Di lubuk hati yang paling dalam, saya masih punya keyakinan kuat kalau emas itu instrumen investasi yang aman. Mungkin karena saya golongan orang lawas kali, ya. Jadi, pemahaman investasi saya hanya berputar pada emas dan properti. Apa itu saham blue chip, crypto-asset, atau robo-advisor? Nggak paham saya. Pokoknya, rasanya tuh lebih tenang berinvestasi pada barang yang wujudnya benar-benar bisa dipegang.
Itu sebabnya, kalau ada rejeki lebih, saya tempelkan ke emas. Emas gramasi kecil-kecil aja sebenarnya. Ya ada sih emas yang gede banget di rumah, berat, bahkan bisa dipeluk, siapa lagi kalau bukan Mas Bambang, alias suami saya sendiri. Hehehe…
Nah, berhubung anak-anak sudah mulai besar dan bayangan biaya kuliah mereka semakin membayangi, saya mulai berpikir untuk sitik-sitik investasi emas lagi. Maklum, sebagai WNI, saya nggak bisa menebak berapa biaya kuliah anak-anak nanti. Yang jelas, bayarnya pasti pakai duit, bukan pakai daun.
Meski investasi emas tampak aman dan menjanjikan, bukan berarti tidak ada dilema yang bikin orang-orang jadi maju mundur cantik mau beli logam mulia ini.
Harga emas panas, mau beli jadi dilema
Dalam setahun terakhir, harga emas terus merangkak naik. Awal April tahun lalu, LM merek Antam ada di angka 1,826 juta/gram. Sebulan kemudian, harganya jadi 1,932 juta/gram. Sempat turun 40 ribu di bulan Agustus tahun 2025, tapi setelah itu, harga per gramnya konsisten naik. Puncaknya, di Akhir Januari 2026. Harga 1 gram LM merek Antam nyaris tembus 3,2 juta/gram. Edan!
Karena harganya yang terus naik inilah, akhirnya muncul perasaan resah dan gelisah: beli…nggak…beli…nggak. Dilema banget pokoknya. Mau beli, harganya lagi tinggi. Nggak dibeli, takut harganya tambah tinggi lagi. Ditambah, ada pepatah yang bilang bahwa harga emas hari ini adalah harga yang akan kau rindukan esok hari.
Aduhhh… dilema.
BACA JUGA: Perbedaan Emas Antam dan UBS yang Perlu Dipahami sebelum Memulai Investasi
Antam gaib, merek lain bikin dilema
Misal sudah mantap mau beli pun, bukan berarti permasalahan kelar. Barangnya itu loh, gaib. Susah bener nyari Logam Mulia merek Antam. Padahal biasanya, emas merek ini tersedia di toko perhiasan ataupun Pegadaian. Sekarang? Zonk.
Sebetulnya, LM itu nggak cuma Antam. Ada merek lain seperti UBS, Galeri24, Hartadinata. Semar Gold, dll. Cuma, ya itu… sebagai wong lawas, kalau dengar “logam mulia”, yang langsung kebayang ya Antam. Sudah telanjur nempel di kepala. Merek lain rasanya masih butuh proses buat dipercaya. Istilahnya, wis kadung tresna, meski jebul nyakiti.
Kenapa menyakitkan? Karena setelah diperhatikan, beberapa waktu terakhir ini, spread alias selisih antara harga beli dan harga buyback Antam itu makin terasa lebar. Bisa tiga ratusan ribu per gram. Artinya, begitu kita beli hari ini, kalau dalam waktu dekat mau dijual, nilainya tergerus cukup dalam. Bandingkan dengan beberapa merek lain yang spread-nya relatif lebih tipis. Sehingga, secara hitungan mereka lebih aman kalau ada apa-apa di awal.
Nah, kan? Dilema lagi, kan? Mau beli Antam, tapi sekarang spreadnya gede banget dan barangnya susah didapat. Mau beli merek lain takut susah pas mau jual lagi. Hanya toko tempat kita bertransaksi saja yang mau beli. Hmm.
Cicil emas digital, menarik tapi bikin waswas
Bukan cuma keputusan untuk beli LM secara fisik saja yang bikin dilema. Beli LM secara digital pun nggak kalah bikin dilema.
Jadi begini. Di tengah kebutuhan investasi untuk masa depan, opsi cicil emas digital memang terlihat praktis dan menarik. Pembeli tidak perlu pusing memikirkan tempat penyimpanan di rumah, tidak perlu takut kemalingan, dan yang lebih asik lagi, bisa cicil dari gramasi nol koma sekian gram saja. Kecil banget, seharga puluhan ribu saja, cocok untuk yang masih bertarung dengan kebutuhan bulanan, tapi tetap pengen investasi.
Yang bikin dilema adalah, setelah saya baca-baca lagi, banyak yang curhat di medsos dan mengaku kesulitan ketika mau mengubah emas digital itu jadi bentuk fisik (cetak). Ada yang stok fisik di aplikasi tidak tersedia atau stok kosong, ada pula yang proses cetaknya lama banget, sampai harus menunggu berbulan-bulan lamanya. Lha, kalau butuhnya mendadak gimana? Nggak bisa diandalkan, dong?
Belum ancaman lain seperti sistem aplikasinya down atau hal teknis lain. Asli bikin waswas. Ini kira-kira nasib emas digitalku piye? Kan gitu. Maju mundur lagi, deh.
BACA JUGA: 6 Aplikasi Investasi Emas bagi Pemula, Mudah dan Aman!
Pada akhirnya…
Manusia itu akan selalu dihantui oleh perasaan bingung dan waswas dalam hidupnya. Termasuk, dalam hal investasi emas. Cuma ya, kalau bingung melulu, sampai Sungai Amazon mengering, nggak bakalan kebeli itu emasnya. Dahlah. Memang lebih baik kembali ke pola klasik: LM itu investasi jangka panjang, minimal 5 tahun. Beli saat ada uang dingin, nggak usah menunggu harga turun.
Ngomong-ngomong soal beli LM, itu yang kemarin-kemarin FOMO nyerok emas pas harga lagi tinggi-tingginya, karena takut bakal semakin tinggi, tapi ternyata malah terjun payung, apa kabar? Sudah keringkah air matamu?
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Pengalaman Investasi Dirham Antam: Belinya Iseng, Jualnya Puyeng
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















