Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

3 Culture Shock yang Saya Rasakan Saat Beralih Kerja Remote dari Kerja Kantoran, Nyatanya Nggak Seindah Konten TikTok

Achmad Fauzan Syaikhoni oleh Achmad Fauzan Syaikhoni
8 Oktober 2025
A A
3 Culture Shock yang Saya Rasakan Saat Beralih Kerja Remote dari Kerja Kantoran, Nyatanya Nggak Seindah Konten TikTok

3 Culture Shock yang Saya Rasakan Saat Beralih Kerja Remote dari Kerja Kantoran, Nyatanya Nggak Seindah Konten TikTok (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Terhitung sudah delapan bulan ini saya menjalani pekerjaan secara remote, setelah sebelumnya kerja kantoran. Dulu awal-awal saya senang sekali karena nggak lagi macet-macetan di jalan, juga nggak lagi boros uang buat hal-hal yang nggak terduga. Ya siapa sih yang nggak senang bisa kerja remote?

Tapi sayang, kawan-kawan. Begitu kerja 2-3 bulan, saya mulai merasakan culture shock. Saya kira kerja remote itu nggak begitu stres. Ya kayak konten-konten di TikTok lah yang biasanya menggambarkan kalau kerja remote itu nyantai, fleksibel, lebih tenang, dan lebih fokus apalagi buat introvert.

Sialnya nggak seindah itu. Memang konten-konten TikTok nggak sepenuhnya keliru. Saya sendiri juga kelewat bego melihat realitas dari satu sisi saja. Makanya biar kalian yang mau kerja remote nggak sampai kaget kayak saya, sini saya kasih tahu 3 culture shock yang saya rasakan.

Supervisi yang minim, tapi diam-diam membahayakan

Dulu, waktu saya kerja kantoran, setiap hari selalu merasa dalam mode diawasi. Takut kalau ketahuan bengong atau scrolling medsos. Terus, ritme komunikasi juga pasti selalu intens sama rekan kerja. Entah itu terkait pekerjaan yang sedang dikerjakan, akan dikerjakan, atau sudah dikerjakan.

Nah, kalau kerja remote nggak begitu. Kerja sambil scrolling atau rebahan sebentar, aman. Komunikasi juga seperlunya karena ritme atau waktu kerja tiap karyawan berbeda-beda. Terkesan menyenangkan sekali, bukan?

Awalnya saya merasa begitu. Tapi lama-kelamaan saya malah jadi stres sendiri. Kerjaan saya sering tertunda, bahkan nggak sesuai sama standar perusahaan. Dan ujung-ujungnya, di akhir minggu atau bulan, saya kena semprot atasan karena kinerja saya dinilai lemah.

Itulah yang bikin saya culture shock. Kerja dengan supervisi yang minim nyatanya nggak semudah itu. Kita benar-benar harus mampu berkomunikasi secara efektif. Kita harus peka sama risiko dari setiap proses kerjaan dan harus pintar self management. Hal ini dilakukan agar kerja remote bisa santai tapi tetap capai target.

Sulit memisahkan kehidupan pribadi dan kerja

Ini masih nyambung sama sebelumnya. Jadi awalnya saya mengira kerja remote yang fleksibel secara waktu itu enak. Bisa kerja sambil bersih-bersih rumah, mengerjakan laporan sambil sedikit-sedikit rebahan, dll. Mungkin kalian juga menganggap kerja fleksibel demikian, ya?

Baca Juga:

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

4 Alasan Work From Mall Tidak Cocok bagi Banyak Orang, Lebih Baik Work From Home

Akan tetapi sejak kena semprot atasan karena kerjaan saya sering ketunda dan hasilnya di luar standar tadi, saya mulai merasa kacau. Kerja dari pagi sampai malam sering saya lakukan, apalagi kalau ada revisi. Saya jadi lembur setiap hari. Bahkan saya sampai microsleep di depan laptop. Sedih.

Tak sampai di situ, puncaknya ketika kerjaan saya nggak bisa kelar di hari itu juga padahal tubuh saya sudah kelewat lelah. Mau tak mau saya harus tidur. Tapi sialnya, tidur saya jadi nggak berkualitas. Saya sering kebangun dan nggak bisa tidur 8 jam. Efeknya, tubuh saya terasa capek terus, kerja pun kurang sat-set.

Dari situ saya sadar kalau kerja remote yang disebut-sebut fleksibel itu nyatanya nggak seindah bayangan. Perlu manajemen diri yang kuat dan batas yang jelas antara kapan harus kerja dan beristirahat. Karena kalau nggak gitu ya kayak yang saya alami. Hidup seperti zombie.

Lingkungan kerja remote yang kurang mendukung

Kerja remote lebih nyaman dan bikin tambah fokus buat introvert itu benar, asalkan lingkungan kerja sekitar mendukung. Tapi kalau nggak mendukung, yang terjadi justru sebaliknya. Persis kayak yang saya rasakan di awal mulai kerja.

