Di kampung saya, menjadi satu-satunya alumnus pesantren itu bukan sekadar status. Itu semacam jabatan tidak resmi yang datang tanpa pelantikan, tanpa gaji, tapi dengan ekspektasi yang luar biasa.
Ini saya rasakan sekitar beberapa tahun yang lalu, ketika saya lulus dari pesantren. Begitu orang tahu saya pernah mesantren, ada perubahan cara pandang yang cukup signifikan. Tiba-tiba saya bukan lagi sekadar “anak kampung yang pulang”, tapi semacam paket lengkap/ dikira saya pandai agama, bisa memimpin, bisa menjawab pertanyaan hidup, bahkan, kalau perlu, bisa mengatasi hal-hal di luar nalar.
Dan anehnya, semua itu ekspektasi itu dianggap wajar.
Hal-hal yang saya pelajari di pesantren dan bisa diterapkan di kehidupan sehari-hari
Saya masih bisa menjadi imam salat, memimpin tahlilan, mengisi pengajian, bahkan khutbah Jumat. Sebab, hal-hal itu memang dipelajari di pesantren. Saya punya ilmunya. Jadi ketika diminta melakukan itu, saya masih merasa punya pegangan. Meskipun tidak sempurna, setidaknya tidak sepenuhnya nekat. Ya walau praktiknya deg-degan juga sih.
Persoalannya, orang-orang di kampung pasang ekspektasi lebih. Tiba-tiba, status alumni pesantren seperti membuka akses ke semua urusan. Dari yang masih masuk akal, sampai yang entah bagaimana saya dianggap sebagai orang serbabisa.
Pernah suatu ketika ada orang pingsan. Bukannya dipanggilkan orang medis atau dibawa ke tempat yang lebih masuk akal, saya justru dipanggil. “Coba didoakan,” begitu kata mereka.
Saya sempat bingung. Ini saya harus mulai dari mana? Saya bukan ahli medis, bukan juga punya kemampuan khusus yang bisa membuat orang langsung sadar.
Tapi karena situasinya mendesak dan semua mata sudah melihat ke arah saya, akhirnya saya melakukan satu hal yang paling realistis: percikkan air ke muka orang pingsan tadi.
Entah karena airnya, atau karena memang sudah waktunya sadar, orang itu akhirnya bangun. Dan entah kenapa, itu malah memperkuat keyakinan bahwa saya “bisa”.
Doa untuk segala urusan, termasuk yang saya sendiri belum punya
Ada juga yang datang ke saya, lulusan pesantren, dengan harapan yang lebih personal. “Mas, doakan usaha saya biar lancar,” kata seorang warga yang mau buka usaha.
Saya mengangguk. Padahal, waktu itu saya sendiri belum punya pekerjaan tetap. Urusan ekonomi saya juga masih jauh dari kata mapan alias morat-marit. Tapi entah kenapa, itu tidak jadi masalah bagi yang minta.
Seolah-olah kemampuan mendoakan tidak perlu berkorelasi dengan kondisi yang didoakan. Biar kelihatan keren, saya pun memberikan wirid kepada orang itu agar diamalkan. Apa wiridnya? Saya juga sudah lupa karena memang cuma ngasal.
Lebih menarik lagi ketika ada yang datang dengan urusan jodoh. “Mas, saya minta amalan biar cepat dapat jodoh,” katanya.
Saya lagi-lagi mengangguk, sambil diam-diam menyadari bahwa saya sendiri masih berjuang di bab yang sama. Rasanya seperti diminta menunjukkan jalan, padahal saya sendiri masih mencari peta.
Akhirnya, sekali lagi, biar kelihatan keren, saya kasih amalan yang saya sendiri juga sudah lupa apa amalan itu. Ngasal juga. Anehnya, beberapa saat kemudian, orang itu datang kepada saya untuk memberikan undangan pernikahan dan dia bilang, “Terima kasih, Mas. Amalan yang dikasihkan itu memang manjur.”
Ketika semua masalah dianggap bisa diselesaikan dengan Doa
Puncaknya mungkin ketika ada bayi yang terus menangis dan tidak kunjung tenang. Alih-alih mencari tahu penyebabnya, lapar, sakit, atau hal lain yang lebih logis—saya kembali dipanggil.
“Coba didoakan, Mas.” Di titik itu, saya mulai benar-benar merasa bahwa status alumni pesantren ini sudah berkembang terlalu jauh. Dari yang awalnya soal ibadah, jadi semacam solusi umum untuk semua hal.
Padahal, jujur saja, saya juga tidak tahu harus melakukan apa.Akhirnya, ya kembali ke cara paling aman: berdoa sebisanya. Bukan karena yakin itu solusi utama, tapi karena itu satu-satunya hal yang diharapkan dari saya.
Beruntunglah selama ini tidak ada warga yang kesurupan. Kalau soal ini, saya sendiri takut menghadapinya.
Lulusan pesantren, antara kepercayaan dan kesalahpahaman
Saya tidak sedang menyalahkan siapa-siapa. Mungkin ini soal kepercayaan. Masyarakat melihat lulusan pesantren sebagai orang yang dekat dengan agama, dan dari situ muncul harapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan “yang tidak terlihat” bisa ditangani.
Masalahnya, tidak semua hal masuk ke wilayah itu. Dan, tidak semua alumni pesantren punya kemampuan seperti yang dibayangkan.
Kami belajar agama, iya memang. Tapi bukan berarti otomatis jadi serbabisa. Apalagi sampai jadi solusi untuk semua masalah, dari yang spiritual sampai yang seharusnya ditangani dengan cara yang lebih masuk akal.
Di satu sisi, ada hal-hal yang memang bisa saya lakukan, dan itu saya jalani dengan sebaik mungkin. Di sisi lain, ada ekspektasi yang terlalu tinggi, yang kadang membuat saya sendiri bingung harus berperan sebagai apa. Akan tetapi, mungkin memang begitu. Di kampung, label sering kali lebih kuat daripada penjelasan.
Penulis: Supriyadi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















