Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Dosen Pembimbing yang Nggak Minta Draft Skripsi Kertas ke Mahasiswa Layak Masuk Surga

Adhitiya Prasta Pratama oleh Adhitiya Prasta Pratama
11 Januari 2024
A A
Dosen Pembimbing Nggak Minta Draft Skripsi Kertas ke Mahasiswa Layak Masuk Surga kaprodi

Dosen Pembimbing Nggak Minta Draft Skripsi Kertas ke Mahasiswa Layak Masuk Surga (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Saya nggak tahu sudah berapa lembar kertas yang terbuang untuk skripsi saya. Mulai dari awal setor proposal hingga menjelang sidang skripsi, mungkin kertas-kertas itu sudah bisa dikiloin dan menghasilkan uang jika dijual. Akan tetapi semakin ke sini, saya semakin menyadari kalau lembaran kertas skripsi saya itu, apalagi yang sudah dicoret-coret dosen pembimbing, sudah menggunung di sudut kamar kos saya.

Saya jadi kepikiran, jika satu mahasiswa seperti saya menghabiskan kertas untuk skripsian sebanyak itu, apalagi ribuan mahasiswa akhir seperti saya di luar sana. Mungkin kalau semuanya disatukan akan menjadi gunung kertas yang tak terpakai. Padahal kebijakan pengurangan penggunaan kertas sudah banyak dilakukan, tapi jarang sekali dosen menimbang hal itu untuk keperluan mahasiswa yang sedang skripsian. Malah kadang, ada dosen pembimbing yang nggak mau menerima draft skripsi mahasiswa dalam bentuk soft file seperti PDF.

Padahal soft file seperti PDF lebih efisien bagi mahasiswa. Selain menghemat pengeluaran mahasiswa, syukur-syukur draft skripsi dalam bentuk PDF turut menciptakan kampus hijau yang sudah diwacanakan jauh-jauh hari.

Dosen pembimbing minta draft skripsi kertas bikin kantong mahasiswa menipis

Jujur saja selama proses pengajuan proposal hingga sidang, pengeluaran saya habis untuk sekadar nge-print draft skripsi. Kalau ditotal, dengan kurun waktu selama itu, ratusan ribu rupiah sudah saya gelontorkan.

Bayangkan, jika halaman proposal skripsi saya ada 30 halaman dan satu halaman dihitung Rp500, maka untuk satu kali print out, setidaknya saya menghabiskan uang Rp15 ribu. Bayangkan lagi jika saya bimbingan dua kali dalam seminggu, maka untuk satu bulan, maka sudah mengeluarkan uang Rp120 ribu. Padahal uang bulanan saya dari orang tua nggak lebih dari Rp300 ribu. Belum lagi jika saya disuruh print draft lengkap skripsi saya yang lebih dari 100 halaman. Sudah, kalian hitung sendiri saja.

Dosen pembimbing yang mengharuskan ada draft skripsi fisik ke mahasiswanya adalah dosen yang nggak mengerti nasib mahasiswa perantauan seperti saya. Jangankan uang bulanan saya untuk beli buku referensi atau mengakses jurnal berbayar, untuk makan saja kadang saya akali dengan berpuasa.

Saya nggak lebay, tapi teman-teman seperjuangan saya juga mengalaminya. Uang yang seharusnya kami gunakan untuk beli buku, makan, dll., kadang dipotong untuk print out draft skripsi fisik. Padahal, kalau dilihat-lihat, skripsi yang sudah dicoret-coret atau dikoreksi sudah nggak bisa digunakan lagi. Jujur, ini sangat menguras kantong mahasiswa pas-pasan seperti saya ini.

Mengapresiasi dosen yang minta draft skripsi mahasiswa via PDF

Sayangnya, nggak semua dosen pembimbing mau membaca draft skripsi mahasiswanya via digital, baik melalui ponsel atau laptop. Alasan klasiknya adalah mereka kurang leluasa mengoreksi skripsi mahasiswa. Katanya, mereka lebih mudah mencoret dan memberi komentar kalau di atas kertas. Sementara kalau lewat ponsel, mereka kesulitan memilih highlighter, menu komentar, dsb.

Baca Juga:

Pengakuan Joki Skripsi di Jogja: Kami Adalah Pelacur Intelektual yang Menyelamatkan Mahasiswa Kaya tapi Malas, Sambil Mentertawakan Sistem Pendidikan yang Bobrok

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

Bagi saya, itu alasan ampas. Mengapa? Di satu sisi, para dosen menggembar-gemborkan digitalisasi pendidikan. Sementara di sisi lain, mereka memiliki alasan untuk nggak menerima draft skripsi via PDF atau format lainnya.

