Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

5 Dosa Kampus Medioker terhadap Alumni yang Lanjut S2 di Kampus Top

Naufalul Ihya Ulumuddin oleh Naufalul Ihya Ulumuddin
3 September 2025
A A
5 Dosa Kampus Medioker terhadap Alumni yang Lanjut S2 di Kampus Top

5 Dosa Kampus Medioker terhadap Alumni yang Lanjut S2 di Kampus Top (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

#2 Nggak mengajari cara membaca yang benar

Ketika S1, jarang sekali dosen memberi bacaan spesifik yang realistis. Dosen S1 saya cenderung memberi banyak pilihan buku bacaan tanpa strategi membaca yang realistis. Pokoknya dipaparkan saja judul-judulnya, pilih sendiri, baca sendiri, dan simpulkan sendiri. Di kelas, ya presentasi tanpa arah lagi.

Sedangkan ketika S2, saya diajarkan cara membaca jurnal ilmiah dan bagian buku yang benar. Misalnya, dosen memberi satu jurnal untuk dibaca seminggu dan dipresentasikan. Tetapi dosen juga tidak membatasi jika mahasiswa ingin membaca referensi tambahan yang sesuai. Satu jurnal menjadi realistis dan akan benar benar dibaca mahasiswa dibanding banyak rekomendasi nggak jelas yang berujung nggak ada yang dibaca sama sekali.

Lebih dari itu, ketika kelasnya dimulai, dosennya keliatan sekali kalau juga ikut membaca bacaan yang akan dibahas. Nah, hal ini yang jarang saya temui dari dosen-dosen S1 saya dulu. Huft.

#3 Nggak mengajari software praktis keilmuan

Lantaran saya dari ilmu sosial, maka ada software populer yang namanya SPSS (Statistical Package for The Social Sciences). Software ini fungsinya digunakan untuk mengolah data statistik untuk penelitian kuantitatif. Harusnya diajarkan secara bertahap dan serius ketika S1.

Akan tetapi hal itu nggak terjadi. Kelas metode kuantitatif dan statistik seakan hanya formalitas yang lebih sering dianggap candaan. Dosennya pun ngawur dan keseringan bercanda tanpa ilmu praktis yang berarti.

Alhasil ketika S2, saya keteteran. Beberapa mahasiswa dari kampus top justru sudah mahir menggunakan SPSS bahkan sudah di level penguasaan software lain seperti Stata dan R-Studio. Duh, di situ saya mengumpat dalam hati dan memaki tipis dosen statistik saya waktu S1. Hadeeeh.

Syukurnya, dosen S2 saya masih rela mengajar SPSS dari awal untuk alumni kampus medioker seperti saya ini. Pengajaran yang seharusnya dilakukan oleh dosen S1. Saya curiga, dosen S1 saya juga nggak ngerti SPSS. Hmmm.

Problem kampus medioker menjadi makin pelik kalau kualitas dosennya saja begitu, ya kan? Segera perbaiki lah. Tingkatkan lagi skill dosennya. Kasihan mahasiswa dan alumninya, lho.

Baca Juga:

Bukan Sensi atau Mengabaikan, Ini Alasan Dosen Lama Balas Chat walau WhatsApp-nya Online

Mengurai Inflasi IPK: Dosen Makin Dermawan atau Mahasiswa Makin Pintar?  

#4 Nggak memberi penjelasan materi dengan porsi yang cukup

Ada beberapa mata kuliah ketika S1 yang dosennya nggak pernah masuk. Alasannya macem-macem, mulai dari studi S3 sampe ke naik haji. Tapi mahasiswa nggak ada yang protes, karena nilai akhir semua mahasiswanya rata, pasti A.

Jangka pendeknya, enak. Nilai bagus tanpa belajar. Tapi jangka panjangnya, bikin nyesel ketika sekarang memutuskan lanjut S2. Soalnya saya jadi merasa ketinggalan dari mahasiswa lulusan kampus top yang dapet materi utuh tentang mata kuliah yang sama. Sebut saja Kajian Gender.

Saya belajar sendiri, baca sendiri. Sedikit banyak akhirnya saya mengerti dari membaca buku dan jurnal. Tetapi pasti akan lebih menarik dan banyak pengetahuan baru kalau ada kelasnya. Potensi diskusi lebih luas dan penjelasan teoritis dan pengalaman dosen juga akan memperkaya pengetahuan. Cuma begitulah kampus medioker.

