Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Cak NUR Benar, Baiknya HMI Dibubarkan Saja

Ahmad Faisal oleh Ahmad Faisal
11 Februari 2024
A A
Cak NUR Benar, Baiknya HMI Dibubarkan Saja

Cak NUR Benar, Baiknya HMI Dibubarkan Saja (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“HMI sebaiknya dibubarkan saja, agar tidak menjadi bulan-bulanan dan dilaknat.”

 Nurcholish Madjid

05 Februari datang kembali. Pertanda, genap 77 tahun usia Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mengusung komitmen kebangsaan dan keindonesiaan sejak kelahirannya, HMI mendeklair diri sebagai organisasi perjuangan dan kekaderan. Tapi apakah benar kedua komitmen tersebut masih ada di dalam tubuh HMI? Dan apakah saya sepakat dengan kata-kata Cak Nur tadi?

Ada yang bilang, kalau HMI memiliki kontribusi besar dalam perjalanan panjang republik ini. Tapi ya, namanya perjalanan panjang, tentu hal positif dan negatif selalu jalan beriringan. Sayangnya, kontribusi positif yang diberikan oleh HMI hanya tinggal romantisme masa lalu. Hanya menjadi mantra pemikat untuk merekrut anggota baru. Sementara yang negatif terpampang nyata di depan mata.

Saat komitmen keumatan dan kebangsaan yang HMI agung-agungkan ditagih oleh rakyat, kader-kadernya malah sibuk berseteru memperebutkan kekuasaan. Sibuk menjadi tim pemenang caleg. Sibuk bermanuver untuk memenangkan kandidat capres-cawapres.

Di mana HMI saat konstitusi republik ini di obok-obok oleh Jokowi dan kolega, saat ramai civitas akademika turun gelanggang dan berani bersuara mengkritik politik cawe-cawe Jokowi, yang dianggap menyimpang dari prinsip moral demokrasi?

Di mana suara HMI, yang katanya harapan masyarakat Indonesia? Terakhir, di mana komitmen kebangsaan dan keumatan yang dibangga-banggakan itu?

Rupanya komitmen HMI telah berganti rupa. Keumatan dan kebangsaan kini menjadi komitmen untuk dekat kekuasaan. Lalu, apalagi yang tersisa? Independensi, yang katanya harta berharga milik HMI satu-satunya?

Ooo, jangan salah, Bos, barang tersebut telah lama digadaikan kepada para pemilik modal dan para penguasa.

Kongres HMI yang isinya “pertempuran”

Bukti dari tuduhan saya ini, bisa kita lihat pada setiap perhelatan Kongres HMI. Konon, kongres yang dahulu sering melahirkan gagasan visioner, sekaligus tempat melahirkan rekomendasi untuk keberpihakan kepada umat dan perbaikan bangsa. Kini tidak lagi. Arena itu tak lagi sesak dengan perkelahian gagasan. Kongres HMI hari ini hanya menjadi tempat pemodal dan penguasa untuk transaksi jual beli suara cabang. Bukan lagi yang paling kritis dan yang paling intelek yang dicari untuk menakhodai HMI. Tapi yang paling kuat bekapan dana dan yang mendapatkan restu istana.

Baca Juga:

Hal-hal Menyebalkan yang Hanya Bisa Dipahami Mahasiswa UIN SAIZU Purwokerto

Organisasi Karang Taruna Nyatanya Tak Lebih dari Pelengkap Acara Hajatan dan Ladang Cari Suara Politik

Kongres ke-32 di Pontianak baru-baru ini misalnya. Sama sekali tidak ada perkelahian gagasan untuk keberlangsungan lembaga. Yang ada hanyalah perkelahian fisik karena keinginan-keinginan pragmatis tidak terpenuhi. Yang ada hanyalah jual beli suara, yang ada hanyalah pamer kemeja dan sepatu. Terakhir, yang ada hanya kalkulasi berapa duit yang habis, dan bagaimana cara untuk mengembalikannya.

Anak HMI mana yang bisa menampik kebenaran ini?

Tidak ada cuan, tidak ada surat rekomendasi

Saya hampir sepuluh tahun ber-HMI, paham betul praktik-praktik pragmatisme kawan-kawan dalam setiap perhelatan akbar HMI. Setelah era Cak Nur, perhelatan kongres ke kongres hampir tidak ada yang berubah. Tidak ada cuan, tidak ada surat rekomendasi.

Praktik-praktik pragmatis ini, juga sangat berdampak pada proses perkaderan HMI. Dampaknya sangat buruk. Pertama, pola perkaderan yang monoton, sama sekali tidak ada kebaruan. Tidak lagi menjadi penjawab tantangan zaman. Kedua, proses seleksi untuk mengikuti kader lanjutan (LK2) sudah tidak melalui penyaringan yang ketat. Hampir ada lagi proses seleksi secara objektif yang mengedepankan kualitas. Sudah sangat jarang kita temukan calon peserta LK2 dipulangkan karena tidak lulus screening test.

