Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Cara Makan Itu Soal Selera, Ngapain Diperdebatkan, sih?

Indah Setiani oleh Indah Setiani
17 Februari 2021
A A
Cara Makan Itu Soal Selera, Ngapain Diperdebatkan, sih Terminal mojok
Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa hari lalu di Twitter sampai ramai perdebatan antara Chef Arnold dan Uda Ivan Lanin soal bubur diaduk dan nggak diaduk. Ih, waw. Antara si tukang racik makanan dan si ahli bahasa berdebat dan mengundang para netizen garis keras untuk ikut berargumen soal cara makan bubur mana lebih benar, diaduk atau nggak diaduk.

Perdebatan-perdebatan yang hampir sama dengan mana yang lebih enak antara Indomie atau Mie Sedaap. Mana cara makan yang benar, makan soto nasi dicampur atau dipisah. Sebenarnya rujak dicocol atau bumbu kacangnya disiram di atas buah. Yah, hal yang awalnya lucu-lucuan ini lama-lama jadi lebih berisik dan saling caper saja. Sudah mirip sama pendukung cebong kampret.

Perdebatan yang dibumbui filosofi-filosofian ini seperti sebuah prinsip yang menentukan mau ke mana arah bangsa ini. Berdebat seakan dapat menjadi solusi untuk membayar utang negara yang terus bertambah. Atau dengan cara makan yang benar versi mereka seakan bisa mencegah tertular virus Covid-19. Halah~

Apakah saya terlalu serius menanggapi perdebatan-perdebatan tersebut? Iya. Bagi saya, awalnya lucu mengikuti perdebatan-perdebatan tersebut. Namun, karena terlalu sering lama-lama jadi ngebosenin. Jokes yang terlalu sering dilemparkan lama-lama terasa kayak polusi udara.

Saya pernah mengalami perdebatan soal cara makan ini. Suatu pagi, saya sarapan bubur dengan seorang teman yang kebetulan tim bubur ayam nggak diaduk, sementara saya makan bubur ayam diaduk. Langsung saja saya mendapat siraman rohani dari teman saya bahwa makan bubur diaduk seperti penistaan terhadap bubur ayam. Makan bubur ayam diaduk tanda bahwa saya nggak menghargai keeleganan karya seni dari si tukang bubur.

Separuh kesal saya bertanya pada si tukang bubur, “Bang, makan bubur ayam yang bener gimana, sih?” Si tukang bubur ayam yang sedari tadi mengikuti ceramah teman saya sambil melayani pembeli lain cuma bisa senyum-senyum. “Bang, gimana? Kan abang yang bikin bubur ayamnya, nih. Ada panduannya nggak?” tanya saya setengah mendesak blio. Si tukang bubur ayam cuma menjawab, “Ya gimana enaknya aja, Neng.”

Balik saya yang menyiram teman saya dengan kenyataan bahwa si abang penjual yang meracik bubur ayam dengan tetesan keringatnya nggak peduli bagaimana cara kita makan bubur ayam. Yang mereka pedulikan adalah bagaimana dagangannya laku, bisa bawa pulang duit yang banyak biar bini di rumah nggak uring-uringan bayar sekolah anak, token listrik, atau supaya nggak diusir dari kontrakan!

Perdebatan soal cara makan yang benar jadi nggak penting, apalagi berimbas khusus bagi para tukang penjaja makanan. Perdebatan kita nggak otomatis membuat mereka jadi sultan atau mendadak naik haji. Perdebatan kita nggak otomatis membuat mereka jadi pemimpin tertinggi sekte aliran. Nggak gitu!

