Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur

Noor Annisa Falachul Firdausi oleh Noor Annisa Falachul Firdausi
2 Mei 2026
A A
4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur Mojok.co

4 Kelemahan Tinggal di Apartemen yang Nggak Tertera dalam Brosur (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dari berbagai bentuk hunian, bisa kita bilang bahwa apartemen selalu dibayangkan sebagai hunian yang paling mewah sekaligus praktis. Apartemen ibarat tempat tinggal di gedung tinggi yang dilengkapi dengan segala fasilitas yang luks. Memang ada pula apartemen yang dirancang untuk bersaing di pasar dengan harga yang lebih murah, tapi bayangan kita akan tempat tinggal satu ini masih saja tentang kemewahan, kan?

Apartemen belakangan ini juga jadi pilihan orang-orang yang tinggal dan bekerja di kota besar. Kedua fenomena ini nggak cuma terjadi di Indonesia saja, melainkan juga di negara lain, salah duanya yang saya ketahui adalah Korea Selatan dan Turki.

Tahun 2022 lalu, artikel serupa pernah ditulis dengan judul 4 Kekurangan Tinggal di Apartemen yang Perlu Dipertimbangkan. Nah, empat tahun setelahnya, saya mau menambahkan beberapa kekurangan tinggal di apartemen yang nggak akan kita temukan di brosur.

#1 Tinggal di apartemen bikin ketergantungan pada segala hal

Menurut pengakuan banyak penghuni, tinggal di apartemen akan membuat kita super-mandiri karena kita berada di lingkungan yang individualis. Kebanyakan penghuni nggak kenal dengan tetangganya sendiri, bahkan yang berada di lantai yang sama.

Akan tetapi, jangan dikira tinggal di apartemen bisa benar-benar membuat kita mandiri. Iya, “mandiri” dalam hal hubungan dan interaksi sosial. Padahal yang sebenarnya terjadi, penghuni itu ketergantungan pada segala hal. Mereka over-dependence pada sistem.

Di apartemen, air dan listrik itu sudah termasuk dalam fasilitas bulanan. Bayangkan kalau air dan listrik itu mati, bahkan beberapa jam saja. Pasti suasana di dalamnya sudah chaos. Kalau tinggal di rumah, mungkin kita masih bisa numpang di rumah tetangga untuk mandi atau menyalakan lilin.

Akan tetapi, di apartemen, mana bisa ketok-ketok pintu tetangga dan numpang mandi. Semua penghuni akan merasakan kekacauan yang sama. Apalagi kalau listrik mati, otomatis lift juga ikut nggak berfungsi. Langsung bingung kan penghuni yang menempati lantai atas.

#2 Tinggal di apartemen justru nggak bebas sama sekali

Memilih tinggal di apartemen artinya siap menaati semua peraturan, sebesar dan sekecil apapun itu, dari awal hingga akhir masa tinggal. Mulai dari jam tamu, aturan parkir, sampai larangan dari A sampai Z, semuanya pasti bisa kita temukan di apartemen.

Baca Juga:

Tinggal di Apartemen Nggak Seindah Imajinasi Saya, 4 Tahun Sewa Apartemen Jaktim Bikin Saya Stres dan Akhirnya Pindah!

4 Keunggulan Tinggal di Rumah Kontrakan yang Jarang Dibicarakan Banyak Orang

Memang, peraturan tersebut dibentuk untuk menciptakan kenyamanan antara setiap penghuni. Tapi, buat orang yang berjiwa bebas, tinggal di apartemen malah terasa seperti mengekang. Aturan sekecil apapun bisa dengan mudah bikin stres.

Ya, ibaratnya tinggal di apartemen itu kayak hidup di dalam daftar peraturan yang nggak kita buat lah.

#3 Sepi sekaligus hampa jadi teman sehari-hari

Interaksi sosial di apartemen memang cenderung individualis dengan para penghuninya mengurus urusan masing-masing. Kalau nggak kepepet banget, hampir nggak ada gotong royong atau saling membantu antarpenghuni di sana. Buat para introvert atau yang baterai sosialnya lemah, tinggal di hunian macam ini bisa menjadi pilihan terbaik karena nggak perlu berinteraksi dengan orang lain.

Akan tetap, kalau kita lihat dari perspektif yang lebih luas, sebenarnya sepinya apartemen itu bukan sekadar sepi. Di sana, hampir nggak ada suara kehidupan dari aktivitas organik.

Bayangin deh, kalau tinggal di kampung kita masih bisa mendengar suara masyarakat saling berinteraksi, mulai dari ibu-ibu ngobrol sambil beli sayur, bapak-bapak kerja bakti di Minggu pagi, sampai anak-anak yang heboh jajan cilok sepulang sekolah. Tanpa kita sadari, suara-suara ini yang membuat hidup kita berwarna.

Sebaliknya, di apartemen semua suara itu “dikontrol”. Kebisingan itu dilarang di hampir semua apartemen dengan alasan kenyamanan. Introvert mentok pun kadang masih butuh suara dan interaksi nggak sih? Tapi, di apartemen, kehampaan ini membuat kehidupan jadi nggak hidup lagi.

