Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

Arsyindah Farhan oleh Arsyindah Farhan
18 Juni 2026
A A
Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Niat kata ingin membuka usaha rumahan, usaha kecil-kecilan, tapi malah mendapat drama dan terancam jadi korban penipuan. Bikin pusing saja.

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang pengalaman kurang menyenangkan saat tinggal di sebuah apartemen Jaktim. Tulisan tersebut berjudul “Tinggal di Apartemen Nggak Seindah Imajinasi Saya, 4 Tahun Sewa Apartemen Jaktim Bikin Saya Stres dan Akhirnya Pindah!” Silakan baca di sini.

Nah, selain menyewa unit apartemen untuk tempat tinggal, di sana saya juga sempat menyewa kios di lantai dasar gedung apartemen untuk membuka usaha rumahan berupa warung makan. 

Ketika Covid-19 berjalan hampir 2 tahun, sekitar 2021, saya mencoba peruntungan dengan menyewa kios untuk usaha rumahan berjualan makanan. Saya dan ibu, diajak 2 penghuni apartemen lain ikut berjualan di kios yang sama. Niat kamu supaya bisa membagi biaya sewa.

Saat itu, saya dan ibu saya, berjualan cuma selama 6 bulan. Saat itu, kami sekeluarga berencana pindah dari apartemen. Sambil menunggu masa sewa apartemen habis, serta sambil cari-cari hunian baru, kami memutuskan menyetujui ajakan tersebut. Selama menjalankan usaha rumahan ini, banyak pengalaman pahit terjadi.

BACA JUGA: 10 Ide Usaha Rumahan yang Menarik untuk Dicoba Buat Kamu yang Pengin Usaha dari Rumah tapi Tetap Menghasilkan

Terjebak di antara pertengkaran 2 rekan bisnis

Selain biaya sewa dibagi rata, ada beberapa kesepakatan antara saya dan ibu dengan 2 rekan kami. Bodohnya, poin-poin kesepakatan hanya secara lisan. Kami nggak membuatnya menjadi perjanjian tertulis dengan tanda tangan. Bahkan, dokumen bermaterai saja nggak ada.

Saya dan ibu patuh, 2 rekan kami banyak melanggarnya. Mulai dari menjual produk di luar kesepakatan, yang mana seharusnya ranah saya atau rekan yang lainnya. Sampai puncaknya, 2 rekan usaha rumahan saya dan ibu bertengkar dan berkonflik.

Baca Juga:

4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur

Bisnis Kecil Seperti Gorengan dan Es Teh Jumbo Dipandang Remeh Nggak Bakal Cuan, Padahal Berkat Jualan Gorengan Saya Bisa Kuliah

Sampai sekarang, saya masih kurang mengerti akar masalah perseteruan mereka. Tiba-tiba saja, mereka perang dingin. Katanya karena saling tersinggung. Padahal, keduanya sama-sama sering melanggar kesepakatan. Harusnya, yang marah saya dan ibu saya, karena kami yang paling rugi dari usaha rumahan bersama ini.

Rendahnya daya beli masyarakat di apartemen bikin usaha rumahan kami kurang laku

Untuk sewa selama 6 bulan, saya membayar Rp6.000.000. Total sewa kios selama 6 bulan, saya dan 2 rekan saya membayar seharga Rp18.000.000. Untuk satu tahun, berarti Rp36.000.000. Lalu ada biaya deposit Rp2.000.000. Jumlah tersebut lebih mahal dibanding harga sewa sebuah unit apartemen dengan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi.

Sebenarnya, sewa kios tersebut nggak boleh cuma 6 bulan. Kami harus menyewa satu tahun penuh. Tapi, kepada 2 rekan saya, saya sudah bilang di awal kalau hanya bisa 6 bulan karena mau pindah. Mereka setuju. Untuk sewa seterusnya, akhirnya cuma salah satu dari rekan saya aja yang mengambil alih.

Mahalnya harga sewa, terlebih ketika itu kondisi perekonomian sedang kurang bagus karena COVID-19, ternyata nggak sebanding dengan daya beli masyarakat apartemen. Bukan cuma sekali, dagangan saya nggak ada yang membeli. Akhirnya, saya dan ibu memutuskan untuk berganti-ganti menu jualan supaya usaha rumahan kami lebih laku.

Mengganti dan menambah menu menjadi cara mempertahankan usaha rumahan ini

Awalnya, saya dan ibu berjualan batagor. Lalu, kami menambah menu pempek dos dan mie instan. Karena jarang ada peminatnya, batagor akhirnya kami tiadakan. Setelah itu, kami mencoba menjual soto dan pecel.

Sayangnya, pecel juga sepi peminat. Mubazir, karena sering membuang bahan baku. Agar tetap bisa mendatangkan pembeli, akhirnya kami menambahkan nasi goreng, mi goreng, dan mie godok ala abang-abang gerobakan sebagai menu jualan.

Setiap ada kios makanan yang menjual menu baru, banyak yang berbondong-bondong mencoba. Apalagi, kalau ada embel-embel harga promonya. 

