Curhatan Mantan Buruh di Bulan Ramadan

Selepas berbuka saya dan kawan-kawan mencari mushola, saya tanpa sengaja melihat waitress yang berkeringat dan lelah—buruh saji itu nampak sedang sibuk.

Artikel

Lagu-lagu Islami memenuhi ruang telinga. Sejak dari bangun tidur hingga tempat perbelanjaan. Menjadi tanda-tanda yang membangun kesadaran saya, bahwa puasa telah tiba, puasa telah tiba, hore hore hore!

Ini adalah tahun pertama saya menjalani bulan Ramadan tanpa orang tua, karena saya memutuskan diri mengontrak bersama kawan aktivis seorganisasi. Kali pertama ini, saya dan kawan-kawan amatir seperkontrakan, harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini. Sahur dengan makanan apa adanya, belum lagi pengalaman sahur-sahur terbangun dalam kegelapan. Saya kira saya sedang berada di dunia lain, ternyata pulsa listrik sudah habis.

Beberapa hari puasa di kontrakan saya manfaatkan untuk melatih kepekaan hati saya, yang pernah membeku setelah ditinggalkan~

Saya menemukan gejala yang sama, baik di rumah maupun di rumah orang ini. Mulai dari sorak sorai kaum laki-laki yang membangunkan sahur lewat pengeras suara di masjid, sebab kaum perempuan sedang sibuk menyiapkan makanan untuk keluarga, hingga jalan-jalan yang macet di jam menjelang buka puasa.

Yang biasa terjadi juga adalah musik Islami yang diputar hingga memenuhi ruang telinga dan membekas dalam kalbu. Bangun tidur dengarnya musik Islami. Ke kampus musiknya musik Islami. Masuk ke minimarket, yang terdengar adalah musik Islami. Pergi ke tempat makan, musiknya juga musik Islami. Rasanya kuping ini sudah memenuhi kriteria kuping syariah, dan auto-hijrah uwuwuw~

Soal jalanan yang macet di jam-jam menjelang buka puasa, itu biasa terjadi. Apalagi kalau jalanan tersebut berada di dekat kampus. Tidak semua kampus, sih, karena kampus ku tidak begitu, mungkin mahasiswanya banyak yang i’tikaf di masjid kampus. Kecuali kampus si doi, sebut saja si Mas eaaaa, kampus elit dengan mahasiswa kelas menengah ke atas, nampak dari UKT yang berkali lipat dari kampus saya. Beuh ramainyaaa~

Setiap mendekati jam buka puasa, jalanan kampus si Mas selalu penuh dan sesak, hampir tidak ada ruang untuk bergerak. Seperti hatiku yang sudah penuh tertulis namamu, Mas~ Sebab keramaian itu, setahu saya adalah karena banyaknya menu berbuka yang dipajang di pinggir jalan, dan menarik orang yang melihatnya. Dulu, waktu saya jomblo dan belum ngontrak, amit-amit deh lewat jalan itu. Tapi kalau sekarang, asal sama si Mas, aku rela~

Nah, hal yang hampir saya pastikan terjadi pada pembaca yang budiman ialah ajakan buka bersama (bukber) ada di mana-mana. Baik oleh kawan sekolah, maupun kawan perguruan tinggi. Atau mungkin undangan bukber dari si mantan. Setahun yang lalu, saya juga mengalaminya, dan baru menyadari satu hal.

Ketika itu, saya dan kawan-kawan kelas di kampus melaksanakan bukber di salah satu rumah makan, yang harus dipesan jauh hari supaya tidak khawatir kehabisan tempat. Datanglah kami ke rumah makan tersebut. Saya melihat, rumah makan mengalami peningkatan jumlah pembeli di bulan Ramadan saat mendekati maghrib.

Setelah kami memesan makanan, maka tugas selanjutnya adalah dengan khidmat menunggu azan maghrib. Kekhidmatan tersebut terlihat dari fokusnya kami dalam membicarakan tugas kuliah, baju dan kerudung apa yang akan kami gunakan untuk lebaran, bercerita kisah dan kasih selama Ramadan. Nah, ketika azan berkumandang, sebagai penganut agama yang taat, kami secara bergilir menunaikan salat maghrib berjamaah.

