Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Civil Society Watch dan Mimpi Ade Armando Jadi Polisi Moral Hanya Cepu dalam Demokrasi

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
8 Juni 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Sebelumnya, dengan sadar saya menulis ini. Termasuk sadar bahwa saya terancam mendapat ujaran seperti “dasar kampret”, “dasar oposisi”, dan “KTP mana boss”. Tapi ada kalanya keengganan untuk bersitegang dengan fanboy pemerintahan menjadi perlu. Kenapa perlu?

Ya karena otak-otak ra mashok yang seperti halu kecubung itu! Ya Tuhan apakah bisa sedikit saja umatmu ini diberi akal sehat?

Dan sesuai judul, saya menunjuk Pak Ade Armando. Siapa blio? Yah tidak berbeda dengan bapak-bapak biasa. Bekerja sebagai dosen, masih kecanduan media sosial, dan bertendensi melawan kontra pemerintahan dengan berbusa-busa. Ya, kalau saya biang pemujaan pada kesosokan, sih, kok kurang sopan. Apalagi menyebut cebong. Tapi monggo amati sendiri. Gini-gini saya sungkan mau frontal ke Pak Ade ini.

Yang saya permasalahkan adalah twit beliau tertanggal 6 Juni 2021 jam 6.01 pagi. Ketika masyarakat banyak yang masih meliuk meregang otot di kasur, Pak Ade ini mengirimkan twit beserta foto: fotonya sih biasa, sekumpulan bapak ibu berbaju putih yang berpose layaknya reuni. Yang warbiyasah adalah tulisan dalam twit tersebut.

“Kami adalah Civil Society Watch. Kami berdiri untuk mrmbantu menjaga agar kelompok2 LSM, NGO, media massa, ormas tetap menjadi kekuatan yg sehat dalam Demokrasi.”

https://twitter.com/adearmando1/status/1401313165900587008?s=19

Mohon dengan sangat agar mengabaikan cara menulis Pak Ade. Terutama untuk redaktur Mojok yang sensitif pada tata cara penulisan. Tapi mari bersama-sama kita pahami apa yang dicuitkan Pak Ade ini. Dan meresapi mimpi besar blio yang pastinya demi kemajuan bangsa. Kemajuan bangsa menurut konsep Pak Ade pastinya.

Mimpi Pak Ade sangat jelas. Menjadi “polisi moral” yang mengawasi berbagai lapisan masyarakat. Tentu yang diawasi adalah opini dan penyampaian pendapat. Kalau prokes kan sudah ada satgas. Dan kesemuanya demi kekuatan yang sehat dalam demokrasi. Nah, kekuatan sehat macam apa ini?

Baca Juga:

3 Hal yang Bisa Ditangisi Bu Mega selain Badan Kurus Presiden Jokowi

Review Mars Partai Politik dari Orang yang Kurang Percaya Partai

Mungkin Anda berpikir, “Pasti yang dimaksud adalah suara oposisi”. Yah bisa saja itu. Namun, kita tidak perlu berasumsi dengan nuansa konspiratif. Lantaran nyatanya, wacana Pak Ade ini sudah ra mashok sejak awal. Boleh lah disebut nggatheli, tapi saya pekewuh dengan Pak Ade ini.

Ketika ada kekuatan sipil melakukan pengawasan opini, ya ini adalah duri dalam daging. Apa pun agendanya, jelas-jelas upaya surveillance yang bertendensi pada satu kelompok itu berbahaya. Dan Pak Ade berniat memulai upaya pengawasan yang sifatnya cepu banget.

Padahal, jelas-jelas kebebasan berpendapat dilindungi undang-undang. Bahkan pendapat yang sekiranya melanggar hukum sudah punya instrumen kendali sendiri. Lha kan sudah ada aparat keamanan. Lha ini tiba-tiba ada sekumpulan rakyat yang merasa perlu mengambil bagian dalam pengawasan opini.

Kemungkinan paling biasa wae sih, akan ada agen-agen yang merongrong kebebasan berpendapat. Setiap opini yang kontra dengan opini pemerintah bisa disikat habis. Entah dilaporkan atau paling nggatheli ya di-doxing. Apalagi terlihat gerak blio-blio ini kan di media sosial. Jangan lupa, ini sudah paling biasa lho.

