Dibanding Pemilihan Hokage Konoha, Penetapan Raja Bajak Laut di 'One Piece' yang Terbaik! – Terminal Mojok

Dibanding Pemilihan Hokage Konoha, Penetapan Raja Bajak Laut di ‘One Piece’ yang Terbaik!

Featured

Dari awal saya nonton Naruto, saya sudah menyangka bahwa dari cerita yang bersedih-sedih ria tersebut, juga akan membawa penontonnya nggak jauh-jauh dari jalan ceritanya. Sama-sama menyedihkan.

Coba, deh, lihat di sini ada dua tulisan yang memperdebatkan masalah pemilu di Konoha. Satu beralasan Naruto jadi hokage gara-gara nepotisme, yang satu membantah bahwa pemilihan hokage berdasarkan yang paling kuat. Sesama penggemar, kok, malah bertengkar. Padahal, loh, tujuan tersirat dari adanya Naruto itu untuk menyatukan beragam perbedaan agar nggak ada yang sering bertengkar lagi. Ini malah nambah pertengkaran. Kasihan Naruto yang udah capek-capek menyatukan.

Dengan ini saya semakin yakin bahwa One Piece adalah anime terbaik yang pernah ada. Salah satu indikatornya ialah tentang pemilihan raja bajak laut yang ada di sana. Pemilihannya jelas, bukan dengan nepotisme dan bukan yang paling kuat.

Kalau dengan nepotisme, mungkin kawan-kawan dekat Gol D Roger yang akan menggantikan posisinya sebagai orang yang pantas mendapatkan gelar raja. Begitu pun kalau pemilihan raja berdasarkan orang yang paling kuat, mungkin sekarang sudah ada nama sebagai raja bajak laut dari empat Yonko yang dari awal sudah overpower di One Piece.

Awalnya memang saya mengira bahwa orang yang bakal menyandang gelar bajak laut adalah yang paling kuat di lautan. Ini jelas masuk akal secara hukum rimba bahwa yang paling kuat akan menjadi puncak rantai makanan. Yang lemah, mending menyerah saja. Namun, sungguh di One Piece nggak seperti itu. Ada beragam variabel yang menjadi indikator seseorang mendapatkan gelar raja bajak laut.

Baca Juga:  Wawancara Eksklusif Terminal Mojok dengan Jose Mourinho: Menguak Alasan Pemecatan dan Masa Depan The One

Gol D Roger menyandang gelar raja, selain paling kuat, dia adalah yang pertama menaklukkan lautan. Selain itu, Roger juga punya sangat banyak pengetahuan tentang dunia yang didiaminya. Ia juga yang pertama datang ke Skypiea, pertama datang ke Pulau Manusia Ikan, dan sudah membaca semua Poneglyph yang tersebar di seluruh penjuru dunia untuk membaca rahasia yang disimpan oleh para pendahulunya.

Selain itu, Roger juga merupakan bajak laut pilih tanding yang amat ditakuti di lautan. Dalam fandom One Piece tertulis bahwa ia nggak bakal mundur satu langkah pun walaupun secara hitungan strategi perang, dia telah terpojok dan harus kalah. Sosok yang kuat sekaligus dengan mental baja sekaligus nggak mau menundukkan dirinya di depan siapa pun.

Dari tahun-tahun awal Roger berangkat berlayar, sepertinya nggak ada yang bisa menangkapnya hidup atau mati. Siapa yang mau menangkap harimau liar dan masih dalam usia produktifnya? Roger hanya bisa ditangkap jika ia menyerahkan dirinya sendiri dan saat ia memang bersedia. Betapa besar pengaruh kehendak pribadi Roger dalam menentukan hidupnya sekaligus seluruh awak kapalnya.

Dan, yang menjadikan Roger raja bajak laut, apalagi kalau bukan pengalamannya mengunjungi Laughtale dan menemukan One Piece? Barang yang dicari oleh seluruh orang di dunia, ia dapat dan temukan sendiri dengan seluruh awak kapalnya. Hingga akhirnya, seluruh orang sepakat menyebutnya sebagai raja bajak laut.

Baca Juga:  Alternatif Ending One Piece: Revolusi Harga Mati

Kualifikasinya bukan dari nepotisme dan hanya dari kekuatan, melainkan juga pengetahuan, pengalaman, jam terbang, kekuatan kehendak, wibawa, kebesaran diri yang tiada tanding. Kalau penggemar Naruto hanya ribet memilih hokage dari dua indikator: nepotisme dan kekuatan, itu sangat remeh dan nggak ada apa-apanya dengan kualifikasi seorang raja bajak laut di One Piece.

Apalagi nih, setelah Roger sudah menyerahkan diri dan bikin dunia jadi banyak yang memilih karier sebagai bajak laut. Ada orang-orang yang potensial untuk menggantikan Roger yang mendapatkan gelar raja. Ya, siapa lagi kalau bukan Luffy si manusia karet itu. Akan tetapi, ada yang sangat menarik di sini.

Walaupun sebelumnya Roger dijuluki raja bajak laut dengan kualifikasi yang amat tinggi nan sukar dicapai oleh orang-orang biasa, saat ada Luffy, pemilihan raja bajak laut mengalami dekonstruksi makna. Ia harus sesuai dengan orang-orang di zamannya, ia harus sesuai dengan zeitgeist yang sedang berlaku.

Pendefinisian ulang makna, sungguh merupakan metode pemilihan yang hanya bisa dicapai oleh masyarakat dengan tingkat kreativitas sundul langit. Raja harus sesuai dengan zaman dan waktu di mana ia tinggal. Kalau kualifikasi semacam Roger kembali digunakan, yang pasti zaman sudah berubah dan Roger hanya akan jadi raja bajak laut yang ketinggalan zaman.

Sebagai tokoh utama dalam serial One Piece, Luffy mendekonstruksi makna raja bajak laut dengan makna, “Raja bajak laut adalah orang yang paling bebas di lautan.” Kurang mantap bagaimana kalau kualifikasinya adalah orang yang paling bebas? Dan, seorang raja memang harus punya kualifikasi demikian.

Baca Juga:  Ngomongin Scanlation Nggak Hanya Sekadar Legal atau Tidak, Kenyataannya Jauh Lebih Rumit

Dengan keinginan untuk menjadi paling bebas, tentunya kita harus berpikir ulang. Bahwa kebebasan itu butuh harga yang sangat mahal. Kebebasan hanya bisa didapatkan oleh orang-orang yang memang sangat kuat hingga nggak ada lagi yang bisa mengaturnya. Kebebasan hanya bisa dimiliki oleh orang yang seluruh dunia membolehkan dan nggak mengganggu dia melakukan apa saja.

Contohlah di Luffy, dia bebas mau pergi ke mana, mau ngapain, mau gelut sama siapa, mau bantu siapa, dan apa saja, terserah-serah dia. Kualifikasi raja, adalah yang mampu berlaku semau-maunya dan terserah-serah dia. Walaupun dengan menyadari bahwa ia adalah orang tersebut harus memiliki seluruh kualifikasi yang dimiliki oleh Roger agar bisa bebas dari apa pun.

Dan dengan ini sudah sangat jelas bahwa pemilihan hokage di Konoha masih belum seujung kuku dan sebanding dengan kualitas pemilhan yang diselenggarakan di One Piece.

Sumber Gambar: YouTube D-Freezy

BACA JUGA Praktik Pemilihan Hokage Konoha Itu Bukan Nepotisme, tapi Sebatas Memilih Siapa yang Paling Kuat dan tulisan Firdaus Al Faqi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.