Ketika saya dan kawan-kawan mencari mushola di rumah makan tersebut, saya tanpa sengaja melihat mbak-mbak waitress yang berkeringat dan tampak lelah. Saya berganti melihat sekumpulan waitress lainnya—buruh saji itu semua sedang sibuk.

Baca Juga:  Pesantren dan Spirit Ramadan ala Santri Kilatan

Ada yang sibuk mencuci, ada yang sibuk mengecek meja mana yang belum diantarkan makanan, ada yang sibuk membawa makanan dan minuman ke meja pembeli, ada yang sibuk membereskan makanan yang terserak di atas meja, ada juga yang sibuk menjawab pertanyaan pembeli “makanan saya mana kok belum datang?”

Aduh, bayangan wajah yang kelelahan dan penuh keringat itu memenuhi ruang imajinasi saya, bahkan ketika saya salat, sampai selesai salat, sampai sedang menikmati makanan yang sudah ada di meja sekalipun. Saya teringat masa senjang sebelum kuliah dulu, saya juga pernah menjadi buruh penjaga toko di salah satu pusat perbelanjaan ketika Ramadan.

Di bulan Ramadan, bulan penuh berkah ini, biasanya ada banyak lowongan kerja edisi Ramadan saja, seperti menjadi admin online shop, penjaga toko, buruh saji di tempat makan, ataupun pekerjaan lainnya. Sayapun pernah mencoba bekerja sebagai buruh penjaga toko yang capeknya, naudzubillah. Ogah saya disuruh begitu lagi. Enaknya jadi orang kaya yang tinggal ongkang-ongkang kaki terima duit saja, huh~

Selama sebulan bekerja, awal-awal Ramadan sih tidak terlalu ramai—masih bisalah menikmati kursi yang ada sambil menunggu pembeli. Tapi, kalau sudah mendekati akhir Ramadan, masyaAllah, jangankan duduk, mencari sempat untuk salat saja susah. Pembeli membludak beli baju model ini itu, dan inginnya supaya cepat-cepat dilayani.

Kadang, saking ramainya pembeli, buka puasapun harus di toko. Dengan jam kerja dari pukul 09.00-17.00 dan pembeli yang meningkat di akhir-akhir Ramadan, persiapan untuk menutup toko pun menjadi lebih terlambat. Tahu-tahu sudah azan maghrib. Sampai rumah rasanya ingin segera tidur aja. Duh Gusti, niatnya sih belajar kerja keras, merasakan kehidupan, eh ternyata kehidupan memang sangat keras kalau kamu tidak punya uang~

Kemarin, saya sempat bukber alias buka berdua dengan si Mas. Kami datang di tempat makan sekitar pukul 17.05. Saya sih sudah menebak, paling nanti makanan datang melebihi azan maghrib, melihat pembeli yang banyak, bahkan waktu mau masuk saja si Mas nanyanya, “masih ada tempat untuk dua orang?”. Dugaan saya benar, makanan baru datang sekitar pukul 18.00. Untungnya minuman sudah datang ketika azan berkumandang.

Ketika menunggu makanan, saya dan Mas sempat saling bilang, “makanannya kok ga datang-datang ya?”. Duh saya jadi teringat keringat mba-mba waitress yang dulu, deh. Apa buruh masaknya sedang kelelahan? Apa buruh sajinya sedang kewalahan? Sempat juga saya curhat ke Mas, “mereka sudah buka belum, ya? Buka pakai apa, ya?”

Baru juga bilang gitu ke Mas, eh meja sebelah udah ada yang manggil waitress yang lagi bersihin meja, nanya makanan mereka mana. Kan saya jadi membayangkan kalau saja yang jadi buruh saji itu saya. Apa bisa saya sabar menjawan pertanyaan yang terus berulang dari berbagai sudut meja? Wong dulu waktu jadi buruh toko aja, dalam hati malah doa “semoga nggak ada yang mau beli dulu, biar bisa istirahat.” Jangan-jangan saya juga menjadi bagian dari doa buruh saji itu, supaya tidak menjadi bagian dari orang yang membeli? Sayangnya jika iya, saya tidak termasuk bagian dari doa mereka yng terkabul.

Masa penantian di rumah makan, ataupun pelayanan di tempat umum, saya pikir bisa melatih cara kita untuk memanusiakan manusia lainnya. Melatih kita untuk mengerti mereka, sebagaimana mereka juga sedang bersusah payah untuk bisa melayani kita semaksimal mungkin.

