Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Derita Fresh Graduate Sastra Indonesia: Kenapa Lowongan Kerja Seolah Cuma Cari Anak IT?

Nilla Putri Anggraini oleh Nilla Putri Anggraini
17 September 2025
A A
Sastra Indonesia UNY, Jurusan yang Aslinya Biasa Saja, tapi Dikemas Luar Biasa oleh Kampus Mojok.co

Sastra Indonesia UNY, Jurusan yang Aslinya Biasa Saja, tapi Dikemas Luar Biasa oleh Kampus (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jadi fresh graduate Sastra Indonesia itu rasanya kayak nyemplung ke kolam renang… tapi yang lain udah bawa pelampung canggih, sementara aku cuma bawa ban bekas. Buka Jobstreet, Glints, atau LinkedIn, isinya lebih mirip brosur kursus coding: software engineer, data analyst, front-end developer, UI/UX designer. Rasanya dunia kerja lagi bikin pesta, tapi yang diundang cuma anak IT.

Padahal aku ini lulusan Sastra Indonesia. Laptop kubuka bukan buat ngoding, tapi buat nulis puisi rindu. Background-ku jelas bukan Python atau Java, melainkan PUEBI dan Sapardi. Ironisnya, semakin rajin aku apply, semakin sadar kalau lowongan kerja buat jurusan kayakku itu mirip gerhana-langka, cepat hilang, dan kalau pun ada, persaingannya bisa bikin nangis di pojokan.

ADVERTISEMENT

Dunia Lowongan: IT Everywhere

Ya, wajar sih kalau industri sekarang lebih doyan anak IT. Startup, e-commerce, fintech – semuanya berlomba cari coder andal. Tapi aku sering kepikiran: kalau semua perusahaan sibuk rekrut anak IT, siapa nanti yang bikin caption Instagram mereka? Masa tagline skincare harus pakai algoritma machine learning

Di titik ini, jadi fresh graduate Sastra Indonesia (dan sastra lainnya) berasa kayak minoritas. Lowongan buat content writer, editor, atau jurnalis ada sih, tapi sedikit banget dibanding banjir lowongan IT. Kadang lowongannya juga ngeselin: tulisannya “fresh graduate welcome,” tapi syaratnya “pengalaman minimal 2 tahun.” Lah, fresh graduate dari alam mana?

Pengalaman apply yang ngenes

Aku udah apply ke belasan, bahkan puluhan lowongan: penerbitan, media, sampai startup kecil. Hasilnya? Rata-rata berhenti di tahap “terima kasih sudah melamar, kami akan segera menghubungi Anda”, dan itu sudah berbulan-bulan jadi ghosting HR paling abadi.

Kadang aku mikir, mungkin HR liat CV-ku, baca “Sastra Indonesia”, terus langsung berhalusinasi: “Oh, ini pasti anaknya jago bikin puisi galau, bukan bikin laporan.” Atau yang lebih parah, mereka kira aku cuma cocok jadi guru les bahasa. Padahal, skill analisis teks, riset budaya, sampai bikin artikel – itu semua nyata adanya. Cuma, ya… kayaknya mereka lebih percaya sama Python ketimbang PUEBI.

Sastra Indonesia (dan sastra lainnya) juga punya nilai

Sekarang semuanya serba digital. Tapi bukan berarti anak Sastra jadi nggak relevan. Justru di tengah banjir data, orang butuh narasi. Orang butuh cerita. Orang butuh konten yang nyambung ke hati, bukan cuma angka di dashboard.

Anak IT mungkin bikin aplikasi canggih, tapi siapa yang bikin kata-kata promosi biar pengguna tertarik? Anak IT bisa desain interface kece, tapi siapa yang nulis microcopy biar tombolnya nggak terdengar kayak notifikasi BPJS? Nah, di titik itu anak Sastra harusnya tetap punya ruang. Masalahnya, ruang itu sering disingkirkan ke pojokan, kayak aku di pesta kawinan mantan, hmm.

Baca Juga:

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

Kenapa Mahasiswa Jurusan Sastra Justru Jarang Jadi Penulis?