Nah, syukurnya dosen dosen ghosting begini nggak saya temui di S2. Dosennya profesional dan kalau nggak bisa ngajar pasti ada kelas pengganti. Katanya, mengajar mahasiswa itu tanggung jawab intelektual dan moral mereka. Jadi di luar penugasan mandiri mahasiswa, mereka sadar tetap perlu memberi penjelasan yang serius sesuai porsinya.

#5 Kampus medioker membuat mahasiswa terbiasa mengarang bebas

Ketika S1 di kampus medioker, setiap mahasiswa dituntut menulis penelitian di setiap mata kuliah. Kalau ambil 8 mata kuliah, berarti harus ada 8 penelitian dalam satu semester. Ini jelas nggak realistis kalau penelitian sosial yang membutuhkan pengumpulan data wawancara mendalam.

Sialnya, tugas penelitian adalah wajib sebagai syarat lulus mata kuliah. Mau nggak mau, ya harus selesai semua. Konsekuensi terburuknya karena waktu nggak nutut, ya mengarang bebas. Hasilnya, tulisan riset mahasiswa nggak berkualitas. Niat bisa publikasi dan mendongkrak akreditasi, malah menghasilkan mahasiswa yang terbiasa menulis jelek. Kalau kata pepatah, jauh panggang dari api.

Itulah 5 dosa kampus medioker terhadap alumninya yang memutuskan lanjut S2 di kampus top. Ranking kampus memang bukan segalanya, tapi berdasar pengalaman saya justru nyaris menjadi representasi yang nyata. Paling tidak, kuliah di kampus top memberikan peluang lebih besar untuk dididik oleh pendidik yang oke. Dengan pendidik yang baik, belajar jadi nyaman dan khidmat. Barangkali dari situ justru kesuksesan bisa terlihat sedikit lebih jelas.

Untuk kampus medioker, kualitas pengajaran dosen perlu dibenahi. Jangan sampai mengorbankan mahasiswa dan alumninya karena kurang ilmu yang kalian berikan. Tetap semangat.

Penulis: Naufalul Ihya’ Ulumuddin
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Kampus Ruko Dipandang Aneh dan Disepelekan, tapi Saya Nggak Menyesal Kuliah di Sana.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 4 September 2025 oleh

Tags: DosenKampus mediokerkuliah s2lanjut s2S2
Naufalul Ihya Ulumuddin

Naufalul Ihya Ulumuddin

Pegiat sosiologi asal Madura. Tertarik isu pendidikan, kebijakan sosial, dan keluarga. Cita-cita tertinggi jadi anak yang berbakti dan suami ideal untuk istri.

ArtikelTerkait

lanjut s2

Dilema Fresh Graduate: Langsung Kerja, Lanjut S2, atau Daftar CPNS?

21 Oktober 2019
Faktanya, Kuliah S2 Bukan Berarti Bakal Lancar Dapat Kerjaan, Dunia Kerja Beneran Nggak Peduli Ijazah! lulusan s2 ugm lulusan ugm

Lulusan S2 UGM atau Tidak, Semua Bakal Kesulitan Bertahan Hidup di Jogja kalau Tidak Punya Strateginya

18 Januari 2025
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang

29 Oktober 2025
Dear Dosen Pembimbing, Menerima Revisi Skripsi dalam Bentuk Hard Copy Itu Merepotkan Mojok.co

Dear Dosen Pembimbing, Menerima Revisi Skripsi dalam Bentuk Hard Copy Itu Merepotkan

28 Mei 2024
Sisi Gelap Kuliah S2 yang Tak Diketahui Banyak Orang

Sisi Gelap Kuliah S2 yang Tak Diketahui Banyak Orang

1 Mei 2025
Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

18 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau Mojok.co

Warteg Comfort Food Perantau Kabupaten di Jakarta, Rasa Familier dan Harga Terjangkau

17 Juni 2026
Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

21 Juni 2026
Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

19 Juni 2026
Kenangan Main Bola di Lapangan Grass Block Sisi Timur Alun-Alun Kota Batu yang Kini Sudah Tiada Mojok.co

Kangen Main Bola di Lapangan Grass Block Sisi Timur Alun-Alun Kota Batu yang Kini Sudah Lenyap

15 Juni 2026
Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah yang Jadi Sarang Tikus (Unsplash)

Pengalaman Pahit Tinggal di Kos Murah: Ketika Rumah Tua Berubah Menjadi Sarang Tikus

21 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.