Kuliner Jogja manis itu bukan mitos. Bahkan sambal dan chinese food saja kena pengaruhnya
Beberapa bulan lalu saya sempat menulis cerita di Terminal Mojok tentang satu hal yang cukup mengganggu selama berada di Jogja, yaitu rasa sambalnya yang manis. Bukan sekadar manis tipis yang masih bisa dimaklumi, tapi manis yang benar-benar terasa dominan sampai kadang bikin saya bertanya-tanya, ini sambal atau saus karamel versi pedas?
Waktu itu saya mencoba berdamai. Saya berpikir mungkin itu hanya pengalaman sesaat. Mungkin saya salah pilih tempat makan. Atau mungkin lidah saya saja yang belum siap menerima kenyataan bahwa Jogja punya filosofi rasa sendiri.
Namun ternyata, cerita itu belum selesai.
Beberapa waktu lalu saya kembali lagi ke Jogja karena ada urusan. Kali ini saya datang dengan pengalaman dan strategi. Saya sudah berjanji pada diri sendiri: jangan asal makan. Jangan lagi berharap makanan lokal berubah mengikuti lidah pendatang.
Kalau makanan khas Jogja identik manis, berarti saya harus mencari makanan yang secara tradisi rasanya berbeda. Pilihan paling aman menurut saya waktu itu adalah Chinese food.
Logikanya sederhana. Masakan Chinese terkenal gurih, asin, kaya bawang putih, saus tiram, minyak wijen, dan aroma wok yang kuat. Rasa manis biasanya hanya muncul di menu tertentu seperti ayam asam manis atau koloke, bukan di hampir semua hidangan.
Dengan penuh percaya diri, saya berpikir: ini pasti aman.
Berburu Chinese Food Halal di Sekitar Malioboro Jogja
Karena aktivitas saya berada di sekitar Malioboro, pencarian pun dimulai dari area itu. Targetnya jelas: Chinese food halal, tempatnya meyakinkan, dan ini penting harganya tidak murah.
Saya sengaja memilih restoran yang terlihat serius. Tempatnya bersih, interiornya modern, pengunjungnya ramai, bahkan terlihat seperti destinasi makan keluarga dan wisatawan. Harga menunya pun cukup membuat saya optimis. Dalam pikiran saya, harga yang lebih tinggi biasanya berbanding lurus dengan rasa yang lebih autentik.
Saya pun memesan menu aman: nasi goreng seafood, capcay, dan ayam lada hitam. Menu klasik yang hampir mustahil gagal di restoran Chinese food mana pun. Setidaknya begitu menurut pengalaman saya di kota lain.
BACA JUGA: Makanan di Jogja yang Wajib Banget Dicoba Part 2
Suapan pertama yang mengubah segalanya
Makanan datang. Aromanya menggoda. Tampilan meyakinkan. Harapan saya kembali tumbuh. Saya mengambil sendok pertama nasi goreng seafood. Lalu berhenti. Ada sesuatu yang familiar. Bukan aroma bawang putihnya. Bukan rasa gurihnya. Tapi rasa manisnya.
Saya mencoba lagi, memastikan lidah saya tidak salah menilai. Namun hasilnya sama. Ada sentuhan manis yang cukup dominan, sesuatu yang tidak biasanya saya temukan pada nasi goreng Chinese food di kota lain.
Saya beralih ke capcay. Masih manis. Ayam lada hitam? Tetap ada rasa manis yang ikut bermain di belakang. Di titik itu saya hanya bisa tertawa kecil. Ternyata bukan cuma sambal yang berubah di Jogja. Bahkan Chinese food pun ikut menyesuaikan diri.
Saya akhirnya menyadari satu hal, jika kuliner itu hidup. Ia selalu beradaptasi dengan lingkungan tempatnya berada.
Restoran tentu tidak memasak hanya berdasarkan resep asli, tetapi juga berdasarkan selera mayoritas pelanggan. Jika sebagian besar pengunjung menyukai rasa manis, maka resep perlahan berubah mengikuti permintaan pasar.
Akhirnya lahirlah sesuatu yang unik Chinese food versi Jogja. Bukan sepenuhnya Chinese food tradisional, tapi juga bukan masakan lokal sepenuhnya. Ia adalah hasil kompromi antara identitas kuliner dan preferensi lidah masyarakat setempat.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Nasi Padang rasanya berbeda di tiap kota. Bakso Malang di luar Malang sering kali berubah karakter. Bahkan makanan cepat saji internasional pun menyesuaikan menu dengan selera lokal.
Jogja hanya melakukan hal yang sama dengan satu ciri khas yang sangat kuat: rasa manis.
Rasa manis yang diterima tanpa sadar
Banyak orang mengatakan bahwa rasa manis di Jogja bukan sekadar selera, melainkan bagian dari budaya. Ada gambaran tentang masyarakat yang halus, ramah, dan hangat, yang secara simbolik tercermin dalam rasa makanan.
Sebagai pendatang, saya awalnya menganggapnya sebagai tantangan lidah. Namun semakin lama, saya mulai memahami bahwa ini bukan soal benar atau salah. Dan mungkin itulah daya tarik Jogja. Kota ini tidak memaksa dirinya berubah demi pendatang. Justru pendatanglah yang perlahan belajar menyesuaikan diri.
Lucunya, setelah beberapa hari berada di Jogja, saya mulai terbiasa. Rasa manis yang awalnya terasa mengganggu perlahan menjadi normal. Bahkan ketika mencicipi makanan di kota lain setelah pulang, saya sempat merasa ada yang kurang. Mungkin lidah memang makhluk yang mudah beradaptasi.
Perjalanan kuliner ini akhirnya memberi saya pelajaran sederhana: di Jogja, jangan terlalu keras melawan rasa manis. Karena cepat atau lambat, kita bukan hanya menerima rasa itu—kita ikut memahaminya.
Jadi sekarang saya percaya satu hal. Di Jogja, bukan cuma sambal yang manis. Chinese food pun akhirnya ikut berubah rasa. Tanpa sadar, lidah saya juga ikut berubah bersama kota ini.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