Kadang aku membayangkan dunia kerja masa depan: HRD buka rekrutmen “Dicari Back-end Developer, wajib bisa bikin cerpen minimal 3 halaman.” Atau “Lowongan Content Writer, harus bisa ngoding Python.” Kalau sampai kejadian, mungkin aku harus kursus IT sambil tetap setor puisi ke redaksi (yang entah kapan dilirik).

Jujur aja, banyak lulusan Sastra akhirnya banting setir: jadi admin, customer service, sampai marketing produk. Ya nggak salah sih. Hidup butuh makan, bukan sekadar diksi. Tapi keresahan tetap ada: kenapa kontribusi ilmu humaniora sering diremehkan, padahal penting banget?

Akhirnya, jadi fresh graduate Sastra Indonesia di era “Codingland” ini memang harus tahan banting. Dunia kerja tampak penuh algoritma, tapi bukan berarti pintu buat kita beneran ketutup. Kita masih bisa menulis, mengedit, bikin konten, atau malah bikin ruang kreatif sendiri.

Lulusan IT mungkin sibuk menata barisan kode. Tapi jangan lupa: dunia tetap butuh kata-kata. Dan di situlah kami, anak-anak Sastra, masih berdiri-meski kadang cuma berdiri di pojok ruangan pesta, sambil nunggu ada yang ngajak ngobrol.

Penulis: Nilla Putri Anggraini
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Derita Mahasiswa yang Masuk Jurusan Sastra Indonesia sebagai Pilihan Kedua, Selalu Dipandang Sebelah Mata

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 September 2025 oleh

Tags: jurusan ITlowongan kerja jurusan ITlowongan kerja sastra indonesiaprospek jurusan ITprospek jurusan sastra indonesiaSastra Indonesia
Nilla Putri Anggraini

Nilla Putri Anggraini

Nilla Putri Anggraini, lulusan Sastra Indonesia dengan minat mendalam pada sastra, budaya, jurnalistik, dan dunia kerja kreatif.

ArtikelTerkait

Jangan Ambil Jurusan Teknik Informatika Hanya karena Mahir Komputer dan Jago Game Mojok.co

Jangan Ambil Jurusan Teknik Informatika Hanya karena Mahir Komputer dan Jago Game

6 September 2025
Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam PPG Calon Guru

Jurusan PBSI Memang Jurusan yang Nanggung: Mau Jadi Guru Masih Harus PPG, Sastranya Juga Nggak Terlalu Dalam

8 Juni 2025
warung kopi

Ke Warung Kopi: Pamitnya Ngopi, Tapi Pesannya Teh Jumbo

28 Mei 2019
Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas Terminal

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

8 Mei 2026
Sastra Indonesia UNY, Jurusan yang Aslinya Biasa Saja, tapi Dikemas Luar Biasa oleh Kampus Mojok.co

Sastra Indonesia UNY, Jurusan yang Aslinya Biasa Saja, tapi Dikemas Luar Biasa oleh Kampus

8 Juni 2025
Jurusan IT Prospeknya Memang Luas, tapi Nggak Berguna kalau Kau Malas

Jurusan IT Prospeknya Memang Luas, tapi Nggak Berguna kalau Kau Malas

8 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Hidup di Desa Itu Murah, yang Mahal Adalah Ongkos Sosialnya, dan Ini Rinciannya

21 Juni 2026
Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan Mojok.co

Tentrem Mall Semarang, Mal Mewah yang Tetap Ramah untuk Semua Kalangan 

25 Juni 2026
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan jakarta

Jangan Salahkan Orang Jakarta kalau Harga Makanan di Jogja Tak Ramah Warlok: Sebuah Pembelaan untuk Kaum Plat B

26 Juni 2026
4 Coffee Shop yang Jadi Pusat Skena Perkopian di Klaten, Wajib Kalian Coba!

Coffee Shop Skena di Klaten Part 2: Pemain Baru, tapi Kualitas Kopinya Boleh Diadu

26 Juni 2026
Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan Mojok.co

Membayangkan Betapa Menderita Jadi Warga Perumahan yang Lingkungannya Dijadikan Pasar Kaget Tiap Pekan

26 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.