Kemungkinan paling buruk ya lahirnya polisi moral di tengah masyarakat. Munculnya polisi virtual saja sudah bikin polemik. Lha ini malah ada hansip virtual. Apalagi ketika hansip ini hadir tanpa sikap netral pada urusan politik. Sudah pasti yang terjadi adalah surveillance yang berbahaya terhadap kebebasan berpendapat ini.

Padahal, kekuatan demokrasi jelas muncul ketika ada dua opini berseberangan. Tesis dan antitesis. Tanpa keduanya, mana ada sintesis yang bisa mengakomodir kedua opini semaksimal mungkin. Jika antitesis wacana pemerintah dibredel rakyatnya sendiri, maka apa yang terjadi? Silahkan tanya pada Pak Harmoko eks Menteri Penerangan. Itu lho menteri yang khas dengan, “Menurut instruksi dari bapak presiden.”

Lha agenda Pak Ade ini apa? Bagaimana kami tidak curiga pada agenda Bapak ketika tendensi bapak yang cerewet pada suara oposan ditunjukkan gamblang? Ya kalau Bapak dirujak di Twitter ya maklum, toh. Lalu apakah Bapak akan menggunakan kekuatan Civil Society Watch untuk melawan rujakan ini?

Saya pun mencoba husnuzan. Agenda Pak Ade dengan Civil Society Watch ini murni sebagai bentuk cinta negara yang mendarah daging. Tapi kalau kecintaan ini diluapkan melalui agenda surviellance yang mencederai demokrasi, ya mbok tulunglah. Bukankah kapasitas Bapak sebagai dosen komunikasi bisa memahami lahirnya suara pro kontra dalam masyarakat?

Apakah Pak Ade ini belum percaya pada kapasitas pemerintah? Padahal pemerintah sudah mati-matian mengupayakan pengawasan pada masyarakat. Dari mengawasi belahan dada di tayangan TV sampai CCTV di setiap perempatan jalan. Opo tumon Bapak mau ikut-ikutan mengawasi sampai bernuansa cepu seperti ini?

Daripada sibuk menjadi cepu masyarakat, coba Pak Ade menghidupkan cokro TV melalui program Logika AA. Tentu dengan netral ya, Pak. Salah ya bilang salah, dan vice versa. Kalaupun ingin lebih, Bapak mengupayakan Cokro TV jadi channel YouTube yang menyiarkan kartun-kartun lawas yang kami rindukan. Jelas ini menjaga demokrasi karena suara KPI yang embuh itu Bapak imbangi.

BACA JUGA Polisi Virtual, Pisau Mata Ganda bagi Pemerintah dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2021 oleh

Tags: Ade ArmandoCivil Society WatchPojok Tubir TerminalPolisi Moral
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Tolong, Jangan Suuzan sama Mahasiswa yang Ngerjain Skripsi di Coffee Shop

1 Juni 2021
Pejuang Kita Tidak Minta Izin Belanda Waktu Bikin Mural

Pejuang Kita Tidak Minta Izin Belanda Waktu Bikin Mural

16 Agustus 2021
Keadilan Sosial bagi Member Holywings yang Dapat Vaksin terminal mojok.co

Keadilan Sosial bagi Member Holywings yang Dapat Vaksin

1 Juli 2021
Langkah Konkret Membatasi Peredaran Buku Bajakan, Bukan Tentang Tere Liye terminal mojok

Langkah Konkret Membatasi Peredaran Buku Bajakan, Bukan Tentang Tere Liye

31 Mei 2021
Dosen Pelaku Pelecehan Seksual Disanksi Skorsing Sekaligus Izin Belajar Lanjut Doktoral, Ini Sanksi Apa Hadiah MOJOK.CO

Pelecehan Seksual Tak Pernah Bisa Dibenarkan, kecuali Kamu Idiot dan Bebal

11 Juni 2021
Dea Anugrah dan Betapa Melawan Influencer Itu Nggak Ada Gunanya terminal mojok

Dea Anugrah dan Betapa Melawan Influencer Itu Nggak Ada Gunanya

4 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Jalan Kertek Wonosobo, Jadi Pusat Ekonomi tapi Bikin Sengsara (Unsplash)

Jalur Tengkorak Kertek Wonosobo Mematikan, tapi Pemerintah, Warga, hingga Ahli Klenik Saja Bingung Cari Solusinya

24 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup Mojok.co

7 Destinasi Wisata Bantul yang Nggak Spesial dan Cukup Dikunjungi Sekali Seumur Hidup

24 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.