Gini, sebelum kalian (terutama para orang tua) mulai narik napas buat ceramah, saya mau pasang disclaimer besar-besaran: saya belum jadi orang tua. Saya belum ngerasain gimana mumetnya ngurus cicilan sambil dengerin anak tantrum. Jadi, saya paham kalau argumen saya bakal dianggap “teori doang” atau “anak kemarin sore tau apa?”. Tapi, sebagai mahasiswa yang tiap hari dicekokin jurnal psikologi, saya ngeliat ada yang nggak beres sama kebanggaan kita soal “Didikan VOC”.
Itu lho, gaya asuh yang dikit-dikit ngebentak, main fisik, atau minimal kalau ngomong volumenya kayak lagi perang, yang tujuannya katanya demi bikin anak punya mental baja. Masalahnya, secara sains, yang terbentuk itu bukan mental baja, tapi mental yang lagi mode bertahan.
Kita harus jujur, zaman sudah ganti spek. Mendidik anak zaman sekarang pakai cara tahun 80-an itu ibarat maksa Windows 11 jalan di komputer tabung yang RAM-nya cuma seuprit. Pasti blue screen.
Secara neurologis, anak yang sering dikerasin itu amigdalanya (bagian otak yang ngurusin rasa takut) bakal jadi super reaktif. Bukannya jadi pinter, otak si anak malah capek karena harus terus-menerus nyalain radar bahaya. Mereka nggak belajar cara ambil keputusan, mereka cuma belajar cara “gimana biar nggak kena amuk hari ini”. Jadi didikan VOC tidak membentuk orang jadi pinter beneran, tapi cuma pinter menghindar dari sandal keras orang tuanya.
Hasil didikan VOC: penurut karena takut, bukan karena patut
Banyak orang tua bangga banget kalau anaknya diem dan penurut. Padahal, itu bukan tanda soleh atau solehah, tapi Emotional Shutdown. Anak milih diem karena mereka tahu, ngomong itu nggak aman. Ya itu semua karena didikan VOC yang kalian banggakan itu.
Komunikasi itu otot, harus dilatih lewat dialog. Kalau dari kecil ototnya nggak pernah dipake karena setiap mau ngomong langsung “dipangkas”, ya jangan kaget kalau pas gede mereka jadi gagap emosi. Mereka jago akting baik-baik saja di depan meja makan, tapi hancur sendirian di dalam kamar.
Cicilan psikiater: investasi yang nggak terencana
Inilah ironi paling horor. Banyak orang tua ngerasa sukses karena anaknya jadi “orang”—punya jabatan keren atau gaji gede. Tapi mereka nggak tahu, kalau sebagian gaji itu habis buat bayar sesi psikiater tiap bulan.
Kita-kita ini, produk didikan VOC, akhirnya harus keluar duit banyak buat re-parenting, alias mendidik ulang diri sendiri buat nyembuhin luka batin yang dulunya dianggap sebagai “didikan sukses”. Investasi orang tuanya di kedisiplinan keras, tapi biaya “perbaikan”-nya ditanggung sendiri sama si anak pas udah gede.
Sering kali, hubungan orang tua dan anak terjebak dalam kompetisi ‘siapa yang paling benar’. Orang tua menuntut anak harus mengerti sulitnya cari uang, sementara anak menuntut orang tua harus mengerti kesehatan mental. Padahal, hubungan ini bukan soal menang-menangan. Kita nggak bisa terus-menerus saling menuntut tanpa mau saling mengevaluasi diri.
Sebagai anak, saya belajar bahwa orang tua adalah manusia yang juga punya luka masa lalu. Tapi sebagai orang tua, mereka juga perlu sadar bahwa didikan VOC bukan satu-satunya jalan ninja. Evaluasi itu harus dua arah. Kalau cuma satu pihak yang berjuang memperbaiki diri sementara yang lain tetap merasa paling benar, ya jembatan komunikasinya nggak bakal pernah nyambung.
Hubungan yang sehat itu dibangun lewat diskusi, bukan lewat instruksi yang nggak boleh dibantah.
Anak tangguh nggak harus jadi kompeni
Nge-evaluasi cara didik itu bukan berarti durhaka atau ngatain orang tua gagal. Justru, keberanian buat bilang “Cara lama ini ternyata ngerusak” adalah bentuk kasih sayang paling tinggi. Karena pada akhirnya, kita semua pasti pengin punya anak yang kalau ada masalah, larinya pulang ke rumah, bukan malah lari sejauh mungkin buat nyari “rumah” di tempat lain.
Mencetak anak tangguh itu nggak harus jadi kompeni, kan?
Penulis: Najla Salsabila Muthi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Mindfulness Parenting Mengajari Saya untuk Tidak Menurunkan Trauma kepada Anak Masa Depan Saya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















