Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Catatan Tentang Seni Untuk Tidak Pergi ke Manapun

Erwin Setia oleh Erwin Setia
12 Mei 2019
A A
seni untuk tidak pergi ke manapun

seni untuk tidak pergi ke manapun

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam salah satu episode serial SpongeBob Squarepants, Patrick Star pernah berujar tentang ‘seni tidak melakukan apapun. Suatu ungkapan nyentrik yang uniknya muncul dari mulut bintang laut. Masih soal seni nyeleneh, Mark Manson, seorang penulis pengembangan diri, narablog, dan pengusaha Amerika, yang menulis buku The Subtle Art of Not Giving a F*ck atau yang telah diterjemahkan menjadi Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat.

Pada banyak tulisan mengenai travelling atau perjalanan, telah jamak penulis yang mencatatkan perihal perjalanan dan pengalaman mereka pergi ke berbagai tempat. Ada yang menulis soal lika-liku kehidupan di perbatasan Indonesia-Malaysia, keindahan alam Raja Ampat, pasar loak terbesar Eropa di Belanda, dan seterusnya. Untuk kali ini, izinkan saya membagikan tentang pengalaman saya tidak pergi ke mana-mana. Supaya terdengar lebih menarik, bolehlah kita sebut sebagai “seni untuk tidak pergi ke manapun”. Sebab saya meyakini bahwa sebuah nilai atau hikmah bisa didapat bukan hanya ketika kita pergi ke tempat tertentu, tapi juga ketika tidak beranjak ke mana-mana.

24 Jam di Kamar Kos

Saya mahasiswa tingkat awal yang tinggal berdua bersama seorang teman di sebuah kamar kos berukuran 4×3 meter. Di dalam kamar yang relatif tak terlampau luas ini saya mengerjakan apa saja: membaca, menulis, makan, mengobrol, tidur, mimpi indah, mimpi buruk, dan kadang-kadang berkontemplasi terutama pada waktu malam ketika lampu dimatikan dan teman saya sudah tidur.

Saya suka merenungi banyak hal, meski kamar saya bukan gua Hira maupun pohon Bodhi. Mulai dari hal-hal sepele semisal mengapa laba-laba begitu cepat membuat sarang di pojok dinding sampai hal-hal berat seperti pertanyaan-pertanyaan kenapa hubungan antara sepasang perempuan dan lelaki bisa begitu rumit?, bagaimana keadaan saya jika mati kelak?, kenapa tingkat literasi negeri tercinta begitu rendah dan warganya gampang sekali termakan hoaks?, dan lain-lain.

Pada suatu hari ketika angka di kalender berwarna merah saya memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana. Teman-teman saya ke tempat wisata, mal-mal, restoran-restoran mahal, kopdar; sedangkan saya memilih untuk berdiam di kamar kos saja. Saya sedang ingin pergi mengunjungi diri saya sendiri (biar kelihatan mirip filsuf).

Sesungguhnya saya tidak sedang bercanda dan main-main belaka. Ini serius. Hari itu saya khususkan untuk mendekam di dalam kamar. Saya berusaha memburu faedah dengan cara tidak pergi ke mana-mana. Saya hanya keluar kamar untuk membuang sampah dan membeli makanan—bukan hal yang cukup layak untuk disebut ‘pergi’. Orang-orang yang hobi berpelesir kerap bilang bahwa perjalanan membikin pikiran jadi terbuka, bisa lebih menerima perbedaan, memperluas wawasan, mengasah kepekaan sosial, dan lain sebagainya. Saya kira saya juga bisa memperoleh kemanfaatan serupa itu dengan ‘seni untuk tidak pergi ke manapun’.

Saya duduk merenung di kamar kos dan pikiran saya melebar seperti parasut. Saya sibuk membaca dan menulis, sedangkan teman satu kos saya sibuk menonton anime dan bermain gim; itu membuat dada saya lapang menerima perbedaan. Saya membaca buku, artikel di internet, keadaan sekitar, raut wajah teman saya yang kadang ceria kadang murung; sontak wawasan saya meluas, setidaknya tentang hal-hal yang berada di dekat saya. Saya memperhatikan sudut-sudut kamar yang kotor dan berantakan, lalu bergegas membersihkan dan merapikannya; saya juga mendapati teman saya tidak makan sedari pagi, lalu saya keluar membelikannya makanan; seketika kepekaan sosial saya meningkat. Saya melihat sekelompok semut beriringan membawa serpihan bakwan, saya belajar tentang kerja sama. Saya menyaksikan seekor lalat berusaha lepas dari lubang angin yang berjaring, saya belajar tentang kerja keras. Dan masih banyak lagi.

