Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Bukber Itu Cuma Akal-akalan Kapitalisme, Kalian Cuma Dibodohi, dan Anehnya, Kalian Nurut!

Ahmad Dani Fauzan oleh Ahmad Dani Fauzan
4 Maret 2026
A A
Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman Mojok.co

Saya Kapok Ikut Bukber! Cuma Kenyang Dipameri Lanyard Kantor dan Kesuksesan Teman-teman (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Bagi sebagian orang, bukber adalah momen yang nggak boleh sampai terlewat ketika bulan Ramadan datang. Alasannya beragam. Ada yang alasannya pengin kumpul-kumpul bareng circle, kangen dengan teman masa sekolah, atau bahkan sekadar mencari suasana baru di luar rumah.

Selama hidup 22 tahun ini, berapa kali saya ikut bukber bisa dihitung jari. Kalau ikut pun, itu ya karena menggugurkan kewajiban moral sebagai “teman yang loyal” dan dekat dengan rumah saja. Selain itu, saya lebih memilih nggak menghadiri.

Tentu saja bukan karena saya nggak suka ngumpul bareng teman-teman. Toh, saat sudah ngumpul pun, setelah bukber orang-orang biasanya sibuk sendiri-sendiri. Kenapa nggak bukber via virtual saja kalau begitu?

Namun, lebih dari itu, ada satu hal yang belakangan saya sadari dari trend ini. Sebetulnya, kita sedang dibodohi oleh sistem kapitalisme dengan mengikuti trend bukber, supaya dompet terkuras habis.

Bukber mengubah ibadah jadi sekadar agenda konsumsi doang!

Sebetulnya, yang ingin saya kritisi di sini adalah persoalan bukber yang memerlukan proses ribet bin ruwet. Misalnya, kudu menentukan tempat yang strategis lah, mewah lah, spotnya bagus lah, dan segala macam keruwetan lainnya yang dapat menggeser nilai “bukber” itu sendiri.

Ramadan itu seharusnya menjadi momen buat nahan diri. Ironisnya, dengan bukber, Ramadan malah jadi festival buat ngobral nafsu makan dan belanja.

Lihat saja, saat bukber, kita yang mestinya dilatih buat sederhana, malah mendadak jadi pemburu paket, katakanlah, all you can eat. Restoran dan rumah-rumah makan lainnya jadi penuh, bahkan, kalau ada rumah makan yang biasanya sepi, saat Ramadan mendadak bikin semacam paket spesial Ramadan.

Yang saya bingungkan, emang kita beneran perlu, ya, sama 7 macam menu takjil hanya buat sekadar membatalkan puasa? Itulah mengapa Ramadan bisa saja sebatas menjadi ajang promo paling menggiurkan, dan menghilangkan nilai ibadahnya.

Baca Juga:

Bagi-bagi Takjil yang Niatnya Mulia tapi Kadang Bikin Jalanan Jadi Macet dan Ricuh

Ternyata Bulan Puasa dan Lebaran Tidak Lagi Sama Setelah Orang Tersayang Tiada, Tradisi Banyak Berubah dan Jadi Nggak Spesial

BACA JUGA: Bukber Berkedok Reuni Itu Seperti “Scam”: Adu Outfit, Adu Gaji, Adu Kerjaan, Ujung-ujungnya Adu Nasib

Serangan psikologis saat bukber di luar rumah

Sebetulnya yang saya tulis di atas juga bisa terjadi di rumah. Tapi, saat bukber, potensi terjadinya bisa lebih besar.

Begini. Saat kita bukber di luar rumah, terutama di tempat-tempat makan yang menyediakan berbagai macam penganan, otak kita dipaksa untuk mengalihkan perhatian pada berbagai macam makanan tersebut. Bagaimana tidak, setelah seharian puasa, tentu saja yang kita pikirkan nggak bakal lepas dari “kalau buka nanti, aku mau pesen yang enak, mumpung lagi di luar”.

Saat berpikir seperti itulah, sebenarnya kita ditipu oleh otak sendiri. Yang kita butuhkan buat buka puasa itu nggak sebanyak yang kita inginkan. Buktinya, terkadang saat kita beli takjil untuk buka puasa di rumah, banyak yang nggak kemakan bahkan dibuang-buang, kan?

