Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan?

Moh Rivaldi Abdul oleh Moh Rivaldi Abdul
16 Februari 2020
A A
Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan?
Share on FacebookShare on Twitter

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan tugas pengabdian para mahasiswa–makhluk yang katanya agen perubahan–kepada masyarakat. Nama KKN sendiri sebenarnya tidak konsisten, sebab beda perguruan tinggi akan beda penyebutannya. Ada yang menyebutnya Kuliah Kerja Sementara (KKS), Praktek Pengalaman Lapangan (PPL), dan lainnya. Namun, yang lebih umum dikenal adalah KKN, apalagi sejak ada cerita KKN Desa Penari orang-orang jadi semakin mengenal tugas pengabdian mahasiswa ini dengan sebutan KKN. Kok jadi horor, ya.

Sebelum turun KKN, para mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan dari pihak kampus. Pembekalan tentang tujuan, kegiatan, dan hasil dari KKN nantinya. Pengalaman saya sewaktu ikut pembekalan KKN, ada sangat banyak wejangan hebat yang disampaikan untuk mahasiswa. Salah satu wejangannya, “Mengabdilah sepenuh hati dan buatlah perubahan di desa yang kalian datangi.” Namun, itu semua hanya bacot, bacot yang luar binasa, eh, maksudnya luar biasa.

Para mahasiswa mendapat wejangan untuk mengabdi sepenuh hati, tapi di sisi lain motivasi mahasiswa mengabdi adalah agar tidak mendapat nilai KKN yang rendah. Bukankah itu dua hal yang bertentangan?

Mengabdi sepenuh hati untuk memberi perubahan lebih baik pada masyarakat, sungguh niat yang mulia. Kata-kata Sang Guru dalam “Manuskrip yang Ditemukan di Acra” karya Paulo Coelho bahwa bekerja adalah perwujudan cinta yang menyatukan umat manusia. Merupakan ungkapan yang sangat cocok untuk menggambarkan KKN sebagai tugas akhir pengabdian masyarakat oleh para mahasiswa.

KKN merupakan totalitas pengabdian mahasiswa–sang agen perubahan–kepada masyarakat. Mahasiswa bekerja bukan untuk sekadar kepentingan diri sendiri, tapi untuk mendapatkan nilai “A” dari Kepala Desa. Eh keliru, kok ya terlalu jujur. Anggaplah mahasiswa bekerja untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di desa yang akan didatangi, biar lebih kelihatan mahasiswa itu agen perubahan.

Sang agen perubahan bebas membayangkan berbagai program hebat yang akan dilakukan di desa. Sang agen perubahan bisa turun ke desa dengan berjuta gagasan hebat. Gagasan yang bisa jadi hanya akan mengotori lembaran-lembaran kertas putih tak berdosa. Sebab berbagai program terukir indah di atas kertas putih, tapi tak berhasil dijalankan. Karena sang agen perubahan sibuk dengan kegiatan asmara di posko KKN dan asmara di desa.

Selain itu, satu hal yang sangat saya tidak setuju adalah ketika kesuksesan KKN hanya dinilai dari sebesar apa lomba yang diselenggarakan mahasiswa di desa. Seakan tak peduli sebagus apa pun programnya–penghijauan desa, pemberantasan buta huruf, rumah baca anak-anak, bimbingan usaha mikro. Namun, jika tidak menyelenggarakan lomba desa, KKN kok dianggap tidak sukses?

Saya termasuk mahasiswa yang sewaktu KKN tak terlalu tertarik pada kegiatan lomba desa. Dana lomba 5-10 juta, sebenarnya bisa untuk membuatkan ruang baca anak-anak serta taman pengajian anak-anak, lengkap dengan buku dan Alquran-nya. Namun, dana itu habis hanya untuk lomba saja. Dan program lain yang sebenarnya lebih penting tepaksa tak dijalankan, karena mahasiswa sudah terlanjur lelah dan dana sudah terpakai habis di lomba desa.

Baca Juga:

5 Hal yang Bikin Saya Kaget Waktu KKN di Madiun

KKN di Bulan Agustus Itu Anugerah Sekaligus Musibah: Gara-gara Proposal Agustusan, Akhir KKN Serasa di Neraka

Jauh-jauh turun KKN di desa pedalaman, hanya untuk menyelenggarakan lomba desa yang sebenarnya bisa diselenggarakan oleh orang-orang di desa, buat apa coba? Padahal kehadiran mahasiswa yang katanya si agen perubahan bisa lebih bermakna daripada hanya sekadar menjadi agen perlombaan.

Nonsense rasanya, ketika selesai KKN para mahasiswa hanya bisa menceritakan program berupa lomba desa. Apalagi mahasiswa yang hanya bisa menceritakan hubungan asmara di desa, itu bukan hanya nonsense tapi lebih dari bullshit. Mahasiswa agen perubahan bukan agen perlombaan apalagi agen percintaan, Coy.