Kebetulan saya tinggal di desa. Kanan dan kiri rumah saya padat tetangga, plus banyak yang pensiunan. Jadi sehari-hari ya mereka gabut. Karena gabut ini tiap pagi sampai menjelang siang ada saja kegiatan mereka. Kalau kegiatannya nggak bising dan mengganggu kenyamanan orang lain sih nggak masalah, ya.

Celakanya, tetangga kanan kiri saya kalau gabut bikin rame. Ada yang karaokean, ada yang nyetel musik dangdutan. Nggaplekinya lagi, dua kegiatan itu pakai sound horeg. Bayangin gimana stresnya saya kerja remote dikelilingi tetangga yang hobi sound horeg.

Nggak cuma tetangga, keluarga sendiri pun sama aja. Jadi karena keluarga sudah tahu kalau saya kerja remote dan cenderung fleksibel, mereka pikir saya mudah diganggu. Kadang disuruh nganter ke mana lah. Kadang disuruh bantuin ngapain lah. Pokoknya ada saja. Dan itu jelas mengganggu konsentrasi kerja saya.

Yah, untungnya, ketiga culture shock tadi sudah berhasil saya atasi. Perlahan saya mulai bisa beradaptasi hingga akhirnya tetap kerja remote sampai sekarang. Kalau mau tipsnya kapan-kapan saja saya tulis. Sekarang yang paling penting jangan percaya kalau kerja remote itu full senyum. Semua ada plus minusnya, kok. Sawang sinawang kalau kata pepatah Jawa…

Penulis: Achmad Fauzan Syaikhoni
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Derita Lulusan Magister yang Kerjanya Full dari Rumah: Sudah Waktunya Mengajak Orang Tua Melek Soal Ragam Jenis Pekerjaan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2025 oleh

Tags: bekerjaKerja Kantorankerja remotepekerja remotepekerjaan remoteRemote Workerremote workingwork from home
Achmad Fauzan Syaikhoni

Achmad Fauzan Syaikhoni

Pemuda setengah matang asal Mojokerto, yang selalu ekstase ingin menulis ketika insomnia. Pemerhati isu kemahasiswaan, lokalitas, dan hal-hal yang berbau cacat logika.

ArtikelTerkait

Sekarang Remote Worker Tak Dicurigai Lagi Punya Pesugihan Terminal mojok

Sekarang Remote Worker Nggak Takut Lagi Dicurigai Punya Pesugihan

9 Februari 2021
Kenapa Lanjut S-2 Selalu Dikaitkan tentang Kerja? Salahkah, kalau Memang untuk Menuntut Ilmu? terminal mojok.co

Kenapa Lanjut S-2 Selalu Dikaitkan tentang Kerja? Salahkah, kalau Memang untuk Menuntut Ilmu?

17 Mei 2021
wirausaha

Antara Berwirausaha dan Bekerja Setelah Wisuda

27 Mei 2019
Kerja Kantoran di Gedung-gedung ala SCBD Itu Overrated, Banyak Repotnya Mojok.co

Kerja Kantoran di Gedung-gedung ala SCBD Itu Overrated, Banyak Repotnya

19 Desember 2023
Sistem Kerja Remote, Bakal Bikin PNS Setara Freelancer

Sistem Kerja Remote, Bakal Bikin PNS Setara Freelancer

23 Desember 2019
Alasan Anak Muda Wonosobo Lebih Memilih Merantau daripada Menetap di Daerahnya  Mojok.co

Alasan Anak Muda Wonosobo Lebih Memilih Merantau daripada Menetap di Daerahnya 

3 Oktober 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

Bayu Skak dan Film Ngapak Banyumas: Mengangkat Martabat atau Mengulang Stereotipe Buruk?

26 Januari 2026
Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

Tinggal di Rumah Dekat Gunung Itu Tak Semenyenangkan Narasi Orang Kota, Harus Siap Berhadapan dengan Ular, Monyet, dan Hewan Liar Lainnya

31 Januari 2026
Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

Sudah Saatnya Soreang Punya Mal supaya Nggak Bergantung sama Mal di Kota Bandung

30 Januari 2026
Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

Toyota Raize: Kerap Diejek LCGC Dikasih Turbo, padahal Mobil Ini Kuat, Bertenaga, dan yang Paling Penting, Irit!

26 Januari 2026
4 Alasan Freezer Nugget Lebih Membingungkan daripada Kulkas Minuman di Indomaret

4 Alasan Freezer Nugget Lebih Membingungkan daripada Kulkas Minuman di Indomaret

26 Januari 2026
3 Kuliner Probolinggo yang Direkomendasikan, Wisatawan Wajib Tahu

3 Kuliner Probolinggo yang Direkomendasikan, Wisatawan Wajib Tahu

28 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah
  • Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS
  • Sasar Sekolah, Ratusan Pelajar di Bantul Digembleng Kesiagaan Hadapi Gempa Besar

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.