Padahal kalau dipikir-pikir, skripsi berbentuk soft file lebih mudah diakses dan disimpan ketimbang skripsi berbentuk fisik kertas. Pun tentunya nggak merepotkan mahasiswa, apalagi sampai menguras kantong mahasiswa. Makanya saya sangat mengapresiasi dosen yang bilang, “Kirim PDF saja, Mas.”.

Draft skripsi kertas menghambat terciptanya wacana eco-campus yang ramah lingkungan

Program eco-campus di perguruan tinggi kini tengah digelorakan. Isu lingkungan tampaknya menjadi masalah paling serius, apalagi jika menyangkut lingkungan kampus, tempat untuk mengenyam pendidikan. Program eco-campus memang sangat banyak, mulai dari masalah limbah, polusi, hingga kegiatan yang mengurangi pemanasan global. Bagi saya, langkah efektif untuk menciptakan kampus berwawasan lingkungan atau eco-campus adalah pengurangan penggunaan kertas, utamanya penggunaan kertas untuk skripsi.

Bukan apa-apa, banyak kampus yang menobatkan dirinya sebagai kampus berwawasan lingkungan tapi ketika mahasiswa akhir menyerahkan skripsi berbentuk soft file, para dosen pembimbing menolak. Bayangkan jika selama persiapan skripsi mulai dari tahap proposal hingga revisi lengkap, satu mahasiswa menghasilkan 1 rim kertas, bagaimana jika ada ribuan mahasiswa? Sudah berapa pohon yang digunakan dan berhasil menghasilkan limbah pendidikan itu?

Bahkan menurut laporan Badan Pusat Statistik (BPS), luas tutupan hutan Indonesia sudah berkurang 956.258 hektare selama periode 2017-2021. Angka tersebut setara dengan 0,5% dari total luas daratan Indonesia. Meskipun penyebab utamanya bukan hanya untuk penggunaan kertas, tapi pengurangan penggunaan kertas untuk skripsi perlu dilakukan. Ini mungkin jadi hal paling fundamental untuk benar-benar menciptakan deforestasi dan eco-campus. Sepele, tapi jarang diperhatikan.

Saya sangat mengapresiasi dosen pembimbing yang memilih membaca draft skripsi mahasiswanya secara digital. Di samping nggak merepotkan dan menguras kantong mahasiswa, hitung-hitung turut mewujudkan kampus berwawasan lingkungan (eco-campus) yang kini digelorakan itu. Dosen seperti ini layak masuk surga. Tenan!

Jadi, mulai sekarang, saya kirim skripsi saya via PDF ya, Pak/Bu?

Penulis: Adhitiya Prasta Pratama
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Kiat Hadapi Sidang Skripsi Langsung dari Dosennya!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Januari 2024 oleh

Tags: dosbingDosen Pembimbingdosen pembimbing skripsiMahasiswaSkripsi
Adhitiya Prasta Pratama

Adhitiya Prasta Pratama

Seorang mahasiswa yang hobi baca apa aja di depannya.

ArtikelTerkait

salah jurusan

Maba, Bukan Hanya Rentan Salah Jurusan, Tapi juga Salah Pilih Organisasi

30 Agustus 2019
Ormek Adalah Kumpulan Mahasiswa Gila Hormat yang Sebaiknya Diwaspadai Mojok.co

Ormek Lebih Cocok Disebut Kumpulan Mahasiswa Haus Pujian daripada Organisasi Mahasiswa

18 Juni 2025
3 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Mahasiswa Kalau Resesi Ekonomi Terjadi terminal mojok.co

3 Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Mahasiswa Kalau Resesi Ekonomi Terjadi

11 September 2020
Mahasiswa yang Kuliah Lama adalah Donatur Kampus Paling Dermawan Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Lama adalah Donatur Kampus Paling Dermawan

9 Desember 2023
Warjok, Warung Makan Dekat Kuburan yang Selalu Ramai Mahasiswa Untidar Magelang Mojok.co

Warjok, Warung Makan Dekat Kuburan yang Selalu Ramai Mahasiswa Untidar Magelang

20 Agustus 2024
Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan

Sepeda Listrik Nggak Cocok buat Mahasiswa Mendang-Mending di UI karena Mahal dan Nggak Bisa Boncengan

14 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda Mojok.co

Kelurahan Batununggal dan Kecamatan Batununggal: Nama Mirip dan Sama-sama di Bandung, tapi Takdirnya Berbeda

15 Januari 2026
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

Kapok Naik KA Bengawan, Sudah Booking Tiket Jauh Hari Malah Duduk Nggak Sesuai Kursi

16 Januari 2026
Rute KRL Duri-Sudirman, Simbol Perjuangan Pekerja Jakarta (Unsplash)

Rute KRL dari Stasiun Duri ke Sudirman Adalah Rute KRL Paling Berkesan, Rute Ini Mengingatkan Saya akan Arti Sebuah Perjuangan dan Harapan

15 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
  • Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.