Namun, kendalanya adalah banyak masyarakat di desa yang menganggap bahwa jika ada mahasiswa KKN, pasti akan ada lomba di desa. Entah sejak kapan cara pandang ini terbangun?

Mahasiswa harus bisa mengarahkan cara pandang masyarakat agar kehadiran mahasiswa di desa bisa lebih diefektifkan pada program-program KKN yang sebenarnya, tak hanya menghabiskan tenaga untuk penyelenggaraan lomba desa.

Tapi, kendalanya juga mahasiswa sangat suka dengan program lomba desa. Soalnya program lomba desa yang meriah akan nampak keren, dan termasuk program yang lebih mudah dilaksanakan daripada harus melaksanakan program ruang baca anak-anak, bimbingan usaha mikro, dan program lainnya yang cenderung sulit untuk dilaksanakan.

Selain itu mahasiswa yang dianggap sebagai agen perubahan, yang katanya masyarakat intelektual, yang belajar di perguruan tinggi, kok ya mudah sekali dibodoh-bodohi di desa?

Ada teman saya yang menceritakan bahwa katanya mereka melakukan program pemlesteran (pengecoran) dinding kantor desa. Haduh, buat apa coba? Itu urusan desa bukan mahasiswa KKN, dananya juga sudah ada di desa. Kalau programnya perbaikan sekolah swasta yang hampir roboh, ya bagus. Kalau perbaikan kantor desa, suruh pikirinlah sama desanya pakai dana mereka yang satu miliar.

Lebih parah lagi mahasiswi, kok ya mudah sekali ditipu pemuda di desa. Diajak jalan terpaksa mau, sebab kalau tak mau diancam tak akan dibantu programnya. Kalau jalan-jalan di kota ya ke warkop, kalau jalan-jalan di desa ya ke gelap-gelapan. Astagfirullah langsung muncul prasangka buruk.

Haduh, untuk mahasiswi KKN jangan mau diajak gitu, termasuk juga jangan mau dirayuin teman seposko. Turun KKN untuk masa depan, bukan merusak masa depan. Kalau pemuda di desa tak ingin bantu program KKN, mahasiswa jangan merasa bersalah. Lagian desanya bukan desa kamu, jadi kalau pemudanya tak mau bantuin program yang rugi mereka bukan kamu. Jangan ngorbanin diri deh, mahasiswa itu agen perubahan bukan hewan korban.

Mahasiswa harusnya punya kesadaran bahwa dia itu agen perubahan bukan agen perlombaan, apalagi hanya sebagai agen percintaan atau hewan korban. Sehingga KKN bisa dipandang sebagai kesempatan untuk mengabdi pada masyarakat dengan berjuta ide menarik dari mahasiswa. Tak hanya sekadar diharapkan buat lomba desa saja atau malah jadi hewan korban dibodoh-bodohi sama aparat dan pemuda desa. Kamu mahasiswa loh, perlihatkan di mana “maha” kamu itu.

BACA JUGA Persamaan Pengalaman KKN Saya dengan KKN di Desa Penari atau tulisan Moh Rivaldi Abdul lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Februari 2020 oleh

Tags: KKNlomba desaPendidikanprogram KKN
Moh Rivaldi Abdul

Moh Rivaldi Abdul

Alumni S1 PAI IAIN Sultan Amai Gorontalo.

ArtikelTerkait

Galis, Kecamatan Paling Miris di Bangkalan Madura, Korban Ketimpangan Pendidikan

Galis, Kecamatan Paling Miris di Bangkalan Madura, Korban Ketimpangan Pendidikan

24 Oktober 2024
Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan

Pengalaman Bertahan Hidup Selama KKN dengan Iuran Rp300 Ribu: Proker Bisa Tetap Jalan meski Dompet Pas-pasan

25 Agustus 2025
pascasarjana

Apa Iya, Pendidikan Pascasarjana Itu Pelarian Saja?

28 Agustus 2019
Acara Trans7 yang Makin Mirip Budaya KKN (Unsplash)

Acara Trans7 Yang Makin Mirip Budaya KKN

14 Februari 2023
Katanya Sekolah Itu Mencerdaskan Manusia, tapi kok Cuma Mau Menerima Murid yang Pintar?

Katanya Sekolah Itu Mencerdaskan Manusia, tapi kok Cuma Mau Menerima Murid yang Pintar?

4 November 2023
kkn di desa

Kenapa KKN di Desa Akan Selalu Lebih Berkesan Dibandingkan KKN di Kota

9 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri Mojok.co

Sengaja Beli Honda Vario 160 untuk Pamer Berakhir Penyesalan karena Jadi Repot Sendiri

22 Maret 2026
7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated (Unsplash)

7 Menu Toko Roti GO Purwokerto Paling Underrated: Kombinasi Rasa yang Memanjakan Lidah dan Semua Cocok Jadi Buah Tangan

21 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.