahhh. Mau ditayangin di TV yang gratis pun, sampai dikasih dubbing terkeren se-Indonesia, kalau sudah nonton ya malas mengulang. Mending cari referensi drakor lain. 

Tidak relate dengan peraturan sensor di Tanah Air

Alasan ketiga ini adalah alasan yang paling nyata mengapa drakor memang tidak cocok untuk penonton Indonesia. Ada seabrek peraturan dari lembaga-lembaga berwenang tentang pertelevisian. Mulai dari KPI hingga LSI. Entah apa yang dipikirkan pihak-pihak tersebut. Yang dikit-dikit sensor dikit-dikit potong. Memang bebek angsa? 

Sebenarnya suatu film atau drama dapat diambil suatu hikmah atau manfaat ketika kalian menontonnya dengan bijak. Coba bayangkan, waktu ada adegan yang sarat akan ilmu seperti drama medis, kita bakal tahu tentang cara memberi napas buatan. Tapi, saya yakin kalau di Indonesia adegan tersebut pasti disensor. Padahal salahnya di mana?

Pada drama The Word of the Married yang tayang di salah satu stasiun swasta Indonesia, ada banyak adegan yang dipotong dan disensor. Dipastikan setelah nonton drama ini di TV, rasanya nggak dapat apa-apa selain kebingungan pada diri sendiri. “Loh kok tiba-tiba ini, kok tiba-tiba si Tae-oh masuk penjara?” Adegan suami istri juga banyak disensor dengan dalih nggak sesuai norma dan adab di Indonesia. Lha daripada menimbulkan ketidakjelasan ya mending cari drama dengan rate 15+ saja kan, minim adegan yang nggak sesuai norma dan adab, nggak membingungkan, pengajarannya juga pasti ada. Penonton Indonesia pun nggak kebingungan. 

Eh, tapi, stasiun TV kan nggak butuh pemirsanya menjadi cerdas dengan apa yang ditayangkan ya? Kan yang penting rating.

Weshhh, mending nonton dramanya lewat gadget aja, nggak menimbulkan kesengsaraan publik. Penonton Indonesia lain tetap konsumsi sinetron, acara gosip, dan reality show nggak masuk akal.

BACA JUGA Anime Menyelamatkan Saya dari Hasutan “Bakal Drakor Pada Waktunya”

Baca Juga:  Dilema Orang Cirebon: Sunda di Tanah Jawa, Jawa di Tanah Sunda

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
14


Komentar

Comments are closed.