Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ketika Jalan Tol Menembus Tanah Keraton: Dilema Istimewa Jogja dalam Menata Ruang

Arnufan Deni Marwanto oleh Arnufan Deni Marwanto
22 Juli 2025
A A
Ilustrasi Dilema Jogja ketika Jalan Tol Menembus Tanah Keraton (Unsplash)

Ilustrasi Dilema Jogja ketika Jalan Tol Menembus Tanah Keraton (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY, baca: Jogja) sedang menghadapi ujian besar dalam sejarah perencanaan ruangnya. Ujian ini tidak datang dalam bentuk konflik fisik, melainkan melalui proyek besar yang merangsek masuk ke dalam ruang hidup masyarakat. Ada jalan tol, kawasan komersial baru, dan investasi properti skala besar. 

Di tengah semua itu, muncul satu pertanyaan penting. Seberapa jauh kita ingin mengorbankan tanah dan tata kota demi kecepatan mobilitas?

ADVERTISEMENT

Tol sebagai simbol kemajuan atau perpecahan sosial di Jogja?

Pembangunan tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen konon bertujuan untuk mempercepat konektivitas dan mendukung destinasi wisata serta logistik. Namun, proyek ini juga membawa konsekuensi sosial dan ekologis yang tidak sepele. Tidak sedikit warga yang terdampak langsung. Tanah mereka terdampak proyek, sebagian tanpa kejelasan hak milik karena berada di atas Sultan Ground.

Di sisi lain, sebagian masyarakat merasa bahwa jalan tol ini adalah simbol ketimpangan. Membangun jalan mewah, sementara suara masyarakat akar rumput justru diredam. Apakah ini yang disebut kemajuan?

Sultan Ground milik siapa?

Keistimewaan Jogja menjadikan persoalan pertanahan berbeda dari daerah lain. Banyak lahan di Jogja berstatus Sultan Ground (SG) atau Pakualaman Ground (PAG). Maksudnya ini tanah milik kerajaan untuk kepentingan rakyat. 

Namun, dalam praktiknya, status ini sering memunculkan ketidakpastian hukum. Terutama bagi masyarakat yang telah menempati tanah selama puluhan tahun namun tidak memiliki sertifikat.

Ketika pembangunan jalan tol membutuhkan SG, muncul dilema besar. Apakah tanah kerajaan bisa dihibahkan untuk negara? Jika ya, dengan syarat apa? Jika tidak, apakah pembangunan tetap bisa berjalan?

Persoalan ini bukan semata administratif. Ia menyentuh identitas, hukum adat, dan relasi kekuasaan yang unik di Jogja.

Baca Juga:

Kebiasaan aneh orang Jogja yang dahulu saya nyinyirin, tapi kini malah saya tiru

Tegalrejo, kecamatan underrated di pinggiran Kota Jogja yang ternyata punya banyak cerita

Ruang hidup di Jogja yang menyempit

Kita tidak bisa memungkiri kalau jalan tol juga membawa dampak pada perubahan ruang secara luas. Desa-desa yang dulu tenang dan berbasis pertanian kini mulai berubah menjadi kantong-kantong real estate baru. 

Kalau Anda amati, beton-beton sudah menggantikan beberapa lahan produktif. Jalur-jalur akses tradisional juga hilang. Jalan-jalan baru tidak dibangun untuk pejalan kaki, melainkan untuk mobil-mobil dari luar kota. Ruang hidup warga lokal semakin menyempit

ADVERTISEMENT

Yang terjadi bukan hanya relokasi fisik, tapi juga identitas. Sebuah desa yang semula punya tatanan sosial dan budaya yang kuat, tiba-tiba berubah menjadi area transisi yang serba cepat dan tak lagi akrab.

Kemajuan yang dikelola atau kemajuan yang menggilas?

Kita memang akan sulit menolak pembangunan. Tapi pertanyaannya, siapa yang mengatur pembangunan? Apakah Jogja sudah mengelolanya dengan prinsip keberlanjutan, keadilan, dan partisipasi? Atau pembangunan berjalan hanya untuk memenuhi target proyek nasional tanpa mempertimbangkan konteks lokal?

