Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar

Dosen wajib S3 itu bagus, tapi akses beasiswanya bikin pengin istigfar (Pixabay.com)

Wacana dan aturan yang mewajibkan dosen berpendidikan strata tiga alias S3 sebenarnya bukan hal yang mengejutkan dari sisi standar. Sebagai bangsa yang ingin perguruan tingginya bersaing di kancah global, menaikkan kualifikasi pengajar adalah langkah wajar.

Masalah sebenarnya justru muncul saat melihat bagaimana kebijakan ini berdiri sendirian, seperti bangunan megah tanpa tiang penyangga yang kokoh.

Pemerintah dan pembuat kebijakan tampak sangat bersemangat mematok standar tinggi, tetapi lupa membenahi ekosistem di sekitarnya. Aturan ini mewajibkan orang sekolah sampai tingkat tertinggi. Tetapi akses menuju ke sana justru dipersulit oleh berbagai kerumitan birokrasi dan minimnya dukungan nyata dari regulasi lain.

Banyak mahasiswa S2 yang berencana melanjutkan studi ke jenjang S3 demi bisa berkontribusi di dunia akademis, situasi ini terasa membingungkan sekaligus menguras emosi. Keinginan untuk belajar itu ada, niat untuk memenuhi standar negara juga bulat. Namun, benteng pertahanan bernama beasiswa sering kali terasa seperti labirin tanpa ujung.

Kuota beasiswa S3 kelewat terbatas

Banyak dari kita yang sudah berusaha memenuhi semua kualifikasi formal dengan sangat tertib. Nilai TPA tinggi sudah di tangan, skor TOEFL melampaui batas minimal, portofolio riset dan CV sudah ditata serapi mungkin, bahkan prestasi akademis selama S2 juga tidak malu-maluin. Di atas kertas, kualifikasi tersebut sudah sangat ideal untuk melangkah ke jenjang doktor. Namun pada kenyataannya, berburu beasiswa di negeri ini tetap saja seperti mencari jarum di dalam jerami.

Kuota beasiswa sering kali terbatas. Proses seleksi tidak jarang terasa acak. Dan, skema pendanaan untuk calon doktor kerap kali kurang ramah bagi mereka yang benar-benar fokus pada riset murni. Belum lagi jika bicara soal biaya hidup dan tuntutan ekonomi yang harus ditanggung selama masa studi. Bagaimana mungkin seseorang dituntut memiliki gelar S3 jika jalan menuju ke sana penuh dengan kerikil tajam dan pintu yang terkunci?

Kebijakan penetapan standar dosen S3 ini seolah berasumsi bahwa semua calon dosen memiliki modal finansial mandiri yang melimpah untuk membiayai kuliahnya sendiri. Padahal, realitas lapangan menunjukkan bahwa mayoritas talenta muda yang berpotensi menjadi akademisi hebat justru sangat bergantung pada bantuan pendanaan dari negara atau lembaga penyedia beasiswa.

Kondisi ini makin ironis ketika calon peneliti muda justru lebih banyak menghabiskan energi untuk bertahan hidup dan mengurus berkas administrasi beasiswa yang berbelit-belit daripada merancang riset berkualitas. Padahal, esensi dari jenjang doktor adalah kedalaman karya ilmiah, bukan ketangkasan melompati pagar birokrasi pendanaan.

Yang rugi banyak

Fenomena ini akhirnya menciptakan ruang abu-abu yang merugikan banyak pihak. Calon akademisi yang berpotensi besar akhirnya terpaksa menunda atau bahkan mengubur mimpi mereka untuk mengajar hanya karena terganjal tembok finansial. Di sisi lain, perguruan tinggi juga terancam kehilangan regenerasi pengajar muda yang segar dan penuh gagasan baru.

Menuntut standar akademis setinggi langit itu sah saja, bahkan perlu. Namun, menuntut tanpa memberikan kemudahan akses adalah bentuk ketidakselarasan kebijakan. Jika negara memang serius ingin membenahi mutu perguruan tinggi melalui dosen bergelar S3, maka sederhanakanlah akses beasiswanya, perluas kuotanya, dan perbaiki sistem seleksinya agar mereka yang berkualifikasi tidak gugur hanya karena sistem pendanaan yang rumit.

Tanpa adanya aturan pendukung dan kemudahan akses beasiswa, aturan dosen wajib S3 ini hanya akan menjadi beban tambahan bagi para calon akademisi. Pada akhirnya, kita hanya bisa mengelus dada sambil bertanya, apakah negara benar-benar ingin mencetak dosen berkualitas, atau sekadar ingin menambah panjang daftar syarat formalitas yang sulit digapai.

Penulis: Aisyah Akhlaqul Karimah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kuliah S3 Memang Bergengsi, tapi Menyimpan Sisi Kelam yang Jarang Diketahui Orang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version