Baca Juga:

Login Elegan, Logout Elegan: Sebuah Kiat Menang Debat di Media Sosial

Bebas Mau Bilang Musik Haram atau Tidak, yang Penting Jangan Jotos-jotosan

Lalu, apakah saya tim bubur ayam diaduk? Tentu saja nggak. Saya nggak peduli makan bubur ayam diaduk atau nggak, makan soto nasinya dicampur atau dipisah, lebih enak Indomie atau Mie Sedaap, dan perdebatan lainnya soal makanan. Bagi saya, makan adalah bagian dari cara bertahan hidup, karena menghadapi hidup yang nggak pasti ini butuh banyak energi. Belum lagi tambah ribet dengan persoalan benar atau nggaknya cara makan kita.

Ada masanya tergantung mood makan bubur ayam diaduk atau nggak diaduk. Lagian, menikmati makanan dengan cara yang sama selama bertahun-tahun apa nggak membosankan? Sesekali coba keluar dari zona yang kita anggap benar supaya kita tahu apakah benar kita sudah melakukan cara yang benar? Atau jangan-jangan kita sok-sokan saja demi sebuah pengakuan?

Makanan yang masuk lewat mulut hanya perlu dinikmati untuk kemudian disyukuri dan semoga menjadi berkat dalam menjalani hidup. Tuhan sudah baik memberi kita makanan yang enak-enak, eh kok malah ribut.

BACA JUGA Ngapain sih, Peduli Amat Soal Cara Makan Burger yang Bener! atau tulisan Indah Setiani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2021 oleh

Tags: cara makandebat
Indah Setiani

Indah Setiani

Seorang penikmat seni yang sedang menyesuaikan ritme dengan Jakarta. Menghabiskan waktu luang dengan berpindah dari galeri ke buku, atau dari film ke tempat tidur.

ArtikelTerkait

Kebiasaan Minum Kopi Hitam Panas Setelah Makan Adalah Kebiasaan Paling Aneh Yang Pernah Ada terminal mojok

Minum Kopi Hitam Panas setelah Makan Adalah Kebiasaan Paling Aneh yang Pernah Ada

16 September 2021
makanan pedas

Menanggapi Tulisan Kecap Manis yang Terdiskriminasi: Makanan Pedas Lebih Nikmat dengan Kemurnian Rasanya

4 Agustus 2019
Arteria Dahlan Tak Layak Dapat Gelar Terhormat Bukan Karena Cucu PKI terminal mojok.co

Memang Cuma Yang Terhormat Arteria Dahlan CS yang Tahu, Lainnya Tempe

10 Oktober 2019
polemik sains debat sains facebook goenawan mohamad as laksana sulak alay di facebook

Sebuah Debat Panjang ‘Polemik Sains’ Sedang Terjadi di Facebook

5 Juni 2020
5 Tips Berdebat di Media Sosial agar Terhindar dari Debat Kusir terminal mojok

5 Tips Berdebat di Media Sosial agar Terhindar dari Debat Kusir

6 Agustus 2021
Login Elegan, Logout Elegan: Sebuah Kiat untuk Menang Debat di Media Sosial

Login Elegan, Logout Elegan: Sebuah Kiat Menang Debat di Media Sosial

16 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya Mojok.co

Toyota Fortuner Mobil Mahal yang Jadi Terlihat Murahan karena Cara Berkendara Pengemudinya

23 Februari 2026
Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli terminal

5 Takjil Red Flag yang Bisa Membahayakan Kesehatan Pembeli

24 Februari 2026
Bakpia Kukus Tidak Layak Pakai Nama Bakpia Asli Jogja (Unsplash)

Bakpia Kukus Tidak Layak Menyandang Nama “Bakpia” karena Ia Bolu Kukus yang Mengaku sebagai Kuliner Asli Jogja

21 Februari 2026
5 Barang Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek-merek yang Sudah Besar Mojok.co

5 Produk Private Label Indomaret yang Ternyata Lebih Unggul Dibanding Merek yang Sudah Besar

25 Februari 2026
Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

Flyover Kalibanteng: Labirin Aspal yang Lebih Ruwet daripada Alasan Putus Mantan Saya

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria
  • Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental
  • Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros
  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.