Intermediate Training (LK2) yang konon adalah forum sakral, sekarang hanya menjadi forum formalitas untuk memenuhi persyaratan menjadi pengurus harian. Atau formalitas untuk mendapat legitimasi menjadi narasumber dalam forum-forum perkaderan. Intermediate tidak lagi menakutkan seperti dahulu, tidak ada lagi syarat menyelesaikan minimal lima puluh buku agar dapat mengikutinya.

Hari ini, untuk menjadi peserta forum intermediate syaratnya tidak lagi sefilosofis dulu. Kader-kader HMI hanya membutuhkan mandat dari cabang asal untuk menjadi peserta Intermediate. Dan syarat itu sangat mudah dan pragmatis, cukup dekat dengan kanda. Perkara layak atau tidak itu bukan urusan peserta, melainkan lobi dari kandanya.

Bayangkan kalau urusan perkaderan di HMI saja selesai hanya dengan modal lobi. Meski tidak semuanya, tapi hampir semuanya.

Akui saja

Perkaderan tidak lagi menjadi jantung organisasi, yang ketika ia berhenti berdetak, maka kehidupan organisasi mati. Perkaderan hanya menjadi batu loncatan untuk jabatan-jabatan pragmatis setelahnya. Menjadi komisioner KPU misalnya. Atau berkarir di PB agar dekat dengan kekuasaan.

Sudahlah, lebih baik kita mengakui saja, organisasi ini memang telah jauh keluar dari reel perjuangan. Sudah sejak lama organisasi ini meninggalkan khittahnya, khittah perjuangan. Organisasi ini mengidap penyakit kronis stadium akhir. Tidak ada lagi harapan untuk sembuh.

Pada kondisi HMI yang kian hari, kian memprihatinkan. Barangkali kita perlu menengok kembali pernyataan Nurcholish Madjid. Cak Nur cendekiawan kenamaan Indonesia, yang juga mantan ketua PB HMI menjabat dua periode, pernah menyarankan agar baiknya HMI dibubarkan saja. Tepatnya dalam seminar kepemimpinan dan moralitas bangsa di Jakarta 13 Juni 2002.

Ungkapan ini bukan ungkapan kebencian sang guru bangsa Cak Nur. Ini adalah bentuk kecintaan Cak Nur kepada HMI. Daripada menjadi bulan-bulanan dan dilaknat lebih baik HMI dibubarkan saja. Mencintai HMI tidak harus menutup mata dengan kondisi hari ini.

Bukankah hierarki tertinggi dalam mencintai adalah siap menerima kritik. Dan “kritik adalah jalan untuk mencapai puncak kemanusiaan”, kira-kira begitu pesan Fazlur Rahman Malik, seorang pemikir modernis yang reformis. Yang tak lain adalah guru Nurcholish Madjid. Sudah saatnya kita berhenti mengagungkan kebesaran masa lalu.

Saya sepakat dengan mendiang Cak Nur, baiknya HMI dibubarkan saja.

Penulis: Ahmad Faisal
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Mengenal GMNI dan HMI, Organisasi Ekstra Kampus yang Diikuti Ganjar dan Anies Saat Mahasiswa

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2024 oleh

Tags: bubarcak nurHMIorganisasi
Ahmad Faisal

Ahmad Faisal

Alumni HMI yang kelamaan menunggu panggilan Bahlil, akhirnya pulang kampung menjadi petani.

ArtikelTerkait

4 Keunikan UIN SAIZU Purwokerto yang Nggak Ada di Kampus Lain purwasera uin saizu

Hal-hal Menyebalkan yang Hanya Bisa Dipahami Mahasiswa UIN SAIZU Purwokerto

22 Agustus 2025
Bangkalan Kabupaten Seribu Ketua: Organisasinya Banyak, Perubahannya Nol

Bangkalan Kabupaten Seribu Ketua: Organisasinya Banyak, Perubahannya Nol

12 Januari 2024
Kata Siapa Jadi Contact Person CP Sebuah Acara Itu Enak, Justru Stok Sabarnya Harus Ekstra terminal mojok

Kata Siapa Jadi Contact Person (CP) Sebuah Acara Itu Enak? Justru Stok Sabarnya Harus Ekstra!

17 Juli 2021
Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

17 Agustus 2022
jam malam

Mempertanyakan Aturan Jam Malam Kalau Lagi Rapat Proker Organisasi

28 April 2020
Divisi Konsumsi, Divisi yang Layak Diapresiasi dalam Tiap Acara terminal mojok

Divisi Konsumsi, Layak Diapresiasi Tinggi dalam Tiap Acara

24 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Makanan Malang yang Membuat Saya sebagai Perantau Kecewa, Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian Mojok.co

Makanan Malang yang Bikin Pendatang seperti Saya Kecewa, Memang Sebaiknya Jangan Pasang Ekspektasi Ketinggian

1 April 2026
Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal Mojok.co

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 
  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.