Baca Juga:  Menikmati (Mirisnya) Mudik Dengan Kapal Laut, Tapi Saya Tetap Suka

Eh lah kok saya jadi kepikiran masjid sebagai media dakwah untuk memanusiakan manusia lainnya, ya?

Selain keringat buruh yang ada di balik menu di meja makan, atau keringat buruh di balik baju yang kita beli ketika bulan Ramadan itu, saya juga merasakan atomesfer yang sama antara masjid rumah dengan masjid sekitar kontrakan, yaitu jumlah jamaah masjid yang banyak di awal Ramadan, mulai dari tua hingga muda. Banyaknya jumlah jamaah ini, bisa menjadi “sasaran” misi pencerahan dakwah masjid, loh~ Belum lagi kalau ada anak kecil, calon pemimpin masa depan.

Biasanya, anak-anak, entah laki-laki ataupun perempuan, yang bukannya salat tapi malah lari-larian di masjid itu berada di shaff perempuan. Mereka selalu berhasil membuat saya deg-degan ketika sujud, khawatir kepala saya ketampol kaki mereka. Belum lagi kalau sudah ketendang, eh mereka ikut jatuh njelungup, kan kasian juga.

Kaum perempuanlah yang sibuk menasehati “Dik, jangan gitu! Ngga boleh nakal! Jangan lari-lari! Kalau masih nakal, kita pulang aja, ya?” Kalau sudah dinasehatin tidak bisa, maka, bersungguh-sungguhlah kaum perempuan itu menggendong si anak kecil untuk pulang ke rumah, sedangkan kaum laki-laki mana tau soal itu heu~ Saya percaya, tidak semua sih yang begitu. Ada juga laki-laki pengertian yang bawa anak kecil dan dengan sabar mendidik.

Saya pikir, tidak menjadi masalah sih anak-anak yang belum paham salat itu dibiarkan bermain di masjid. Yah walaupun tetap perlu untuk dididik, bahwa masjid itu tempat beribadah, bukan tempat njegal kepala orang yang lagi sujud.

Nah, memaknai ibadah ini, kan tidak sesempit hanya sebatas salat saja. Masjid juga bisa dijadikan basis pergerakan, pencerahan dan pencerdasan. Misalkan, menjadikan masjid sebagai ruang diskusi dan belajar. Adanya mimbar-mimbar di masjid bisa dijadikan alat untuk melawan dan membebaskan manusia-manusia yang tertindas. Apalagi kalau melibatkan anak muda dan anak-anak.

Ah, saya jadi membayangkan, jika mimbar-mimbar masjid itu selain digunakan untuk membangunkan orang sahur dan untuk mengimami orang salat, juga dipakai untuk membicarakan nasib buruh hingga perjuangan mendidik anak-anak untuk memanusiakan manusia lainnya. Atau bahkan sarana menasehati kita-kita ini untuk lebih bersabar di rumah makan atau di pusat perbelanjaan pas bulan Ramadan huhuhu~

Gejala barisan masjid yang semula penuh, sama penuhnya dengan jalanan sekitar kampus si Mas menjelang berbuka, lama-kelamaan semakin menyusut. Biasanya akan mulai ada celah dan kelonggaran di setiap shaff. Pengalaman saya dari tahun ke tahun, kelonggaran yang nyata itu disebabkan oleh perginya jamaah yang semula dari masjid menuju ke tempat perbelanjaan.

Biasanya sih antara ke swalayan untuk membeli jajanan menjelang lebaran, atau ke mall untuk membeli baju baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya. Perpindahan penduduk dari masjid ke pusat perbelanjaan itu, lagi dan lagi membawa saya ke masa lalu yang sangat melelahkan itu.

Lagi dan lagi, kalau misal ada tetangga yang tidak sabaran untuk dilayani, padahal sudah ngerti kalau buruhnya terbatas atau mungkin pembelinya membludak, rasanya saya ingin merebut mimbar masjid untuk menasehati “Mohon bersabar ini ujian, karena puasa itu yang ditahan bukan cuma haus dan laparnya saja, tapi juga hawa nafsu dan rasa egois dalam diri.”

Mari memaknai beragama secara progresif!

---
616 kali dilihat

4

Komentar

Comments are closed.