Mau kamu fans PSS Sleman atau PSIM Yogyakarta, ingat, setelah Derby UMR Rendah berakhir, kita kembali ke realitas pahit yang sama
Saya ini anomali. Warga Sleman, tapi mendukung PSIM Yogyakarta. Dalam logika rivalitas sepak bola, saya seharusnya sudah dicap murtad sejak lama. Minimal dianggap keblinger karena tidak manut garis geografis. Tapi ya begitulah sepak bola, kadang hati tidak tunduk pada batas administrasi. Dan musim depan, hati saya sedang senang-senangnya.
PSIM Yogyakarta akhirnya memastikan bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Di saat yang hampir bersamaan, PSS Sleman memastikan diri naik kasta dan menyusul ke Super League musim depan. Artinya akan ada satu provinsi, dua tim, satu liga, dan satu potensi kekacauan emosional bernama derby.
PSIM Yogyakarta vs PSS Sleman, Derby UMR rendah
Jogja akhirnya punya derby lagi. Derby yang bukan cuma soal sepak bola, tapi juga perkara identitas, harga diri wilayah, sampai urusan siapa yang paling pantas mengaku representasi “Jogja” yang sebenarnya. Saya sudah bisa membayangkan suasananya.
Biru dan hijau akan saling sindir sejak jauh hari. Timeline X penuh meme receh. Warung kopi mendadak jadi ruang taktik ala Guardiola. Teman saya tiba-tiba jadi analis sepak bola dadakan. Dan tentu saja, status WhatsApp saya akan mulai panas hanya karena ada orang yang iseng bikin status skor akhir. Namun di balik semua itu, ada satu istilah yang menurut saya sangat Jogja sekali, Derby UMR Rendah.
Julukan ini lucu, tapi juga menampar. Lucu karena memang khas netizen Indonesia yang selalu bisa mengubah penderitaan jadi bahan bercanda. Menampar karena ya… benar juga. Mau PSS menang atau PSIM menang, besok paginya banyak suporternya tetap harus bangun pagi buat kerja dengan gaji yang belum tentu cukup membeli hidup layak di kota yang katanya istimewa ini.
Itulah kenapa saya merasa Derby UMR Rendah ini justru menarik karena sangat membumi. Ini bukan derby kaum sultan. Ini bukan pertarungan klub dengan miliaran rupiah dan fans yang hidup nyaman. Ini derby orang-orang yang masih menghitung ongkos bensin sebelum berangkat ke stadion. Derby suporter yang kadang harus memilih antara beli tiket atau beli beras lima kilo. Derby pekerja kreatif yang rela makan mi instan tiga hari demi bisa nonton bola.
Dan justru karena itulah, rivalitasnya terasa manusiawi.
Rivalitas sehat kota Jogja
Kita sering melihat sepak bola Indonesia terlalu sibuk menjual kebencian. Seolah rivalitas harus selalu identik dengan kerusuhan, dendam, atau saling hancur. Padahal sepak bola paling sehat justru lahir dari kemampuan saling mengejek tanpa kehilangan akal sehat. Saya ingin Derby UMR Rendah ini tumbuh seperti itu.
Biarkan PSS membawa identitas Sleman yang selama ini dikenal lebih mapan secara infrastruktur sepak bola. Stadion bagus, basis massa besar, kultur tribun yang kuat. Di sisi lain, PSIM membawa romantisme klub tua yang keras kepala bertahan hidup meski berkali-kali ditinggal zaman. Dua karakter berbeda. Sleman dengan energi suporternya yang meledak-ledak. Jogja kota dengan sejarah panjang dan rasa nostalgia yang tidak pernah benar-benar mati.
Dan menariknya, dua wilayah ini sebenarnya sama-sama sedang menghadapi masalah yang lebih besar daripada sepak bola yakni biaya hidup yang makin tidak masuk akal.
Adu gengsi dan adu nasib hidup
Jogja hari ini aneh. Kota ini menjual mimpi tentang kenyamanan hidup, kopi murah, dan suasana santai. Tapi di balik baliho pariwisata dan konten TikTok “healing di Jogja”, banyak warganya justru sedang megap-megap bertahan hidup. Harga kontrakan naik, harga makanan naik, harga tanah apalagi. Tapi upah? Ya begitu-begitu saja.
Maka ketika istilah Derby UMR Rendah muncul, saya tidak melihatnya sebagai romantisasi kemiskinan. Ini bukan glorifikasi penderitaan ala “yang penting bahagia”. Bukan juga lelucon receh tanpa makna. Itu kritik sosial yang dibungkus humor. Karena realitasnya memang pahit.
Sepak bola di Jogja punya gairah luar biasa, tetapi banyak suporternya hidup dalam tekanan ekonomi yang sama besarnya. Bayangkan saja. Untuk nonton satu pertandingan, seorang buruh atau pegawai muda mungkin harus mengeluarkan uang tiket, bensin, parkir, rokok, kopi, makan, belum kalau pulangnya nongkrong dulu. Sekali pertandingan bisa menghabiskan seperempat isi dompet mingguan.
Makanya jangan heran kalau banyak suporter Indonesia sebenarnya tidak miskin loyalitas, mereka cuma miskin daya beli. Dan di titik itu, saya merasa PSS dan PSIM sebenarnya punya nasib yang mirip.
Mereka sama-sama menjadi tempat pelarian emosional masyarakat yang hidup di kota dengan ekspektasi tinggi tapi upah rendah. Stadion jadi ruang pelampiasan. Nyanyian tribun jadi terapi kolektif. Selama 90 menit, orang-orang bisa lupa kalau besok Senin harus kembali menghadapi atasan menyebalkan dan saldo rekening yang menyusut perlahan. Mungkin karena itu saya senang melihat dua tim ini akhirnya berada di level yang sama. Bukan untuk saling menghancurkan, tapi untuk saling menghidupkan atmosfer sepak bola Jogja.
Karena kalau dipikir-pikir, derby ini seharusnya bukan tentang siapa paling kaya, paling besar, atau paling berkuasa. Wong sama-sama pusing cicilan juga.
Dan mungkin, justru di sanalah letak keistimewaannya. Sleman dan Jogja kota boleh saling ejek di tribun. Boleh saling klaim siapa yang paling layak menang. Tapi ketika peluit panjang selesai, sebagian besar suporternya akan pulang ke realitas yang sama dengan harga hidup di Jogja makin mahal sementara pendapatan masih terasa seperti angka formalitas.
Ini bukan sekadar tulisan bola. Derby UMR Rendah akhirnya bukan cuma cerita sepak bola. Ia adalah potret tentang masyarakat yang tetap bernyanyi meski hidupnya tidak benar-benar baik-baik saja.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA PSIM Jogja: Aku Yakin dengan Kamu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















