Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Budaya ‘Indie-indie Eksklusif’ Nyebelin yang Perlu Dihentikan

Nasrulloh Alif Suherman oleh Nasrulloh Alif Suherman
24 Agustus 2020
A A
lagu indie eksklusif senja dan kopi anak indie mojok.co

lagu indie eksklusif senja dan kopi anak indie mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Kaum indie zaman sekarang punya ciri khas yang gampang dikenali. Mulai dari jaket denim, kopi di genggaman tangan, rokok kretek, sembari ditemani senja dan lagu-lagu indie eksklusif miliknya. Yang biasanya, kalau kita dengerin dan nggak tahu apa yang dia nikmati maka dia merasa keren. Lalu, dengan semena-mena dia berkata “Lagu ini cuman gua yang tahu, sorry gua nggak denger lagu mainstream”. Rasanya pengin tak hihhhhh.

Beberapa tahun belakangan saya lihat banyak juga yang sudah mengkritisi perilaku menggemaskan yang dilakukan oleh para kaum senja itu, bahkan musisi-musisi yang dianggap panutan oleh mereka saja mulai gerah. Soalnya, ya, lama-lama nyebelin banget anjirrr. Apalagi yang soal selera musik, ini yang mau saya bahas lagi pada tulisan kali ini. Bismilahhh, baca dengan baik-baik teman-teman.

Tulisan ini saya buat karena melihat cuitan seorang musisi bernama Oslo Ibrahim di Twitter. Videonya bisa dilihat di sini. Cuitan yang berisi video singkat berdurasi hampir satu menit itu berisi tentang keresahannya soal DM yang masuk ke media sosial miliknya. Awalnya dia nggak risih, bodo amat lah dengan DM tersebut, tapi lama-lama kok makin nyebelin. Makin banyak DM yang intinya berharap supaya dia nggak jadi musisi terkenal. Iya, soalnya biar selamanya jadi aindi-indie eksklusif. Bukan jadimusik pop yang dinikmati hampir semua orang. Untuk yang ngirim DM tersebut, motivasi kalian tuh apa?

Behentilah menuruti ego agar terlihat edgy dan eksklusif. Asli, bukannya terlihat keren malah dongkol aja kalau keliatan pemikirannya begitu. Ayolah, ini udah zaman semuanya serba terkoneksi. Kalian ngelakuin hal konyol aja bisa viral, lah ini melarang musisi untuk terkenal agar lagunya senantiasa eksklusif dan tidak terjamah di telinga orang lain. Egois banget, Mylov, nggak bikin mereka kenyang dan malah cuman bikin kesal. Eling sia teh, eling!

Sekali lagi. Ayolah, stop budaya Indie-indie eksklusif berak itu. Para musisi itu bukan robot yang bisa memuaskan dahaga akan eksklusivitasmu. Masih keukeuh? Nih saya kasih tau pelan-pelan.

Pertama, mereka musisi dan ingin karya-karya miliknya didengarkan oleh banyak orang. Itu semua mimpi semua musisi, agar lagunya mengaung di udara dan menjadi legenda kelak. Mereka bukan sekadar karaokean untuk rilis stres, mereka itu ya seniman. Seniman macam apa yang menuruti kemauan kalian para indie-indie eksklusif yang egois. Di video Oslo Ibrahim juga, dia bilang kalau misalnya mendengarkan lagu membuat kalian merasa eksklusif mending nggak usah dengerin. Bikin lagu sendiri, berak.

Kedua, musisi itu nggak berfotosintesis kaya tumbuhan. Mereka butuh makan, dan itu realitanya. Mereka berkarya, berjaya dan uang adalah hal yang masih dibutuhkan oleh mereka. Buat apa? Ya buat hidup atuh lah, mikir sia teh. Memangnya kalau lagu itu indie nan eksklusif dan cuman kalian yang dengar, apa kalian membiayai hidupnya? Kalian bukan keluarga konglomerat yang bisa menghidupi seseorang. Nia Ramadhani yang segitu kayanya aja nggak terdengar mendengarkan lagu secara eksklusif.

Ketiga, lu siapa punya hak buat ngatur-ngatur? Orang tua juga bukan pakai segala ngatur hidup orang lain. Sampai ke aspek pekerjaan lagi. Semakin jadi indie eksklusif dan nggak terkenal, semakin musisi susah cari uang. Sudah egois, segala gaya sok indie-indie eksklusif. Miskin kaya bisa menghidupkan dompet dan kantong si musisi yang didengarkan. Mending ngatur dalam kebaikan, ini ngatur biar nggak terkenal. 

Baca Juga:

Mohon Dimengerti, Indie Itu Bukan Aliran Musik!

Bukan Lebih Diterima, Nasib Musik Indie Masih Sama Sejak Dulu

Iya sih, memang kita tahu kalau saat dengar lagu awal-awal dan lagunya booming berasa kaya pengin pamer “kemana aja lu, gua kemarin denger dibilang aneh”. Tapi, ya, nggak wajib jadi indie eksklusif. Namanya juga arus informasi kencang, tinggal nunggu kapan waktu viral. Apalagi lagu bagus. Merasa lebih baik boleh, tapi jangan merasa eksklusif dan memaksakan kehendak. Jangan kebanyakan ngopi, lambung dan egomu kasihan bro.

BACA JUGA Nex Carlos ‘Pesugihan Online’ Terbaik Mengalahkan Ludah Pocong dan Rebusan Celana Dalam atau artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2020 oleh

Tags: anak indieindustri musik
Nasrulloh Alif Suherman

Nasrulloh Alif Suherman

Alumni S1 Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta. Penulis partikelir di selang waktu. Sangat menyukai sejarah, dan anime. Kadang-kadang membuat konten di TikTok @waktuselang.

ArtikelTerkait

nggak suka ngopi

Saya Nggak Suka Ngopi, Apa Saya Nggak Boleh Jadi Anak Indie?

4 Juli 2019
kaos band

Tipe-Tipe Orang Berdasarkan Kaos Band yang Dipakai

13 Agustus 2019
Rekomendasi Anime yang Cocok Ditonton sama Anak Indie terminal mojok.co

Rekomendasi Anime yang Cocok Ditonton sama Anak Indie

23 Januari 2021
Bukan Lebih Diterima, Nasib Musik Indie Masih Sama Sejak Dulu terminal mojok.co

Bukan Lebih Diterima, Nasib Musik Indie Masih Sama Sejak Dulu

19 Februari 2021
Suka Duka Pakai Sandal Swallow 05 D, Sandal Sejuta Umat terminal mojok.co sandal jepit sehun exo

Suara Dari Aktivis Sandal Swallow

18 September 2019
Bung Fiersa

Sementara Kita Sibuk Mencerca, Saat Itu Bung Fiersa Justru Sedang Giat-Giatnya Berkarya

4 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas Mojok.co

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

6 April 2026
Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.