#4 Makin tinggi lantai, makin jauh penghuninya dari bumi

Tinggal di apartemen artinya tinggal di gedung berlantai tinggi dengan keterbatasan ruang. Seluas-luasnya hunian ini, tetap kalah dengan rumah di desa sekalipun, khususnya dalam hal hubungan dengan alam.

Di artikel terdahulu sudah dibahas keterbatasan ruang di apartemen seperti soal susahnya mengadakan acara besar, memelihara hewan peliharaan, dan mencuci kendaraan. Ada hal lain nih yang belum disebut dari segi alam.

Di apartemen, nggak ada tanah dan halaman yang bisa membuat kita terkoneksi dengan alam. Coba bayangkan kalau kita tinggal di lantai 10, misalnya. Letak tempat tinggal kita saja sudah jauh dari pucuk tertinggi pohon. Kita mungkin nggak akan pernah mendengar lagi cuitan burung di pagi hari, apalagi dengar ayam jantan berkokok.

Selain itu, nggak adanya halaman membuat kita nggak bisa leluasa menjemur pakaian. Alhasil, ketergantungan dengan mesin pengering atau laundry. Kita juga nggak bisa menanam tanaman secara bebas maupun memegang rumput, sebagaimana yang dikatakan netizen, “Touch some grass!”.

Tinggal di apartemen memang tampak mewah dan berkelas. Namun, banyak juga sisi kekurangannya yang harus dipikirkan ulang, terutama jika kamu adalah seseorang yang bebas, nggak suka dikekang aturan, dan suka ruang yang luas.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Rumah Dekat Taman Sari Jogja Itu Menderita, Jadi Tontonan Turis hingga Sering Mengalah demi Pariwisata.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2026 oleh

Tags: apartemenhunianTempat TinggalTinggal di Apartemen
Noor Annisa Falachul Firdausi

Noor Annisa Falachul Firdausi

Alumnus UGM asal Yogyakarta yang lagi belajar S2 Sosiologi di Turki

ArtikelTerkait

4 Hal yang Bikin Saya Betah Tinggal di Jogja mantan

4 Hal yang Bikin Saya Betah Tinggal di Jogja

9 Juli 2022
Privilese Jadi Anak Ketua RT yang Tidak Dirasakan Warga Biasa

Privilese Jadi Anak Ketua RT yang Tidak Dirasakan Warga Biasa

22 April 2024
Bondowoso Tidak Semaju Jember, tapi Lebih Nyaman untuk Ditinggali Mojok.co

Bondowoso Tidak Semaju Jember, tapi Lebih Nyaman untuk Ditinggali

11 Desember 2024
Kebayoran Lama Adalah Bukti Nyata Nggak Semua Wilayah Jaksel Elite

Kebayoran Lama Adalah Bukti Nyata Nggak Semua Wilayah Jaksel Elite

1 Februari 2024
Bukan Purwodadi, Tempat Tinggal Terbaik di Grobogan Adalah Kecamatan Wirosari

Bukan Purwodadi, Tempat Tinggal Terbaik di Grobogan Adalah Kecamatan Wirosari

13 Februari 2024
3 Sisi Menyebalkan Ibu-ibu Tetangga Saat Bertamu ke Rumah Mojok.co

3 Sisi Menyebalkan Ibu-ibu Tetangga Saat Bertamu ke Rumah

30 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nggak Usah Ngadi-ngadi. Lembaga Pengawas di Drakor Teach You a Lesson Tidak Mungkin Bisa Ada di Indonesia

Nggak Usah Ngadi-ngadi. Lembaga Pengawas di Drakor Teach You a Lesson Tidak Mungkin Bisa Ada di Indonesia

11 Juni 2026
5 Rahasia yang Perlu Diketahui sebelum Membuka Warung Madura, Eksklusif dari Juragannya Langsung usaha warung

Punya Usaha Warung di Desa Harus Siap dengan Risiko Banyak Orang Ngutang yang Entah Kapan Dibayarnya

9 Juni 2026
4 Hal yang Bakal Saya Rindukan setelah Lulus dari UM Malang kkn

UM BBM: Program KKN ala UM Malang yang Punya Banyak Celah dan Penuh Masalah!

7 Juni 2026
Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya "Pajak" yang Tidak Dibenci Warga

Jangan Hapus Tradisi Jimpitan, Ini Satu-satunya Pajak yang Tidak Dibenci Rakyat

5 Juni 2026
Blora Bukan Tempat Tinggal yang Tepat untuk 4 Orang Ini

Mampukah Blora Bangkit dari Julukan Pelosok dan Daerah Tersepi?

10 Juni 2026
Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja Mojok.co

Bekas Pasar Burung dan Hal-hal Lain yang Jarang Dibicarakan Soal Pasar Ngasem, Tempat Sarapan Paling Kalcer di Jogja

7 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.