Kita menginginkan berbagai macam makanan karena ada banyak pilihan yang dapat dilihat saat bukber di luar rumah. Itu mengapa kita jadi pengin nyicip semuanya. Coba kalau di rumah saja, tentu yang kita jadikan santapan buka puasa, ya, yang sudah tersedia di meja makan.

FOMO jadi senjata paling halus yang digunakan kapitalisme

Yang paling mengerikan, saudara-saudara, FOMO (takut ketinggalan) adalah senjata yang digunakan kapitalisme untuk menjebak seseorang. Kondisi FOMO sering sekali bikin orang rela keluar uang yang sebenarnya nggak pernah mereka anggarkan.

Belum lagi, biasanya, setelah bukber masih kudu melaksanakan ritual wajib semacam fotbar kemudian up di story. Ini menjadikan bukber semacam panggung pembuktian, bahwa orang-orang yang ikut bukber itu punya hubungan sosial yang baik.

Menurut saya, hal semacam ini menjadi masalah. Bukber kemudian dapat menciptakan tekanan bagi seseorang. Kalau nggak dateng, nanti dibilang ansos. Kalau nolak, dibilang nggak solid. Akhirnya, orang-orang datang ke acara cuma karena takut ketinggalan, FOMO, bukan karena mereka ingin.

Yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, dompet kita terkuras habis hanya untuk status sosial yang, sebenarnya, nggak penting-penting amat.

Akhirnya, saya ingin mengajak pembaca sekalian, terutama yang gemar menggelar acara bukber, untuk jujur pada diri sendiri. Sebenarnya, bukber yang kita lakukan selama ini nggak pernah sesederhana “kumpul-kumpul”. Lebih dari itu, ada banyak hal yang sebenarnya belum kita sadari sebetulnya justru menciptakan tekanan sosial.

Memang, kapitalisme itu nggak pernah melarang kita buat beribadah. Tapi, jangan lupa, kapitalisme ingin memastikan bahwa setiap ibadah juga harus punya versi komersialnya. Bukber, misalnya. Modaro!

Penulis: Ahmad Dani Fauzan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Alasan yang Bikin Saya Malas Datang Bukber, Bukan Cuma karena Jadi Ajang Pamer

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Maret 2026 oleh

Tags: buka puasa barengBukberFOMOKapitalismeRamadan
Ahmad Dani Fauzan

Ahmad Dani Fauzan

Pemuda asal Kota Tape Bondowoso. Tertarik memotret dan merenungi isu sosial. Bercita-cita punya Baitul Hikmah pribadi.

ArtikelTerkait

buruh

Curhatan Mantan Buruh di Bulan Ramadan

10 Mei 2019
Duka Penjual Ikan Hias Keliling di Malang Kala Ramadan, Hanya Ingin Laku agar Ada Uang untuk Lebaran

Duka Penjual Ikan Hias Keliling di Malang Kala Ramadan, Hanya Ingin Laku agar Ada Uang untuk Lebaran

21 Maret 2024
mahasiswa rantau

Menikmati Ramadan Sebagai Mahasiswa Rantau

22 Mei 2019
kedai kopi

Nasib Kedai Kopi di Bulan Ramadan

7 Mei 2019
Jadi Karyawan Startup di Jogja Itu Mimpi Buruk, Apalagi saat Bulan Ramadan. Gaji Nggak Seberapa, Hampir Nggak Ada Waktu untuk Sahur dan Buka Mojok.co

Karyawan Startup di Jogja Tersiksa, Apalagi Saat Bulan Ramadan. Udah Gaji Nggak Seberapa, Kesempatan untuk Sahur dan Buka Hampir Nggak Ada

4 April 2024
ngaji pasaran tadarus al-qur'an ramadan salat tarawih mojok

Ngaji Pasaran: Ngaji Kitab Kuning Instan di Bulan Ramadhan #TakjilanTerminal29

27 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo Mojok.co

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo

26 Maret 2026
5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial

30 Maret 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026
Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong Mojok.co

Derita Ngontrak di Jakarta Timur, Sudah Jadi Penyewa Tertib Tetap Diusir dengan Alasan Bohong

30 Maret 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

7 Indikator Absolut yang Membuat Purwokerto dan Salatiga Adalah Tempat Terbaik Untuk Slow Living di Jawa Tengah

1 April 2026
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja
  • Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi
  • Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.