Jogja bisa menjadi contoh daerah yang berhasil menyeimbangkan antara kemajuan dan pelestarian ruang. Tapi itu hanya mungkin jika terjadi beberapa hal. Pertama, masyarakat diajak bicara sejak awal, bukan setelah semuanya ditetapkan. Kedua, hak atas tanah dihormati, baik secara hukum formal maupun adat. Ketiga, tata kota tidak hanya berdasarkan peta, tapi juga berdasar kearifan lokal dan kebutuhan riil warga.

Jalan tol menuju kota berkeadilan

Jogja tidak boleh sekadar menjadi kota lintasan jalan tol. Ia harus tetap menjadi kota tujuan yang mencerminkan kota budaya, pendidikan, dan memanusiakan ruang.

Ketika jalan tol menembus tanah keraton, bukan hanya ruang fisik yang dilintasi, tapi juga nilai-nilai, sejarah, dan harapan banyak orang. Di sinilah pentingnya tata kota yang berpihak pada rakyat. Semata supaya Jogja tetap istimewa. Bukan hanya dalam nama, tetapi juga dalam cara ia merawat ruang hidup bersama.

Penulis: Arnufan Deni Marwanto

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Hidup Tenang Warga Ringinsari Sleman Kini Terusik Tol Jogja Solo yang Penuh Kesemrawutan

ADVERTISEMENT

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 22 Juli 2025 oleh

Tags: jalan tol jogjajalan tol jogja-soloJogjasultan groundtanah keraton
Arnufan Deni Marwanto

Arnufan Deni Marwanto

Mahasiswa yang punya nilai juang tinggi untuk menggapai cita-cita.

ArtikelTerkait

3 Kafe di Demangan Baru Jogja yang Nyaman buat Nugas

3 Kafe di Demangan Baru Jogja yang Nyaman buat Nugas

8 Juni 2023
Buat Mahasiswa Baru yang Keterima Kuliah di Jogja, Jangan Cari Kos di Jogja Dekat Kampus, Hidup Kalian Bakal Menderita!

Buat Mahasiswa Baru yang Keterima Kuliah di Jogja, Jangan Cari Kos Dekat Kampus, Hidup Kalian Bakal Menderita!

30 Mei 2025
UNY, Kampus Pendidikan yang (Tidak Selalu) Mendidik Mojok.co

UNY, Kampus Pendidikan yang (Tidak Selalu) Mendidik

4 April 2025
Sedikit Travel Guide bagi KPK yang Akan Berkunjung ke Jogja terminal mojok.co

Sedikit Travel Guide bagi KPK yang Akan Berkunjung ke Jogja

5 Desember 2020
3 Pertigaan Jogja Paling Ruwet yang Bikin Warga Lokal Ogah Melewatinya Mojok.co

3 Pertigaan Jogja Paling Ruwet yang Bikin Warga Lokal Ogah Melewatinya

5 Agustus 2025
Culture Shock Orang Jogja Saat Mendengar Bahasa Jawa Orang Gresik

Culture Shock Orang Jogja Saat Mendengar Bahasa Jawa Orang Gresik

3 Maret 2024
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026
Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa (Unsplash)

Stop denial, sound horeg adalah diskotik yang dipaksa masuk desa hanya demi memuaskan ego merusak milik segelintir orang

17 Agustus 2026
Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya Mojok.co

Jabatan korlas SD kini jadi momok bagi orang tua murid karena ada saja dramanya

19 Agustus 2026
30 menit ngopi di angkringan, puluhan info bawah tanah saya dapat (Shutterstock)

30 menit ngopi di angkringan, saya bisa mengakses puluhan informasi bawah tanah

23 Agustus 2026
Saya pernah mengira orang miskin itu kurang berusaha, dan saya salah besar

Saya pernah miskin, saya begitu benci dengan keadaan itu, dan tak pernah ingin jadi miskin lagi

23 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.