Tapi esoknya, ketika menu itu sudah bukan pertama kali dijual, bisa langsung sepi pembeli. Makanya, saya dan pemilik kios makanan lain sering berganti-ganti menu jualan demi bertahan. Demi bisa tetap mendatangkan pembeli ke usaha rumahan kami.

Menu baru selalu ditiru kios makanan lain

Ada satu hal yang agaknya menyesakkan bagi saya. Menu-menu jualan saya, selalu ditiru oleh kios lain. Bukan cuma satu, tapi hampir semua kios yang sederetan kios saya. Padahal sebelumnya, nggak ada yg menjual menu-menu itu sama sekali.

Nggak lama saya jualan suatu menu, kios lain juga ikut-ikutan karena dianggapnya bisa mendatangkan pembeli. Padahal, jika dikatakan menu baru saya laris manis, nggak juga. Bukannya nggak mau bersaing, tapi janggal.

Saat saya berjualan pempek, nggak lama beberapa kios lain juga berjualan pempek. Saya jualan pecel, lagi-lagi ada kios yang ikut menjualnya. Soto, nasi goreng, mie goreng, selalu ada saja kios yang ikut menjual menu tersebut nggak lama setelah saya mulai menjualnya.

Saya dan ibu pasrah. Toh, rezeki sudah ada yang mengatur. Tapi yang bikin sebal, awalnya menu jualan kami dihina. Katanya nasi goreng akan lebih laku dijual gerobakan dibandingkan di kios apartemen. 

Ada lagi pemilik kios yang curhat kepada ibu saya. Bahwa dia kesal menu jualannya ditiru kios lain. Ironis karena dia juga meniru beberapa menu jualan di usaha rumahan kami.

BACA JUGA: 6 Rekomendasi Bisnis Rumahan yang Bisa Jadi Income Utama: Dikira Skalanya Kecil, tapi Malah Bisa Memberi Keuntungan Besar

Pembeli penipu

Beberapa pembeli sudah terkenal suka menipu. Modusnya memesan makanan, makan di tempat, lalu beralasan nanti akan dibayar oleh kenalannya yang merupakan penghuni apartemen. Atau, beralasan ambil uang dulu di unit apartemennya. Bahkan, ada yang mendekati untuk pinjam uang. Untungnya, saya selamat dari segala bentuk penipuan.

Selain merugi, pengalaman membuka usaha rumahan ini terasa penuh drama. Tapi, pasti ada hikmah di balik semuanya. 

Di satu sisi, pengalaman itu bikin saya masih berat hati kembali menyewa kios untuk berjualan. Apalagi, kalau rekan bisnis. Di sisi lain, saya masih ingin membuka kios makanan lagi. Malah jadi pusing sendiri.

Penulis: Arsyindah Farhan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2026 oleh

Tags: apartemenfinansialide jualanide usahakios apartemensewa apartemenusaha rumahanwarung makan
Arsyindah Farhan

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.

ArtikelTerkait

Misteri Deretan Kalender sebagai Garansi Kelezatan Warung Makan

Misteri Deretan Kalender sebagai Garansi Kelezatan Warung Makan

10 Mei 2023
5 Rekomendasi Tempat Makan Porsi Kuli di Sekitaran UIN Walisongo dan PGSD UNNES

5 Rekomendasi Tempat Makan Porsi Kuli di Sekitaran Kampus UIN Walisongo dan PGSD UNNES

5 Juli 2023
Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo

Membandingkan Warteg dengan Warung Makan di Kota Solo

28 Juli 2023
Merdeka Secara Finansial Bukan Jaminan Merdeka Sebagai Individual

Merdeka Secara Finansial Bukan Jaminan Merdeka Sebagai Individual

29 Desember 2019
4 Rekomendasi Warung Makan di Sekitaran Kampus IAIN Kediri yang Jadi Langganan Mahasiswa

4 Rekomendasi Warung Makan di Sekitaran Kampus IAIN Kediri yang Jadi Langganan Mahasiswa

9 September 2023
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita?

2 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Krisis Identitas Kawasaki Brusky 125: Mencoba Terjun di Pasar Matic, tapi Blunder. Jiplaknya Kebangetan!

Krisis Identitas Kawasaki Brusky 125: Mencoba Terjun di Pasar Matic, tapi Blunder. Jiplaknya Kebangetan!

13 Juni 2026
6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal Mojok.co

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

18 Juni 2026
Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat Mojok.co

Terminal Cileungsi Bogor Merekam Nasib Angkot Rute Pendek yang Makin Sekarat

17 Juni 2026
Derita Punya Usaha Rumahan di Apartemen Kelas Menengah (Unsplash)

Pengalaman Pahit Buka Usaha Rumahan Kios Makanan di Apartemen Kelas Menengah Jaktim, Mulai dari Rekan Bisnis Berkonflik sampai Menu Jualan Selalu Ditiru Pesaing

18 Juni 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street suzuki burgman

Vario Street Harus Diakui Lebih Jelek ketimbang Suzuki Burgman, Jika Bisa Beli Salah Satunya, Mending Beli Suzuki Burgman Saja  

14 Juni 2026
Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.