Baca Juga:

Nasib Sarjana Musik di Situbondo: Jadi Tukang Sayur, Bukan Beethoven

Urban Legend FBSB UNY yang Bikin Bulu Kuduk Merinding

Saya mendapatkan banyak hal tanpa saya pergi ke mana pun. Saya tidak mengelanai negara-negara Asia Tengah serupa Agustinus Wibowo, tidak menjelajahi Amerika Selatan seperti Trinity, tidak juga mengelilingi dunia dalam 80 hari laiknya tokoh dalam novel Jules Verne. Saya hanya duduk di ruangan seluas dua kali luas sebuah makam. Duduk sambil sesekali membaca, mendengarkan, dan melihat hal-hal yang ada di sekitar.

Kendati kaki saya tidak melangkah ke mana-mana, tapi saya selalu berusaha mengaktifkan akal dan nurani. Kemudian saya teringat perihal anggota-anggota DPR yang sering bepergian ke luar negeri tapi doyan korupsi, pemimpin-pemimpin negara yang telah berkeliling dunia tapi bengis dan zalim, pula tentang wisatawan-wisatawan yang gemar berfoto-foto di berbagai tempat eksotis di penjuru dunia tapi masih buang sampah sembarangan.

Ini membuat saya bertanya-tanya: sungguhkah perjalanan membuat kita lebih baik? Bisa iya, bisa tidak. Yang jelas, seseorang bisa menjadi lebih baik—apa pun definisi ‘lebih baik’ menurutmu—dengan selalu menyalakan hati dan pikirannya. Dan ia tidak mesti melancong ke tempat tertentu. Untuk itu, saya menawarkan hal ini: seni tidak pergi ke mana-mana. Cukup berdiam di kamar kos, rumah kontrakan, atau tempat tinggal masing-masing. Buka mata, telinga, dan terutama pikiran. Perhatikan sekeliling. Baca segalanya. (*)

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2021 oleh

Tags: Bodo AmatMark MansonPatrick StarSeni
Erwin Setia

Erwin Setia

Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

ArtikelTerkait

Di Balik Keluguan Patrick Star, Ada Jiwa Diktator dalam Dirinya Saat Jadi Pemimpin terminal mojok.co

Di Balik Keluguan Patrick Star, Ada Jiwa Diktator dalam Dirinya Saat Jadi Pemimpin

13 Juli 2021
safety can be fun masa bodoh

Safety Can Be Fun dan Masa Bodoh dengan Warung yang Buka Blak-Blakan Saat Puasa

22 Mei 2019
Berkenalan Lebih Dekat dengan Seni Vektor, Kado Unik yang Lagi Naik Daun Terminal Mojok

Berkenalan Lebih Dekat dengan Seni Vektor, Kado Unik yang Lagi Naik Daun

7 Januari 2021
curhat

Kepada Temanku yang Sering Curhat: Maaf Aku Sudah Bodo Amat!

9 Juli 2019
Belajar Sulap lewat YouTube Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan terminal mojok.co

Belajar Sulap lewat YouTube Adalah Hal Sia-sia yang Pernah Saya Lakukan

27 November 2020
Deretan Alat Gambar yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kalangan Mahasiswa Jurusan DKV

Deretan Alat Gambar yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kalangan Mahasiswa Jurusan DKV

10 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
Kembaran Bukan Purwokerto, Jangan Disamakan

Iya Saya Tahu Purwokerto Itu Kecamatan Bukan Kota, tapi Boleh Nggak Kita Santai Saja?

28 Maret 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026
Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
3 Alasan Stasiun Jombang adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

3 Alasan Stasiun Jombang Adalah Tujuan Paling Rasional Menuju Malang Barat dibanding Stasiun Malang Kota

29 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Keluarga di Rumah Kecil-Sekadarnya
  • Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja
  • User Kereta Ekonomi Naik Bus Sumber Selamat karena Tak Ada Pilihan: Kursi Lebih Nyaman, Tapi Dibuat Hampir Pingsan
  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.